Bukan Sekadar Peninggalan, Candi Agung Amuntai Juga Mempunyai Sejarah Kelam, Penasaran?

inNalar.com – Candi Agung Amuntai adalah situs peninggalan yang terletak di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan.

Menurut cerita rakyat, Candi Agung Amuntai adalah peninggalan Kerajaan Nagaradipa yang dibangun oleh Empu Jatmika lebih dari 500 tahun yang lalu.

Di dalam situs Candi Agung Amuntai terdapat beberapa situs menarik lain yang memiliki daya tariknya sendiri.

Baca Juga: Habiskan Dana Miliaran Rupiah! Proses Pemakaman Unik Tana Toraja Ternyata Jadi yang Termahal di Dunia

Beberapa situs yang ada di Candi Agung Amuntai tersebut antara lain museum, pertapaan Pangeran Suryanata, situs Candi Agung, tiang Mahligai Putri Junjung Buih, Telaga Berdarah Empu Mandastana dan situs Tiang Penjagaan.

Diantara situs-situs yang sudah disebutkan diatas, salah satu diantara mereka memiliki kisah yang sangat menarik.

Situs tersebut adalah Telaga Berdarah Empu Mandastana.

Baca Juga: Luasnya 3.981 Ha, Candi Purba di Jambi Ini Pecahkan Rekor Sebagai Candi Tertua dan Terluas se-Asia Tenggara

Telaga yang ada di dalam situs Candi Agung Amuntai tersebut memiliki kisah kelam yang menjadikannya dijuluki sebagai Telaga Berdarah.

Kisah kelam tersebut terkisahkan di dalam Hikayat Banjar yang terkenal di kalangan masyarakat.

Dalam Hikayat, disebutkan bahwa Empu Jatmika memiliki dua orang anak, yakni Empu Mandstana dan Lambung Mangkurat.

Baca Juga: Telan Biaya Rp 15 Triliun, Jalan Tol yang Menghubungkan Semarang – Demak Ini Juga Menjadi Tanggul Laut?

Setelah Empu Jatmika wafat, posisinya sebagai pemimpin digantikan oleh anaknya yaitu Lambung Mangkurat.

Namun, Lambung Mangkurat tidaklah memimpin sebagai raja, melainkan sebagai patih kerajaan.

Lembung Mangkurat merasa jika Kerajaan Nagaradipa membutuhkan seorang raja. Sehingga, dia pun pergi bertapa.

Selesai bertapa, Lambung Mangkurat membawa seorang putri, Puteri Junjung Buih, ke Kerajaan Nagaradipa yang kemudian diangkat menjadi raja.

Di sisi lain, saudaranya, Ampu Mandastana, memiliki dua orang putera yang bernama Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga.

Dalam Hikayat Banjar dikisahkan bahwa kedua putra saudaranya yaitu Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga tertarik kepada kecantikan Puteri Junjung Buih.

Karena merasa jika kedua ponakannya tidak pantas untuk disandingkan dengan Puteri Junjung Buih, Lambung Mangkurat membunuh kedua ponakannya di danau sekitar kerajaan.

Danau tersebut hingga sekarang disebut “Luhuk Badangsanak” atau Telaga Darah yang ada di Candi Agung Amuntai.*** (Ralda Maya Runita)

Rekomendasi