

inNalar.com – Karifan lokal provinsi Kalimantan Timur sudah tak bisa diragukan lagi.
Berbagai tradisi dari leluhur masih terjaga dan dilakukan oleh sejumlah warga Kalimantan Timur.
Begitupun dengan potensi kekayaan alam Kalimantan Timur dan perindustrian yang tengah berkembang pesat.
Hal itu membetot para pendatang baik dari tanah Jawa dan Sumatera untuk mengadu nasib.
Sayang, para perantau tak banyak tahu bahwa ada hal-hal yang tak boleh dilanggar saat menginjakkan kaki di Kalimantan Timur.
Bahkan siapa saja yang berani melanggar pantangan, bisa mendapat nasib buruk di kemudian hari.
Cerita rakyat ini memang masih dipercaya oleh para warga sekitar.
Dan sudah sepatutnya sebagai pendatang untuk menghormati tradisi dan aturan yang berlaku di Provinsi Kalimantan Timur.
Terdapat hal yang dianggap sepele, tapi ternyata itu bisa dibilang sebagai kutukan.
Baca Juga: Sudah Seabad Penduduk Kampung Tradisional di Cimahi Tidak Mengkonsumsi Nasi, Diganti Apa?
Pasalnya, imbasnya tidak main-main dan pengalaman tersebut juga diungkap oleh Amang Arbaik yang merupakan Tokoh Masyarakat Desa Abumbun Jaya.
Arbaik mengatakan sebelumnya ada sebuah keluarga pengusaha sukses yang kaya raya saat mulai berbisnis di Kalimantan Timur.
Tapi, hidupnya 360 derajat berubah setelah melanggar satu hal ini saat meninngalkan Kaltim.
Cobaan beruntun dialami oleh pengusaha tersebut, mulai dari kecelakaan hingga miliaran uang yang didapat mendadak berkurang.
“Karyawannya dan hartanya mengurang-mengurang. Akhirnya balik ke kampung asalnya,” kata Arbaik.
Berdasarkan keterangan Arbaik, sang pengusaha tersebut rupanya ingin mengembangkan usahanya setelah sukses di Kalimantan Timur.
Baca Juga: Kampung Adat Tertua di Sumatera Utara Ini Dulunya Pernah Dibakar hingga Dibinasakan, Namanya Adalah…
Hal itu dinilai telah melanggar kutukan yang dipercaya sejak era Kerajaan Kutai Martadipura.
“Kebanyakan banyak yang melanggar sumpah itu dan itu sudah banyak yang merasakan,” terangnya.
Kutukan tersebut diperkuat dengan adanya sejarah yang tertuang dalam buku Kemendikbud “Kearifan Lokal Cerita Rakyat Kalimantan Timur”
Sistem religi dalam cerita “Legenda Gua Kombeng” terlihat adanya kutukan Dewata karena keserakahan Kong Beng.
Rupanya Dewata tidak menghendaki harta karun Kerajaan Kutai Martadipura dibawa keluar dari Kalimantan Timur.
Menjelang tengah malam, bumi tiba-tiba bergetar. Langit pun gelap tertutup awan hitam.
Air danau seperti mendidih, bergolak. Angin puting beliung tanpa ampun menghantam wangkang hingga hancur berantakan dan tenggelam.
Kong Beng sendiri terluka parah terkena pecahan kapal (CRKT, 2010:63)