

inNalar.com – Tekait pengiriman senjata oleh Amerika Serikat (AS) kepada pihak Ukraina, ternyata sebelumnya telah dilaporkan medianya sendiri. Yaitu Washington Post, media tersebut telah melaporkan bahwa AS memasok persenjataan keras senilai ratusan dolar ke Ukraina.
Bahkan, pengiriman tersebut dilakukan AS sebelum Rusia melakukan serangan militernya, yaitu sejak Desember 2021.
Sebagaimana dilansir inNalar.com dari berita Pikiran-Rakyat.com berjudul “Media AS Telanjangi Negaranya, Bukti Ukraina Jadi Boneka Barat untuk Perang dengan Rusia Terbongkar”, AS masih saja mengelak soal pengiriman senjata ke Ukraina tersebut.
Sehingga, hal itu membuat negeri Paman Sam tersebut terlihat semakin menjadikan Ukraina sebagai boneka, Namun berdalih atas nama kemanusiaan.
Tak hanya itu, serupa dengan AS, Sekutu Barat juga melakukan hal sama. Mereka mengirimkan ribuan senjata berat ke Ukraina.
Washington Post mengabarkan jika AS menghimpun persenjataan dari Barat, seperti Inggris, Kanada, Polandia, dan Lithuania.
Total, ada 50 pesawat kargo yang membawa perangkat keras militer dari AS dan Barat sudah mendarat di Ukraina sebelum dimulainya operasi militer Rusia.
Memasuki bulan pertama 2022, sekitar 2.000 ton senjata modern, amunisi, dan alat pelindung dipasok ke Ukraina.
Baca Juga: Sudah Lulus Kuliah dan Belum Punya Pengalaman Kerja? Berikut 5 Tips Agar Mudah Mendapat Pekerjaan
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia lebih lanjut menyebut Inggris telah mentransfer lebih dari 2.000 unit persenjataan anti-tank.
Sebelum operasi khusus dimulai, Rusia sudah mengendus pasokan senjata tersebut. Mereka tegas mengatakan agar AS dan Barat menghentikan hal tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, Moskow beberapa kali meminta Uni Eropa dan NATO untuk menghentikan.
Rusia menyebut jika tindakan AS dan Barat memprovokasi rezim Kiev untuk memulai peperangan.
Apa yang dilakukan AS dan Barat saat itu mengancam risiko besar bagi penerbangan sipil dan sistem transportasi lainnya di Eropa dan sekitarnya.
Baca Juga: Berperan dalam Invasi Rusia ke Ukraina, Berikut Ini Profil Presiden Republik Chechnya Ramzan Kadyrov
“Penyelenggara pengiriman ini harus menyadari meningkatnya ancaman senjata presisi tinggi yang jatuh ke tangan elemen teroris dan formasi bandit tidak hanya di Ukraina, tetapi juga di Eropa secara keseluruhan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Maria Zakharova.
“Aliran senjata ini jatuh ke pasar ilegal dan ke tangan jaringan teroris, hanya masalah waktu saja. MANPADS menimbulkan bahaya besar bagi penerbangan sipil, dan ATGM untuk transportasi kereta api dan infrastruktur,” ucapnya.
Sebagai informasi, Rusia melancarkan operasi khusus di Ukraina pada 24 Februari 2022.
Operasi dilancarkan setelah Kiev gagal mengimplementasikan perjanjian Minsk dan menyelesaikan konflik di Donbass secara damai.
Situasi tersebut membuat Presiden Rusia, Vladimir Putin tidak punya pilihan lain selain bertindak.
Apa yang dilakukan militer Ukraina, AS dan Barat dalam berminggu-minggu melakukan penembakan terhadap Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk (DPR dan LPR) adalah salah besar.
Dengan adanya tindakan tersebut, dia memerintahkan pasukan Rusia untuk mendemiliterisasi dan men denazifikasi Ukraina.
Moskow juga telah berulang kali memperingatkan negara-negara Barat agar tidak mengirim persenjataan canggih ke Ukraina, dengan alasan bahwa hal itu akan membuat Kiev berani dan mendorongnya untuk mencoba menyelesaikan konflik di Donbass dengan menggunakan militernya.***
(Rizki Laelani/Pikiran-Rakyat.com)