

inNalar.com – Sosial media dihebohkan dengan tradisi dari Provinsi Riau, tradisi itu berupa beberapa orang yang sedang melakukan perlombaan mendayung dengan anak kecil yang menari-nari di depan dan di belakang ujung perahu.
Pacu Jalur itu namanya, tradisi ini merupakan perlombaan mendayung khas Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau.
Anak pacu jalur menjadi sorotan yang membuat tradisi ini viral di sosial media, bukan hanya menari nari saja tetapi anak pacu jalur ini memiliki tugas tertentu.
Pacu Jalur juga merupakan tradisi yang turun temurun diwariskan oleh nenek moyang di Kuansing sejak lebih dari 100 tahun.
Baca Juga: Festivibes All Gen Hadir di Bali, Komunitas Kpop Bisa Ikut Secara Gratis
Pada zaman penjajahan Belanda dulu, Pacu Jalur juga sudah dipertontonkan dan dijadikan acara untuk merayakan hari jadi Ratu Wilhelmina.
Perahu yang dipakai terbuat dari kayu gelondongan atau kayu utuh tanpa sambungan, sehingga warga sekitar menyebut perahu itu sebagai jalur. Dan Itulah asal usul dari nama pacu jalur.
Tradisi pacu jalur biasanya dilakukan pada bulan Agustus, berdekatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pacu jalur saat ini dilakukan hingga tanggal 27 Agustus 2023, di Sungai Kuantan yang dulunya dijadikan jalan transportasi.
Baca Juga: Ada Tradisi untuk Ibu Hamil, Inilah 5 Adat Istiadat Unik di Lampung yang Masih Ada Sampai Sekarang
Perlombaan pacu jalur yang ada di Kuansing Provinsi Riau ini dilakukan oleh 50 sampai 60 orang sebagai anak pacu jalur yang bertugas sebagai pendayung, jumlah anak pacu jalur tergantung dari panjangnya perahu.
Tugas dari anak pacu jalur dibagi menjadi empat tugas yaitu diantaranya Tukang Concang yaitu pemimpin yang memberi aba-aba, Tukang Pinggang yaitu juru mudi, Tukang Onjai yang memberi irama di bagian kemudi dengan cara menggoyang-goyangkan badan.
Dan Tukang Tari yang membantu Tukang Onjai dalam memberi tekanan agar seimbang yang membuat perahu bisa berjungkat-jungkit secara teratur dan berirama.
Tradisi pacu Jalur dimulai dengan dentuman meriam sebanyak tiga kali, ketiga dentuman merupakan step by step atau tanda yang harus dilakukan oleh anak pacu jalur.
Dentuman pertama sebagai tanda untuk memposisikan jalur atau perahu, dentuman kedua untuk posisi bersiap mendayung bagi para anak pacu jalur, dan dentuman ketiga untuk memulai mendayung dan perlombaan.
Anak pacu jalur juga memakai variasi kostum dan seruan atau yel yel yang menarik bagi wisatawan yang menonton.
Baca Juga: Luasnya Lebih dari 100.000 Hektar, Danau Terbesar di Kalimantan Barat Ini Munculnya Musiman
Masyarakat setempat juga banyak berdatangan untuk bisa menonton dan ikut memeriahkan tradisi dari provinsi Riau ini.
Katanya, pemenang pacu jalur ditentukan sisi magis dari kayu yang dijadikan jalur serta kemampuan pawang dalam mengendalikan jalur. ***