

inNalar.com – Salah satu proyek pembangunan besar Indonesia saat ini adalah program pemindahan ibu kota baru RI di IKN, Kalimantan Timur.
Proyek bernama IKN ini menjadi harapan bagi masyarakat dalam memeratakan pembangunan ekonomi sekaligus mengurangi kepadatan di Jakarta.
Megaproyek pemindahan ibukota ini mencakup beragam pembangunan dasar infrastruktur seperti jaringan air bersih, jalan tol, kantor pemerintahan dan fasilitas umum lainnya.
Baca Juga: Invest Dana Rp 6 Triliun, Mega Proyek Energi Bersih Pertamina di Bangladesh Diwarnai Dinamika
Berfokus pada pengembangan ekosistem yang berkelanjutan dengan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Untuk mewujudkan pemindahan ibukota ke IKN, setidaknya butuh dana sebesar Rp466 triliun sebagaimana diungkap oleh Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Juri Ardiantoro, melansir dari laman Nusantara.
Namun untuk mewujudkannya, pembangunan Ibu Kota Negara rencananya didanai melalui kombinasi beberapa sumber, salah satu keran duitnya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di samping itu, pendanaan Non-APBN pun dimainkan. Seperti halnya investasi swasta, kerja sama pemerintah dengan swasta (Public-Private Partnership), dan investasi langsung dari beragam pihak.
Dengan penggabungan antara APBN dan Non-APBN, proyek ini dinilai lebih mungkin dan mampu membiayai beragam proyek secara berkelanjutan.
Sebagai informasi, terdapat 28 proyek gedung dan hunian yang akan dikembangkan, 12 menara rumah susun untuk ASN dan TNI POLRI, serta 408 unit hunian yang dibangun oleh Brantas Abipraya.
Baca Juga: Sinergi Strategis BRI dan HIPMI Lesatkan Ekspansi Bisnis Pengusaha Muda Indonesia
Beberapa infrastruktur IKN yang sudah selesai, seperti Istana Negara, Istana Garuda, 15 ambung, Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan jaringan jalan.
Dengan fokus pada keberlanjutan dan efisiensi, pembangunan gedung dan hunian akan menjadi fondasi lingkungan yang modern dan nyaman.
Realisasi sebesar Rp 5,5 triliun pada tahun 2022, kemudian meningkat secara signifikan menjadi Rp 27 triliun pada tahun 2023.
Baca Juga: Dibela-belain Utang 200 Miliar USD, Megaproyek China di Malaysia Terancam Gagal: Sepi bak Kota Hantu
Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan (Menkeu) menjelaskan mengenai anggaran pembangunan IKN per Juli 2024 sebesar Rp 11,2 triliun.
Anggaran tahun 2025 sebesar Rp 143,1 miliar, total ini masuk ke dalam total anggaran pembangunan infrastruktur Rp 400,3 triliun tahun depan.
Hal ini pentingnya investasi swasta dalam memperkuat komitmen pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Dikutip melalui website IKN, pada groundbreaking Tahap VI terdapat lima badan usaha di sektor pendidikan dan riset.
Pelaksanaan yang dijadwalkan pada bulan Juni ini jadi tonggak signifikan dalam pengembangan IKN.
Dari Bina Bangsa School, Sekolah Internasional dan Sport Center dengan estimasi investasi sebesar Rp 150 Miliar.
Selanjutnya, Univesitas Gunadarma dengan Program Studi Doktor Internasional yang memiliki estimasi investasi Rp 75 Miliar.
Sekolah Islam Al-Azhar Summarecon Nusantara dengan nilai investasi sebesar Rp 150 miliar.
Selain itu, kolaborasi dari Pertamina dan Bakrie Group untuk membangun pusat riset energi di IKN, dengan nilai investasi sebesar Rp 197,8 miliar.
Terdapat tiga usaha sektor pendukung berpartisipasi dengan total investasi mencapai RP 1,75 triliun.
Untuk F&B dengan investasi Rp 100 miliar, sementara PLN Icon Plus mendirikan Central Telecommunication Office dengan investasi Rp 1 Triliun.
BTN yang akan mendirikan kantor perbankan dan pelaksanaan penandatanganan nota kesepahaman dengan investasi sebesar Rp 86 miliar.
Pada bulan Oktober, kembali dilaksanakan groundbreaking bersama lima investor asing swasta.
PT Plataran Boga Rasa yang membangun Teras Hutan IKN, AIS Property Asia membangun kawasan pendidikan, PT Primahotel Manajemen Indonesia yang akan membangun d’primahotel Nusantara.
PT Magnum Estate Internasional akan membangun kawasan hunian, dan PT Delonix Bravo Investment akan membangun kompleks komersial.
Untuk Total investasi dari peresmian groundbreaking ke-8 diperkirakan mencapai RP 1,57 triliun.
Ini didapatkan dari gabungan investasi yang melibatkan satu investor asing murni, dua kemitraan asing dan dua investor domestik.
Rosan Roeslani selaku Menteri Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Mengatakan jika ada para investor yang berminat untuk menanamkan modal di IKN.
Berasal dari dua perusahaan Singapura, China, Australia dan Rusia.***