Berlimpah Ruah! Sulawesi Selatan Panen Raya di Tengah El Nino: Mampu Hasilkan Padi 9,65 Ton per Hektar

InNalar.com – Beberapa waktu lalu BMKG memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami Fenomena El Nino dengan puncak Oktober.

Meski demikian, menurut BMKG El Nino bisa berlangsung hingga akhir tahun 2023 ini.

Fenomena El Nino ini sendiri berdampak pada intensitas curah hujan lebih rendah daripada periode sebelumnya.

Baca Juga: Sempat Ditutup Sementara, Taman Nasional Seluas 130.000 Ha di Lampung Ini Kembali Dibuka dengan Konsep Baru!

Hal tersebut menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah Indonesia sekaligus pasokan air menjadi berkurang.

Selain itu, El Nino juga dapat memicu penyebaran hama dan penyakit tanaman serta penuruan kualitas tanaman.

Dalam rangka mensukseskan Gerakan Nasional Penanganan Dampak El-Nino oleh Kementerian Pertanian (Kementan).

Baca Juga: Fakta Menarik Ibu Kota Kotawaringin Barat yang Punya Julukan ‘Kota Manis’, Menjadi Lokasi Penerjunan…

Dilansir Pemprov Sulsel, Kementan menargetkan Sulawesi Selatan bisa mensukseskan panen di lahan 80.900 hektar. Adapun, hingga saat ini pemerintah provinsi ini berhasil mencapai sekitar 52.000 hektar atau sekitar 70 persen.

Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional menunjukkan kemampuannya dalam menghadapi Efek El Nino. Terbukti, dua daerah di Sulawesi Selatan Justru berhasil melakukan panen Raya.

Panen raya pertama dilakukan di Desa Alatengae, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Jumat, 20 Oktober 2023.

Baca Juga: 2017 Raih Penghargaan, Kini Desa Wisata Bilebante di NTB Malah Dapat Bimbingan dari UNWTO, Saingi Penglipuran?

Panen raya di Kabupaten Maros ini dilakukan pada lahan seluas 50 hektar dengan hasil rata-rata 9,65 ton per hektarnya.

Penan raya kedua dilakukan di lokasi Gerakan Percepatan Taman (Gertam) Antisipasi iklim El-Nino, di Desa Bontosunggu, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan pada Sabtu, 21 Oktober 2023.

Tidak tanggung-tanggung, panen raya ini dilakukan pada lahan seluas 250 hektar dengan hasil rata-rata 7 ton per hektarnya.

Keberhasilan pemerintah daerah melakukan panen raya tidak lepas dari metode pompanisasi dan didukung dengan ketersediaan pupuk.

Metode pompanisasi pada dasarnya mengandalkan pompa sumur yang dimiliki para petani.

Metode ini membuat biaya yang dikeluarkan para petani dalam satu periode panen hanya sekitar Rp 1,2 juta. Namun pengeluaran ini bisa lebih sedikit jika musim hujan.

Sementara itu, luas baku sawah di daerah Gowa mencapai 32.903 hektar dengan indeks pertanaman IP200 dan IP300.

Terkhusus di kecamatan Bajeng sendiri memiliki luas baku sawah 3.004 hektar dengan indeks pertanana IP300.

Sementara luas baku lahan sawah Kabupaten Maros sekitar 26.205 hektar.

Pada tahun 2022 produksi padai di daerah Maros sebanyak 237.535, 84 ton (237,5 ribu ton).

Secara umum, Luas baku sawah di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki luas 654.818 hektar dengan luas panen mencapai 1.038.084 (1,03 juta) hektar, dengan jumlah produksi mencapai 5.360.169 (5,3 juta) ton GKG atau setara dengan 3.075.860 (3,07) ton beras. ***

Rekomendasi