inNalar.com – Tak jarang saat ini kebiasaan beli barang mewah seperti baju brand ternama, iPhone terbaru, tas bermerek padahal uangnya pas-pasan dan mungkin bisa saja bayarnya pakai pay later.
Fenomena ini tentu diluar nalar dan banyak terjadi pada generasi Z.
Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Sensus, 2020 jumlah total Gen Z diperkirakan mencapai 27, 94% dimana lahir antara tahun 1997-2012.
Kebanyakan mereka pengeluaran mereka untuk barang yang tidak dibutuhkan lalu mengeluh uang gampang habis.
Melansir Informasi dari YouTube Satu Persen – Indonesian Life School wajar saja karena Gen Z sangat doyan belanja.
Apalagi yang berkaitan dengan barang-barang aneh seperti gacha game online buat nge gift idol Korea, langganan Netflix padahal jarang dipakai atau masih banyak lainnya.
Sebab, keinginan kaya dengan cara instan apalagi harga bahan pokok semakin mahal.
Kebiasaan ini tentu berdampak buruk pada mereka karena memerlukan pengeluaran dalam jumlah cukup besar.
2. Nge-gift idol
Fenomena baru dan aneh dengan memberi gift pada idol yang dilihat melalui layar ponsel seperti penyanyi K-Pop, gamers, youtuber, influencer bahkan artis luar negeri.
Beberapa waktu lalu TikTok dihebohkan dengan banyaknya pemberian gift melalui mandi lumpur dan dalam beberapa waktu menjadi kebiasaan yang kurang bermanfaat.
Tak jarang orang tua yang renta juga melakukan hal ini untuk mendapatkan gift hingga dibuatkan tempat untuk mandi lumpur dan direkam oleh anaknya yang notabene milenial atau bahkan Gen Z.
Kondisi ini tentu miris sekali melihatnya dimana anak-anak ini rela menghabiskan uang untuk hal-hal yang tujuannya tidak jelas.
3. Subscribe
Pengeluaran yang dilakukan Gen Z untuk berlangganan Netflix, Spotify, gym, fashion atau makanan.
Tentunya, ini menjadi kebiasaan baru yang dilakukan karena di era digital dan praktis. Tetapi, tanpa sadar mereka berlangganan terlalu banyak hingga tidak terpakai.
4. Gaya hidup mewah
Harus diakui memang kalau Gen Z memiliki gaya hidup yang mewah. Mereka menyukai pengeluaran untuk barang mahal dan branded.
Selain itu, kebiasaan untuk nongkrong di tempat-tempat elit dan memakai kalung vape yang bertujuan untuk terlihat trendy, keren dan kekinian.
Sehingga membentuk kepribadian yang individualis yang hanya ingin diakui dan menunjukkan identitas melalui gaya hidup mereka.
Namun, banyak yang melakukan ini demi gengsi atau show off untuk membeli iPhone tetapi cuma digunakan buat WhatsApp dan chat kantor saja.
5. Spending untuk healing
Dengan melakukan jalan-jalan ke luar kota khususnya Bali. Di sisi lain, mereka memiliki hobi menghabiskan uang untuk menonton konser.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan satu ini. Tetapi, terkadang setelah selesai “healing” masih stres dan beberapa memaksakan untuk berhutang atau menggunakan pay later.
Jadi, bisa dikatakan bahwa ini bukan self reward namun hanya menyebabkan sikap boros yang berkedok healing atau reward saja.
Maka dari itu, selalu pastikan pengeluaran sebisa mungkin bisa balik modal. Tidak hanya, masalah uang saja tetapi kebahagiaan atau peningkatan skill tertentu.
Ingat, dampak yang diakibatkan oleh kebiasaan kita sebagai Gen Z untuk spending seperti hikikomori atau tidak mau bersosialisasi sehingga melupakan prioritas lainnya dan malah menjadi depresi.
Terakhir, jangan lupa Gen Z harus memulai dengan kebiasaan menabung untuk hal-hal yang lebih bermanfaat seperti dana darurat, investasi dan sebagainya.***