Berperan dalam Invasi Rusia ke Ukraina, Berikut Ini Profil Presiden Republik Chechnya Ramzan Kadyrov


inNalar.com – Ramzan Kadyrov, Presiden Republik Chechnya, menjadi sorotan setelah memerintahkan pengiriman 12.000 pasukan ke Ukraina untuk membantu agresi militer Rusia. Kadyrov adalah sekutu dekat Vladimir Putin, dam menjabat presiden Chechnya sejak 2007.

Ramzan Akhmadovich Kadyrov, lahir di Tsentaroy pada 5 Oktober 1976, adalah Presiden Republik Chechnya dari 2007 yang menggantikan Alu Alkhanov.

Kadyrov adalah putra Akhmad Kadyrov, presiden pertama Republik Chechnya. Seperti mayoritas penduduk Chechnya, keluarga Kadyrov juga beragama Islam. Ramzan pernah menjadi sopir pribadi ayahnya saat sang ayah berjuang sebagai mufti anti-Rusia, selama Perang Chechnya Pertama pada 1990-an.

Baca Juga: Tanggapi Konflik Rusia Ukraina, Perdana Menteri Pakistan Ungkapkan Bahwa Negaranya Bukanlah Budak Barat

Ramzan menjadi presiden Chechnya pada 2007 meskipun ada persaingan dengan panglima Angkatan bersenjata Sulim Yamadayev, dan Said-Magomed Kakiev, serta presiden sebelumnya Alu Alkhanov.

Kadyrov berperang melawan pemberontak Republik Chechnya Ichkeria (ChRI) setelah Perang Chechnya Kedua. Namun Ramzan juga mengirim pasukan Batalyon Vostok, untuk berperang dalam Perang Donbass di Ukraina pada tahun 2014.

Dia mendapat dukungan dari Presiden Rusia saat ini Vladimir Putin, dan dianugerahi medali Pahlawan Rusia, gelar kehormatan tertinggi Rusia. Kadyrov telah dipuji karena membawa perdamaian dan stabilitas di kawasan itu.

Baca Juga: Siap Bantu Ukraina Lawan Rusia, AS Berikan Lampu Hijau kepada Anggota NATO agar Segera Kirim Jet Tempur

Disisi lain, ia mendapat kecaman keras dari pers internasional dan Rusia, karena dugaan korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia.

Ramzan Kadyrov adalah anggota kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Rusia. Pada awal 1990-an, ketika Uni Soviet terpecah menjadi beberapa bagian, orang-orang Chechen melancarkan upaya untuk kemerdekaan. Keluarga Kadyrov bergabung dalam perjuangan melawan pasukan federal, dengan Ramzan menjadi sopir untuk ayahnya, Akhmad, yang menjadi mufti Chechnya.

Klan Kadyrov membelot ke pihak Moskow pada awal Perang Chechnya Kedua pada 1999. Sejak itu, Ramzan telah memimpin milisinya, Kadyrovites, dengan dukungan dari dinas keamanan negara FSB Rusia, dan kemudian menjadi kepala Dinas Keamanan Kepresidenan Chechnya .

Setelah ayahnya, dibunuh pada 9 Mei 2004, Ramzan diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri Republik Chechnya. Setelah kecelakaan mobil pada bulan Desember 2005, di mana perdana menteri Chechnya Sergey Abramov terluka, Ramzan menjabat sebagai perdana menteri sementara.

Baca Juga: Dokter Zaidul Akbar Ungkapkan Khasiat Kopi yang Jarang Diketahui, Salah Satunya Bisa untuk Sarana Diet

Pada 1 Maret 2006, Sergey Abramov mengundurkan diri dari posisi perdana menteri dan mengatakan kepada kantor berita Itar-Tass bahwa dia mundur dengan syarat jika Ramzan Kadyrov memimpin pemerintahan Chechnya.

Tak lama setelah menjabat sebagai perdana menteri, Kadyrov menyetujui sebuah proyek untuk mendirikan istana presiden di sebidang tanah seluas 120.000 m2 di tepi Sungai Sunzha, di pusat kota Grozny yang hancur.

Proyek, yang juga akan mencakup hotel bintang lima dan fasilitas rekreasi itu, diperkirakan menelan biaya sekitar $54 juta USD atau sekitar Rp 777,89 miliar kurs saat ini.

Pada 5 Juni 2006, Ketua Majelis Rakyat Chechnya Dukvakha Abdurakhmanov, mengatakan pada konferensi pers di Moskow bahwa tidak ada alternatif selain Kadyrov untuk menjadi presiden. Kadyrov memiliki penghargaan eksklusif dalam pertempuran, dan telah membuat prestasi dalam meningkatkan kehidupan yang damai dan dalam perlindungan hak asasi manusia.

Baca Juga: Pembodohan Publik, Brand Asal Indonesia ini Ngaku Tampil di Paris Fashion Week

Minggu berikutnya, beberapa surat kabar Rusia melaporkan bahwa situasi keamanan yang memburuk di Chechnya mengurangi kemungkinan Kadyrov akan menggantikan Alu Alkhanov sebagai presiden. Media lain melaporkan bahwa Kadyrov terus memperkuat posisinya dengan mengorbankan Alkhanov.

Pada 15 Februari 2007, Putin menandatangani dekrit yang melengserkan Alkhanov dan mengangkat Kadyrov sebagai pejabat presiden Chechnya.

Lalu pada 2 Maret 2007, setelah usulan Putin atas Kadyrov sebagai presiden Chechnya, parlemen Chechnya menyetujui pencalonan tersebut.

Baca Juga: Simak Waktu Terbaik untuk Melakukan Olahraga Kala Puasa Ramadhan

Sebuah harian Rusia, Gazeta, melaporkan bahwa menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Levada Center independen, hanya 33 persen orang Rusia yang percaya bahwa Ramzan Kadyrov dapat dipercaya. Sementara 35 persen mengatakan bahwa dia tidak bisa dipercaya.

Ditanya apakah Kadyrov dapat menormalkan situasi di Chechnya dan mengakhiri pertumpahan darah di sana, 31 persen menjawab ya dan 38 persen mengatakan tidak.***

Rekomendasi