

inNalar.com – Kabar baik mengenai pembangunan flyover di Simpang Muara Rapak di Balikpapan, Kalimantan Timur akhirnya muncul ke permukaan.
Simpang Muara Rapak Kota Balikpapan, Kalimantan Timur hingga saat ini dikenal sebagai jalan dengan angka kecelakaan yang tinggi.
Salah satu penyebab daripada banyaknya kecelakaan di jalan ini adalah karena dilewati oleh banyak kendaraan besar seperti truk yang membawa muatan dari kawasan industri.
Dilansir dari Bappeda Provinsi Kaltim, Jalan Soekarno Hatta, yang terhubung dengan simpang ini, merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan kota yang dijuluki sebagai Kota Minyak dengan Kawasan Industri Kariangau (KIK).
Selain itu, jalan tersebut juga menghubungkan ke Kawasan Industri Kilang Minyak PT Pertamina, Pelabuhan Semayang, dan Pasar Induk Pasar Induk Pandan Sari.
Dengan banyaknya aktivitas dari kendaraan-kendaraan besar dan juga lalu lintas dari warga biasa, kecelakaan terus berulang terjadi bahkan tidak jarang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.
Oleh karena itu, pembangunan pada Simpang Muara Rapak di Kota Balikpapan ini sangatlah dibutuhkan untuk mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas yang terus terjadi.
Sebelumnya, penanganan terhadap masalah ini sudah dilakukan oleh dinas terkait, yakni dengan memperlebar jalan.
Proyek tersebut sudah diselesaikan pada 30 Desember 2022 lalu dengan jalan yang diperlebar sepanjang 550 meter dengan biaya Rp13,28 miliar.
“Penanganan jangka pendeknya yaitu berupa pekerjaan pelebaran di badan jalan yang dilengkapi jalur penyelamat,” ucap Wida Nurfaida, Direktur Pembangunan Jalan Ditjen Bina Marga, sebagaimana dikutip dari Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Kalimantan Timur pada 28 Desember 2023.
Sebagaimana yang sudah disampaikan oleh Wida Nurfaida, apa yang dilakukan oleh pemerintah tersebut hanyalah penanganan jangka pendek.
Evaluasi ulang diperlukan agar dapat menemukan penanganan jangka pendek dan mencegah kecelakaan yang sudah sering terjadi.
Setelah dilakukan evaluasi lebih lanjut, flyover atau jalan layang dinilai dapat mengatasi persoalan di Simpang Muara Rapak di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Pembangunan jalan layang tersebut nantinya akan membutuhkan biaya kurang lebih Rp500 miliar.
Sebanyak Rp300 miliar akan digunkan untuk keperluan pembebasan lahan seluas 1,5 hektare dan merupakan wewenang dari Pemprov dan Pemkot.
Nantinya, lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur ini tidak hanya akan mengambil lahan masyarakat, namun, juga milik PT Pertamina.
Saat ini, kelanjutan dari proyek ini baru di SK-kan pada tahun 2023 dan belum masuk dokumen rencana pembangunan daerah tahun 2024-2026 yang sudah ditetapkan.
Agar proyek ini dapat masuk ke dokumen rencana pembangunan daerah tahun 2024-2026, maka, pemerintah harus membawa proyek ini ke tim anggaran dan perencanaan pembangunan daerah.
Tentunya, hal tersebut tidak hanya agar proyek jalan layang ini tercatat, namun, juga agar mendapat anggaran yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Meskipun begitu, flyover di Simpang Muara Rapak di Balikpapan, Kalimantan Timur ini sudah mendapat lampu hijau dan dipastikan akan dilanjutkan. ***