Bukan Jenderal A.H Nasution, Ternyata Ini Alasan Kenapa Soeharto yang Terpilih Jadi Presiden Gantikan Soekarno

inNalar.com – Soeharto resmi menggantikan Soekarno sebagai presiden pada tahun 1968.

Berawal dari tragedi G30S, kepemimpinan Soekarno mulai goyah. Ada banyak partai politik yang tidak mendukungnya lagi.

Pada keadaan ini, terdapat dua sosok yang sangat potensial menjadi pengganti Presiden Soekarno saat itu yakni Jenderal A.H Nasution dan Jenderal Soeharto.

Baca Juga: Tidak Mau Ketemu Hingga Dilarang Menjenguk, Ternyata Ini Alasan Perang Dingin Soeharto dan BJ Habibie Dulu

Sampai akhirnya Soeharto yang diangkat menjadi pengganti Presiden Soekarno.

Melansir dari akun YouTube Indonesia Insider, Jenderal A.H Nasution termasuk memenuhi berbagai syarat untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Ia juga memiliki prestasi yang cukup banyak serta menjadi jenderal paling senior kala itu.

Baca Juga: Kerap Disebut Pemimpin Otoriter, Ternyata Presiden Soeharto adalah Sosok yang Bucin dengan Istrinya, Ibu Tien

Sayangnya, ia tidak memegang kendali komando walaupun pengaruhnya cukup besar di kalangan tentara.

Ia juga tidak mempunyai power yang cukup untuk menggerakkan pasukan militer.

Pasalnya, ia hanya memiliki jabatan sebagai Menkohankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata dengan tugas untuk mengkoordinir dan membina ABRI.

Baca Juga: Punya 16 Miliar Dolar, Ternyata Kekayaan Soeharto dari Yayasan Amal, Malah Digunakan untuk Partai Golkar?

Sedangkan Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad, ia cenderung mempunyai kekuatan pasukan yang jauh lebih tinggi.

Tentu masih ada banyak alasan mengapa Soeharto yang terpilih sebagai presiden saat itu. Apa saja? Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Tegas dan Cepat Menanggapi Pemberontakan G30S

Soeharto mendapatkan dukungan oleh sejumlah pihak karena memiliki sikap yang tegas dan cepat dalam menanggapi pemberontakan G30S.

Baik itu dukungan dari mereka yang berada di kalangan militer maupun publik.

2. Memiliki Pengalaman dan Reputasi Baik dalam Memimpin Militer

Soeharto dianggap memiliki pengalaman dan reputasi lebih baik dalam mengelola dan memimpin militer.

Tidak hanya itu, ia juga dianggap mempunyai kemampuan untuk membantu stabilkan politik dan keamanan di tanah air yang sedang bergejolak kala itu.

Baca Juga: Punya 16 Miliar Dolar, Ternyata Kekayaan Soeharto dari Yayasan Amal, Malah Digunakan untuk Partai Golkar?

3. Lebih Mampu Menarik Investor Asing

Presiden kedua Ri ini juga dianggap lebih mampu dalam menarik negara-negara barat dan para investor asing luar negeri.

Tujuannya adalah untuk membantu membangun perekonomian di tanah air yang pada saat itu Indonesia masih dalam keadaan terpuruk.

Hal ini terjadi akibat adanya krisis ekonomi dan politik pasca G30S.

Dengan berbagai alasan di atas, maka Soeharto dianggap lebih mampu untuk menggantikan Presiden Soekarno dibandingkan dengan Jenderal A.H Nasution.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]