
![[Cerpen] Camilla](https://www.innalar.com/wp-content/uploads/2022/02/4151989132.jpg)
inNalar.com – “Uang bisa dicari, tetapi masa-masa bersama anak tak akan pernah bisa terbeli.”
Di sebuah danau yang riak airnya kecil dan tenang, aku duduk termenung memandangi jernihnya air yang memantulkan sinar matahari. Di depanku, terlihat induk angsa yang sedang berenang dengan beberapa anaknya.
Bahagia sekali menjadi mereka. Seperti tidak punya masalah, pikirku.
Di sisi lain danau, aku melihat terdapat beberapa anak kecil yang sedang berenang di tepian. Kepala mereka timbul tenggelam sambil menyipratkan air ke teman-temannya yang lain. Hal itu mengingatkanku akan peristiwa masa kecilku, tepatnya 20 tahun lalu. Di mana telingaku dijewer oleh ibuku karena mencoba untuk berenang di tepi danau padahal sebenarnya aku tidak bisa berenang.
Baca Juga: [Cerpen] Nak, Ibu Ingin Bekerja
Ya, keadaan sudah berbeda sekarang. Kataku sambil memandang anak kecil yang tidur di pangkuanku.
Lamunanku buyar ketika suamiku menghampiriku. Ia meminta maaf karena aku juga harus ikut menanggung beban ini. Dia mengatakan itu sambil menghela napas.
Aku tidak menjawab. Kupandangi kembali wajah anakku yang masih terlelap tidur. Kau juga seharusnya tidak bertanggung jawab atas kesulitan hidup ini, Nak. Maaf telah membawamu ke dunia ini dengan keadaan kami yang belum sepenuhnya mampu. Tapi kehadiranmu membuatku belajar menjadi orang tua yang harus siap dengan segala keadaan yang datangnya tanpa memberi aba-aba. Mungkin untuk sementara waktu ini, aku harus berupaya lebih keras lagi untuk membayar harga hidup di dunia yang semakin mahal ini.
Aku meminta izin kepada suamiku untuk berangkat besok.
Baca Juga: [Cerpen] Tukang Rias Wajah
Sejujurnya, aku sudah banyak lupa tentang bagaimana kehidupan di ibu kota. Semenjak anakku hadir di dunia ini, aku fokuskan seluruh jiwa ragaku untuk merawat malaikat kecil ini. Tapi hari ini keadaan memaksaku untuk kembali mengarungi kota yang kejam ini. Berbekal selembar lowongan kerja di tangan, aku mantapkan hatiku melangkah menuju gedung biru yang ditunjuk di alamat tersebut.
Aku terperangah ketika melihat banyaknya pelamar yang datang memenuhi ruangan di depan meja resepsionis. Seketika rasa percaya diriku turun drastis apalagi melihat penampilan mereka yang seperti anak baru lulus sekolah. Berbeda sekali denganku yang sudah beranak satu.
Aku memilih duduk di kursi yang berada di sudut ruangan agar tidak terlihat mencolok. Sambil menunggu untuk dipanggil oleh pewawancara, aku iseng bertanya ke perempuan di sebelahku. Dia mengenakan baju kemeja putih polos dan celana bahan berwarna hitam. Stelan khas orang yang mau diwawancara.
Baca Juga: [Cerpen] Demi Ketenaran
Aku bertanya kepadanya berapa usianya. Ia menjawab bahwa ia baru saja menginjak usia 19 tahun, sambil memanggilku dengan sebutan “ibu”. Dia tersenyum dengan agak gugup menjawab pertanyaanku karena mungkin melihat penampilanku yang memang terlihat paling dewasa di antara pelamar yang lain. Sebenarnya aku sedikit keberatan dipanggil ibu karena sedang tidak membawa anak.
Seketika nyaliku ciut. Aku harus bersaing dengan banyaknya pelamar fresh graduate. Sudah tentu perusahaan mencari bibit-bibit pekerja yang masih muda dan fisiknya masih kuat. Tapi melihat pengalamanku dulu bekerja, aku merasa sedikit terhibur. Yang berpengalaman biasanya yang paling dicari karena sudah memiliki keterampilan sebelumnya. Terlebih aku merupakan lulusan S1. Secara akademik, titelku lebih tinggi daripada mereka.
Satu persatu pelamar dipanggil oleh HRD untuk diwawancara. Tiba giliranku untuk memasuki ruang interview. Aku duduk di kursi di depan seorang pria berusia sekitar 50 tahun, sebuah meja panjang dari kayu menjadi pembatas kami. Pria yang diketahui bernama Pak Herman tersebut membuka pembicaraan dan meminta lembaran CV serta kelengkapan berkas lainnya.
Baca Juga: [Cerpen] Tabir
Aku menyerahkan map plastik berwarna putih transparan berisi berkas lamaran dan beberapa dokumen pendukung lainnya kepada Pak Herman. Ia terlihat mengamati lembaran-lembaran tersebut sambil sesekali membetulkan posisi kacamatanya. Ia terlihat heran melihat tanggal lahir di KTP-ku. Aku bisa menebak bahwa ia pasti kaget karena usiaku sudah 27 tahun. Keningnya berkerut.
Ia bertanya-tanya kenapa aku yang sudah beranak ini masih ingin bekerja. Aku menceritakan sekilas tentang alasan mengapa aku ingin kembali bekerja. Suamiku terkena dampak PHK, dan otomatis berpengaruh pada penghasilannya. Sedangkan anakku yang mulai beranjak usia 2 tahun masih butuh minum susu. Aku berusaha untuk menceritakannya dengan tidak terlalu menunjukkan kesedihanku agar aku tidak terkesan mengemis pekerjaan ini.
Selanjutnya tanpa aku duga ternyata Pak Herman menceritakan kisah istrinya yang dulu juga pernah bekerja ketika sudah memiliki anak. Memang hal itu membantu perekonomian mereka. Tetapi anak-anak mereka menjadi tidak dekat dengan ibunya sendiri karena sudah ditinggalkan bekerja sejak kecil. Anak-anaknya lebih dekat dengan baby sitter.
Baca Juga: [Cerpen] The Same Person
Anak pertamanya susah diatur, suka membangkang karena sejak kecil kurang perhatian dari ibunya. Oleh karena itu, beliau lebih suka menerima calon pegawai yang baru lulus, masih single, dan belum memiliki tanggungan karena menurutnya pikiran mereka masih terfokus untuk bekerja dan menghasilkan uang.
Tiba-tiba aku terpikir akan anakku. Padahal baru 3 jam sejak aku meninggalkan rumah, tapi aku sudah sangat rindu. Anakku selalu bersamaku sepanjang hari. Tidak terbayang kalau aku diterima bekerja dan harus meninggalkannya dari pagi sampai sore.
Pak Herman mengakhiri ceritanya dan mengizinkanku untuk pulang. Ia berkata untuk terakhir kalinya bahwa anakku lebih membutuhkanku. Aku meraih map putih transparan dari tangan Pak Herman. Setelah mengucapkan terima kasih, aku meminta izin untuk pamit.
Baca Juga: [Fiksi Mini] Minggu Horror Part 3: Pembongkaran Makam
Danau kecil favoritku sudah terlihat dari jalan raya. Aku turun dari angkutan umum. Kulihat suami dan anakku sudah menunggu sambil berteriak memanggilku. Anakku berlari kecil menghampiriku. Tangannya terangkat seakan-akan minta untuk digendong. Aku menghampiri dan memeluk anakku erat-erat. Tangan mungilnya menyentuh wajahku dan serta merta aku mencium pipinya yang chubby itu.
Mama tidak akan meninggalkanmu, Camilla.***
(Cerpen ini pernah dimuat di buku antologi kumpulan cerpen berjudul Gagal? Why Not?! Penerbit Sekolah Menulis Indonesia.)
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi