

InNalar.com – Ketika merayakan hari kemerdakaan, tidak ada salahnya mengetahui saksi bisu pada daerah di Jawa Timur.
Adapun saksi bisu tersebut adalah Jembatan Merah, yang terletak di Surabaya, Jawa Timur.
Bagaimana tidak menjadi saksi bisu, saat dijaman penjajahan Belanda, Jembatan Merah di Surabaya ini merupakan jalur lalu lintas utama perdagangan warga sekitar.
Bagi orang-orang yang tidak mengetahuinya, mungkin jembatan di Surabaya Jawa Timur ini hanyalah jalur yang diwarnai dengan cat merah.
Namun, ada sejarah yang tercipta dari Jembatan Merah tersebut, tepatnya saat 10 November 1945.
Dilansir Innalar.com dari surabaya.go.id, Jembatan merah ini telah ada semenjak tahun 1809.
Sejak awal pembangunannya, Jembatan di Surabaya ini memang identik dengan warna merah.
Sedangkan pada pembangunannya, jembatan di Jawa Timur tersebut dibangun pada era kepemimpinan Gubernur Jendral Deandels.
Maksud dari dibuatnya jembatan tersebut adalah untuk menghubungkan daerah timur sungai Kalimas atau kawasan Pecinan dan Arab, dengan wilayah barat sungai atau wilayah Eropa.
Karena itulah jalur penghubung di Jawa Timur ini bisa menjadi pusat perdagangan di Surabaya.
Selain itu, Jembatan merah di Jawa Timur ini juga jadi akses satu-satunya yang dapat menghubungkkan Kali Mas dengan gedung-gedung pemerintahan Kota Surabaya.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, jembatan merah di Surabaya ini telah ada sejak tahun 1809.
Akan tetapi, dari penjelasan yang dilakukan pada channel Youtube Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, jembatan ini mulai dibangun pada tahun 1788, dan selesai di tahun 1809.
Melompat pada tahun 1945, tepatnya dibulan Oktober, terdapat tragedi di Jembatan Merah.
Tragedi tersebut adalah tersebarnya selebaran jika warga Surabaya harus menyerahkan senjata rampasan, jika tidak maka akan ditembak oleh Belanda.
Setelah itu terjadilah perang yang cukup ramai, hingga terjadi di Jembatan Merah Surabaya.
Kelanjutan perang tersebut berlanjut hingga gedung Internationale Crediet En Verening Rotterdam atau Internatio, Hingga menewaskan pimpinan tentara Sekutu Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby.
Karena itulah pada perang 10 November 1945, Jembatan Merah merupakan salah satu dari saksi bisu perlawanan Indonesia melawan penjajahan Belanda. ***