Bukan di IKN, Proyek Gedung Bentuk Garuda Pertama Ada di Bogor! Sayangnya Kini Rata Dengan Tanah: Rp 75 Miliar Hangus

inNalar.com – Proyek gedung berbentuk Garuda yang berdiri di atas lahan 5 hektar dari total 44 hektar di Cileungsi, Bogor.

Gedung ini pernah menjadi pemandangan mengagumkan yang terlihat melalui citra satelit pada tahun 2008.

Namun kini, semua itu telah hilang, meninggalkan tanah kosong tanpa pepohonan yang dulu menghiasi kawasan tersebut.

Baca Juga: Proyek Dengan Nilai Investasi Rp 1,9 Triliun Ini Bakal Menjadi Simbol Modernisasi Kota Makassar

Proyek prestisius bernama Graha Garuda Tiara Indonesia (GGTI) ini diperkirakan menghabiskan biaya fantastis, sekitar Rp 75 miliar dengan kurs dolar pada saat itu Rp 2.194.

Pembangunan dimulai pada Februari 1995 di Jalan Narogong Km 23, Cileungsi, Bogor, dengan melibatkan ratusan pekerja dan mengutamakan kualitas bangunan nomor satu.

Pembangunan proyek ini dilakukan dalam dua tahap.

Baca Juga: Telan Biaya 13 Triliun, Pembangkit Listrik Berkapasitas 350MW di Kerinci Siap Beroperasi 2025 Mendatang

Tahap pertama dimulai dengan pembukaan area hutan karet dan pembangunan pondasi, namun proyek terhenti pada akhir 1995.

Pekerjaan dilanjutkan pada Agustus 1996 dan dipercepat dengan kerja siang malam hingga Oktober 1996.

Saat itu, bangunan sudah mulai terlihat terbentuk, dan beberapa tamu mulai berdatangan.

Baca Juga: BRI Peduli Gelar Pelatihan Ekspor UMKM Binaan Demi Dorong Pengusaha Go Internasional

Gedung berbentuk Garuda Pancasila ini awalnya ingin dibangun sebagai wisma atlet. Kompleksnya terdiri dari beberapa blok wisma (A, B, C, D, E), masing-masing dengan tiga lantai dan total 456 kamar.

Wisma D dan E dirancang untuk 4 orang per kamar, sementara A, B, dan C bisa menampung 8 orang per kamar.

Katanya, gedung inilah yang akan menyaingi kompleks olahraga Senayan yang dibangun oleh Presiden Soekarno.

Bagian dada dan kepala Garuda gedung ini digunakan sebagai lobi dan ruang konferensi yang dapat menampung 3.000 orang.

Sementara ekor gedung direncanakan untuk hotel dengan 196 kamar.

Terdapat juga fasilitas parkir luas yang mampu menampung 100 bus serta landasan helipad. Fasilitas olahraga seperti lapangan tenis, basket, voli, dan kolam renang juga disediakan.

Bangunan ini, yang mengusung desain unik berbentuk burung Garuda, pada akhirnya hanya terbangun sebagian.

Setelah dimulai pada 1995, pengerjaan proyek berlanjut pada 1996 dengan intensitas kerja yang sangat tinggi. Bentuk Garuda mulai terlihat meski belum sepenuhnya selesai.

Namun, pada pertengahan 1998, bersamaan dengan lengsernya Presiden Soeharto, proyek ini terhenti dan bangunan tersebut terbengkalai.

Menurut beberapa sumber, salah satu alasan proyek GGTI terbengkalai adalah karena gedung ini masih tercatat atas nama sebuah yayasan, dan yayasan tersebut tidak mampu melunasi utangnya.

Selain itu, sempat beredar kabar bahwa pada saat kerusuhan 1998, bangunan GGTI digunakan sebagai tempat persembunyian bagi ekspatriat.

Beberapa tamu dari Jepang dan Korea, serta pegawai pemerintah, dikabarkan menginap di sana karena merasa tidak aman untuk tinggal di Jakarta.

Selama bertahun-tahun, gedung ini dibiarkan terbengkalai dan pada tahun 2000-an mulai terjadi penjarahan terhadap fasilitas yang ada.

Bangunan yang awalnya dilengkapi fasilitas lengkap ini mulai dijarah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pada tahun 2014, pemerintah memutuskan untuk membongkar gedung Graha Garuda Tiara Indonesia.

Sekarang, tanah yang dulunya ditempati bangunan megah tersebut kosong, hanya ditumbuhi tanaman liar, tanpa jejak bekas bangunan yang dulu ada.*** (Aliya Farras Prastina)

 

Rekomendasi