

inNalar.com – Kalimantan Barat juga memiliki bangunan keraton peninggalan sejarah islam yang dulu pernah singgah ke Indonesia atau bisa disebut dengan Nusantara.
Jaman dulu Indonesia dijuluki sebagai daerah Nusantara yang memiliki hasil rempah-rempah yang melimpah salah satunya di Kalimantan Barat.
Bahkan Kalimantan Barat memiliki rempah mujarab yang digunakan untuk pijat dan urut bahkan terkenal hingga mancanegara.
Baca Juga: Indah Tapi Misterius, Pulau Eksotis Kep Talaud ini Ada Goa yang Simpan Ratusan Tengkorak Manusia
Perlu diketahui bahwa Kalimantan Barat merupakan daerah yang dihuni oleh suku dayak yang terkenal dengan kebudayaan yang beragama dan juga pengobatan tradisional yang bisa dilakukan oleh suku Dayak dan terjamin ampuh.
Terkenal dengan keberagaman budayanya tidak heran jika daerah tersebut juga memiliki peninggalan bersejarah yang sampai saat ini masih dijaga kelestariannya.
Salah satunya adalah Keraton Kadariah yang berada di Pontianak, diketahui bahwa bangunan keraton tersebut dibangun pada tahun 1771 sampai pada tahun 1778 Masehi.
Baca Juga: Rekor Jembatan Terpanjang di Indonesia Ternyata Ada di Kalimantan Timur, Punya Sistem Buka Tutup?
Pendiri dari bangunan keraton tersebut juga merupakan pendiri dari Kota Pontianak dan juga Kampung Arab yang ada di Kalimantan Barat.
Sultan pertama yang mendiami Keraton Kadariyah adalah Sayyid Abdurrahman Al-Qadrie, untuk keberadaan Keraton Kadariah ini berada di pusat Kota Pontianak, jika ingin mengunjungi keraton tersebut akan mudah.
Karena memiliki tempat yang strategis dan berada di pusat kota, perlu diketahui Sayyid Abdurrahman Al-Qadrie pergi ke Indonesia masuk ke wilayah ini dengan cara berdagang.
Disamping melakukan berdagang Sayyid Abdurrahman Al-Qadrie juga melakukan dakwah ajaran agama islam, wafat pada tahun 1770 Masehi.
Awal mulanya Sayyid Abdurrahman Al-Qadrie telah sampai di 3 sungai yang berdekatan, sungai tersebut adalah Sungai Landak, dan Sungai Kapuas kecil serta Sungai Kapuas.
Keraton tersebut terus diadakan untuk proses renovasi dan juga perkembangan di dalam nya agar tetap terjaga kelestariannya.
Struktur banguann dari Keraton Kadariah terbuat dari kayu pilihan sehingga bangunna tetapi kokoh, bahakan di dalamnya terdapat sebuah meriam yang dibuat oleh negara Perancis dan juga negara Portugis.
Bahkan di dalam Keraton Kadariah Pontianak memiliki sebuah cermin yang antik dibuat oleh negara Perancis, kaca tersebut memiliki julukan ‘Kaca Seribu’
Untuk warna banagunan di Keraton Kadariah menggunakan warna kuning seperti suku melayu umumnya.
Bahkan di Keraton Kadariah masih tersimpan dan tertata rapi benda-benda peninggalan sejarah dan juga perhiasan yang masih ada di sana.***