Bikin Nostalgia! Kuliner di Pasar Tradisional Terbesar di Yogyakarta Ini Penuh Nuansa Tempo Dulu

inNalar.com – Anda wajib mencoba kuliner pasar tradisional terbesar di Yogyakarta, tepatnya Pasar Kangen yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Pada tahun 2024, acara kuliner Pasar Kangen telah hadir di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk yang ke-17 kalinya.

Sejarah dari pasar tradisional terbesar di Yogyakarta ini tidak lepas dari gempa yang menimpa Yogyakarta tahun 2006 lalu.

Baca Juga: Tahukah Kamu? Suku Laut di Indonesia Jadi Inspirasi James Cameron Membuat Film Avatar the Way of Water

Kegiatan ini dibuat untuk menjadi bagian dari Trauma Healing para pegiat seni di Jogja.

Ketua Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Purwiati mengatakan kegiatan kuliner di pasar tradisional tahunan ini menghadirkan konsep pasar tempo dulu.

Baginya, pasar ini akan menciptakan interaksi sosial antara penjual dan pembeli begitu juga masyarakat sekitar.

Baca Juga: 7 Wisata Malam di Jakarta, Cocok Buat Para Pekerja 9-5

Tak hanya tempat jual beli, Pasar Kangen juga diharapkan dapat menjadi upaya mengedukasi generasi muda tentang kuliner tradisional. Menurut Purwiati, masakan tradisional tidak boleh kalah dengan kuliner modern masa kini.

“Anak-anak zaman sekarang mungkin belum tahu kalau ada mentuk, apem, ledol, dan corobikang, dan lainnya. Inilah cara pemerintah daerah D.I.Yogyakarta untuk mengenalkan kembali makanan tersebut dan mengedukasi generasi sekarang,” kata Purwiati.

Pasar tradisional terbesar di Yogyakarta ini menawarkan lebih dari sekedar makanan yang enak dan produk tradisional.

Baca Juga: Kampung Terpencil di Cianjur, Jawa Barat Ini Unik Banget, Semua Pagar Rumahnya Auto Bikin FYP!

Beragam penampilan seni pun dihadirkan, mulai dari tari klasik hingga Jatiran, Reog, Kubro Siswo, dan Barongsai.

Tahun 2024, dengan euforia yang semakin meriah. Pasar Kangen telah hadir lebih dari sekedar pameran budaya dan kuliner di pasar tradisional.

Acara yang diadakan pada tanggal 4 hingga 13 Juli 2024 ini juga menampilkan lokakarya dan pertunjukan berbagai warisan budaya, kerajinan tradisional, dan seni pertunjukan.

Baca Juga: Pesona Air Terjun Madakaripura Probolinggo, Diduga Jadi Tempat Terakhir Patih Gajah Mada Bertapa

Tujuannya untuk memperkuat rasa tradisional dan budaya lokal Yogyakarta. Tahun ini kuliner pasar tradisional menerima 1.200 formulir pendaftaran.

Setelah melalui proses seleksi yang ketat, terpilihlah 289 tenant yang terbagi atas 187 tenant catering, 102 tenant catering/barang dan jasa bekas, dan 8 tenant bengkel.

Tema “Natas Nitis Netes” tahun ini lebih dari sekedar kata tapi memiliki makna yang dalam. Dimana upaya yang kecil dan tepat dapat memberikan dampak yang besar.

Baca Juga: Menyendiri di Hutan Belantara Jawa Tengah, Satu Rumah di Banjarnegara Punya Pemandangan Tak Terduga

“Natas” mengacu pada upaya untuk menyelesaikan sesuatu dengan sempurna, “nitis” menunjukkan ketelitian dalam bertindak, dan “netes” mengacu pada hasil yang diharapkan dari kerja keras dan dedikasi.

Tema Natas Nitis Netes ini menggambarkan upaya mewujudkan kedaulatan pangan ideal yang berkelanjutan dan berasal dari tanah sendiri.

Direktur Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati mengatakan, ada beberapa aspek di bidang kuliner yang penting untuk kita tekuni guna mencapai kedaulatan pangan, antara lain teknik pengolahan, pengolahan bahan, gastronomi, dan sistem tata niaga pertanian.

Menurutnya, kedaulatan pangan tidak dapat tercapai jika hal-hal tersebut tidak dikelola atau dijaga dengan baik.

Selain terkait pangan, tahun ini Pasar Kangen juga fokus pada isu sampah yang semakin menjadi perhatian di sektor daerah D.I.Yogyakarta.

Dengan bekerja sama dengan pihak ketiga, Pasar Kangen telah berusaha menerapkan peraturan ketat guna meminimalkan pengelolaan sampah dan konsumsi plastik.

Pak Purwiati menyampaikan, sejak diadakannya Pasar Kangen 17 tahun lalu, telah memberikan dampak terhadap peningkatan perekonomian masyarakat setempat khususnya UMKM dan pelaku seni.*** (Aliya Farras Prastina) 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]