

inNalar.com – Terkenal sebagai Tanah Dayak, Kalimantan Barat memiliki berbagai legenda dari yang mitos hingga mistis.
Hal ini tak terkecuali wisata mistis dengan bumbu legenda di Desa Pakumbang yang terletak di Kecamatan Sompak, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yaitu Bukit Kampung Batu.
Ceritanya, pada zaman dulu, di bukit tersebut terdapat sebuah perkampungan tempat tinggal seorang nenek bernama Pata dan cucunya, Banti’ang.
Suatu hari, di perkampungan itu diadakan acara adat yang melibatkan gotong-royong para tetangga. Namun, karena sang nenek sudah terlalu lemah untuk ikut serta, cucunya lah yang menggantikannya.
Kehadiran Banti’ang malah membuat warga kesal karena makan terlalu banyak saat acara tanpa memikirkan si nenek yang ada di rumah. Warga setempat pun ingin memberinya pelajaran.
Mereka akhirnya menyiapkan makanan dari karet yang dibentuk menyerupai daging dan memberikannya pada Banti’ang dan dibawa pulang.
Baca Juga: Miliki Luas 78.000 m2, Mall di Bogor Ini Jadi yang Terbesar dan Termewah se-Jawa Barat?
Melihat cucunya yang makan terus tanpa henti, Nek Pata berpikir bahwa warga setempat telah berbuat jahat kepada cucunya karena memberi makan karet.
Nek Pata yang memiliki kekuatan mistis pun memutuskan untuk mengirim anjing ke lokasi acara. Anjing tersebut dihias dan diberi lonceng agar semua orang yang ada di pesta tertawa melihatnya.
Di saat suasana riuh penuh tawa, Nek Pata pun membawa cucunya untuk lari melalui gua yang konon menembus Gunung Samabue. Ia juga membawa seekor ayam dan satu telur.
Baca Juga: Inilah 5 Universitas Terbaik di Padang! Nomor 2 Bikin Karir Masa Depan Auto Melejit Tajam
Cerita tersebut kemudian berlanjut dengan perubahan cuaca yang mendadak menjadi buruk, disertai angin kencang yang menghancurkan perkampungan, kemudian mengubah seluruh warga menjadi batu.
Hal inilah yang membuat masyarakat percaya untuk tidak menertawakan atau merendahkan binatang karena takut berubah menjadi batu nantinya.
Meski legenda, jejak asli dari cerita tersebut dapat dilihat di Bukit Kampung Batu, mulai dari rumah yang berbentuk batu, hingga gua tempat Nenek Pata dan cucunya melarikan diri. Warga Samabue juga mengatakan bisa mendengar suara ayam dari bukit itu.
Perjalanan menuju Bukit Kampung Batu memakan waktu sekitar 30 menit menggunakan mobil dari Desa Pakumambang.
Dari pintu masuk, pengunjung mengikuti jalan setapak menuju puncak yang penuh pepohonan hijau dan gemericik suara sungai yang jernih.
Tetesan air dari akar Bajakah yang konon memiliki khasiat menyembuhkan kanker dapat ditemukan di tengah perjalanan.
Setelah dua jam berjalan dari pintu masuk, puncak Bukit Kampung Batu terlihat dengan batu besar yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh dan ibadah.
Pengunjung juga dapat menelusuri gua yang kabarnya bisa mencapai Gunung Samabue. Jika ingin berkunjung ke Bukit Kampung Batu, sebaiknya minta pendampingan dari Kades atau tokoh pemuda setempat.
Desa Pakumbang terus mengembangkan potensi pariwisatanya, dan saat ini belum ada tarif khusus untuk kunjungan ke Bukit Kampung Batu.***