Ceramah Ramadhan 2022 Singkat, Tema Mungkinkah Ini Kesempatan Terakhirku? Cocok untuk Kultum 10 Hari Terakhir

inNalar.com – Ceramah berikut ini sangat tepat sekali digunakan untuk kuliah tujuh menit (kultum) atau khutbah Jumat di 10 hari terakhir Ramadhan 2022, mengingat bulan mulia ini tinggal menghitung jari dan akan segera pergi.

Tema kultum tersebut berkaitan dengan pertanyaan yang mengajak jamaah berpikir, mungkinkah Ramadhan 2022 ini adalah bulan mulia terakhir bagi dirinya? sebab tak ada yang dapat menjamin panjang umur manusia kecuali hanya Allah SWT.

Ceramah dengan tema tersebut diharapkan dapat menyadarkan para jamaah untuk lebih giat lagi dalam beribadah di akhir bulan mulia, puasa yang lebih waspada lagi jangan sampai ada hal perusak pahala membuat nilainya berkurang.

Baca Juga: Hari Bumi 22 April 2022 dan Beberapa Peristiwa Dunia di Waktu yang Sama, Ada Perjanjian Saragosa

Ataukah tadarus Al Quran yang sampai di mana? berapa juz telah dibaca? dan sudah berapa kali khatam?. Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya menyertai setiap orang Islam di akhir-akhir Bulan Ramadhan 2022.

Adapun tarawih yang dikerjakan, apakah sudah benar-benar dengan keimanan dan ihtisaban?, sebab keduanya merupakan syarat agar mendapatkan ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

Dikutip inNalar.com dari artikel Portal Jember berjudul “Kultum Ramadhan Singkat 2022 Tema Mungkin Ini Ramadhan Terakhir Kita” pada Rabu, 20 April 2022 ceramahnya ada pada materi.

Baca Juga: Presiden Jokowi Beri Penghargaan ke Wagiem, Sosok Penyapu Jalan di Ogan Komering Ulu, Sumsel

Materi Kultum

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ramadhan adalah bulan yang spesial. Ketika tiba Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu dan pahala dilipatgandakan.

Ramadhan adalah bulan yang berlimpah keberkahan. Permulaannya penuh dengan rahmah (kasih sayang). Pertengahannya sarat dengan maghfirah (ampunan).

Pungkasannya adalah kebebasan dari api neraka. Ramadhan adalah sebaik-baik bulan. Di dalamnya terdapat malam yang merupakan sebaik-baik malam, malam yang lebih utama daripada seribu bulan.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Idul Fitri Lengkap dengan Bacaan Niat dalam Bahasa Arab-Latin, serta Terjemahannya

Ramadhan adalah madrasah yang menempa seorang muslim menjadi insan yang dapat merasakan lapar dan dahaganya orang-orang fakir dan miskin.

Ramadhan mengajarkan sabar dan syukur. Karena orang yang berpuasa dituntut untuk sabar dalam meninggalkan seluruh perkara yang dapat membatalkan puasa.

Ia juga semestinya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan dan melakukan ibadah-ibadah di dalamnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Berbahagialah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu dosa-dosanya diampuni oleh Allah karena berbagai kebaikan dan ketaatan yang ia lakukan selama Ramadhan.

Baca Juga: Ratusan Calon Jamaah Haji 2022 dari Lumajang Batal Berangkat, Kemenag Beberkan Alasannya

Sebaliknya sungguh merugi orang yang diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, namun kesempatan itu ia sia-siakan. Kesempatan emas itu tidak dimanfaatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فِيهِ (رواه الطبراني وغيره)

Maknanya: “Sungguh merugi orang yang mendapati Ramadhan, tapi tidak diampuni dosanya” (HR. Ath-Thabrani dan lainnya)

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan waktu selama Ramadhan sebaik-baiknya. Kita isi dengan berbagai ibadah dan kebaikan. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir bagi kita. Mungkin kita akan berpisah selamanya dengan Ramadhan.

Sehat dan muda tidaklah dapat menunda kematian. Sakit dan tua juga tidak dapat mempercepat kematian. Kita tidak mengetahui kapan ajal mendatangi kita.

Baca Juga: Hikmah dan Keutamaan Orang Sakit Menurut Buya Yahya: Pengabulan Doa Akan Mudah

Marilah kita prioritaskan segala hal yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita. Apa saja yang bermanfaat untuk kebahagiaan akhirat? Jawabannya adalah takwa dan amal shalih.

Seseorang tidak akan mencapai derajat takwa dan tidak akan bisa melakukan amal shalih sebagaimana mestinya tanpa bekal ilmu.

Jadi kuncinya adalah ilmu dan amal. Kita bekali diri kita dengan ilmu agama lalu kita amalkan ilmu yang kita pelajari. Takwa dan amal shalih adalah buah dari ilmu dan amal.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Sebanyak apa pun urusan dunia kita, janganlah hal itu melalaikan kita dari urusan akhirat. Sesibuk apa pun kita, janganlah hal itu menghalangi kita dari mengumpulkan bekal untuk kebahagiaan abadi di akhirat.

Baca Juga: Jokowi Meresmikan Pengembangan Bandar Udara Trunojoyo Sumenep Madura

Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari. Artinya, urusan yang bersifat duniawi bisa ditunda, seakan-akan kita hidup selamanya.

Akan tetapi jika berkaitan dengan urusan akhirat, maka kita lakukan saat ini juga dan jangan ditunda, seakan-akan kita mati esok hari.

Mudah-mudahan semua amal kebaikan kita selama Ramadhan diterima oleh Allah, seluruh dosa kita diampuni oleh-Nya dan kita dipertemukan dengan Ramadhan pada tahun berikutnya.

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.***

(Selly Noverina/Portal Jember)

 

Rekomendasi