

inNalar.com – Banten terus menggesa megaproyek jalan tol yang akan menghubungkan Serang dan Panimbang.
Namun apa daya tantangan besar pun menghiasi proses pembangunan megaproyek jalan tol baru di Banten ini.
Wahyu Supriyo Winursero selaku Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) daerah lokasi pembangunan tersebut pun blak-blakan mengungkap kendalanya.
Menurutnya, tantangan megaproyek jalan tol di Serang, Banten ini cukup beragam.
Mulai dari permasalahan klasik soal pembebasan lahan hingga permasalahan dana pembangunan megaproyek jalan tol ini.
Sebagai informasi terlebih dahulu, proyek jalur darat ini sempat terganjal proses pembangunannya selama dua tahun.
Penyebabnya adalah pembiayaan konstruksi masih kurang Rp5 triliun dan masih menunggu persetujuan dana pinjaman bank asing.
Lebih mendalam, bank asing yang dimaksud adalah CEXIM, investor dari perbankan pemerintahan RRT atau China.
Jadi megaproyek jalan tol di Serang, Banten ini mendapat pembiayaan dari Bank CEXIM.
“Persetujuan agreement, jadi ini merupakan salah satu bentuk loan dari CEXIM atau China,” beber Wahyu saat menjelaskan tantangan megaproyek jalan tol Banten yang pertama.
Namun siapa sangka, ada kendala besar lainnya yang cukup menghantui proses pembangunan jalur bebas hambatan ini.
Kementerian PUPR justru menemukan bahwa lokasi garapan megaproyek jalan tol di Banten ini punya jenis tanah yang rentan.
Terdapat lapisan tanah clay shale yang disebut mampu menyebabkan struktur tanah menjadi lunak.
Oleh karena itu, pihak pembangun jalan tol di Banten ini perlu menyusun strategi desain paling tepat agar jalur tetap aman dilalui.
“Kita perlu treatment, perlu penyesuaian desain,” kata Wahyu. Pihaknya memastikan bahwa kelanjutan penyesuaian desain sudah memasuki tahap akhir dan akan dipastikan aman untuk dilalui kendaraan.
Sebagai informasi, lapisan tanah clay shale adalah timbunan berbentuk lempung yang membuat sifat struktur tanah menjadi lemah.
Dikarenakan jalan tol ini akan menjadikan tanah sebagai landasannya, perlu strategi khusus untuk mengatasi tantangan tersebut.
Kabar baiknya, lapisan tanah clay shale hanya ditemukan dalam bagian-bagian tertentu saja.
Artinya tidak menyebar di seluruh bagian, setidaknya 5 kilometer dari total panjangnya.
Adapun metode penanganan yang dilakukan guna menguatkan struktur tanah clay shale ini tidak sekadar melapisinya dengan struktur yang kuat.
Namun juga diharapkan pembangunan jalan tol di Serang, Banten ini tidak merusak alam yang telah ada sebelumnya.
Sebagai informasi tambahan, tanah jenis ini juga ditemukan pada tebing jalan tol Bawen-Semarang.
Proses pembangunan jalan tol dengan jenis ini cukup membutuhkan waktu, karena butuh kehati-hatian dan struktur material yang matang.
Penelitian lebih lanjut untuk perbaikan tanah pada akhirnya sangat diperlukan dalam pembangunannya.
Inilah sederetan tantangan megaproyek jalan tol di Serang, Banten yang diproyeksikan bakal rampung tahun 2024.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi