Berkembang pada Abad ke-14, Kampung di Solo Ini Jadi Pelopor Industri Batik Modern Ramah Lingkungan

  inNalar.com – Solo merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang adat istiadat dan budayanya masih sangat melekat di masyarakatnya dan salah satunya terkait dengan industri batik.

Hal tersebut terbukti dengan adanya sebuah kampung yang menjadi salah satu pusat batik tertua di Indonesia yang dikenal dengan nama Kampung Batik Laweyan.

Lokasinya berada di Jalan Sidoluhur No.6, Bumi, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Baca Juga: Aset Nanjak 1,07 Miliar USD, PT Amman Mineral Nusa Tenggara Keruk Tembaga dan Emas di Sumbawa hingga Raih Cuan Segini

Wilayah ini memiliki luas area sebesar 24,83 hektar dan berpenduduk sekitar 2.500 penduduk.

Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pedagang dan pembuat batik.

Dilansir inNalar.com dari laman resmi kampoeng batik laweyan, industri batik tulis warna alami di Laweyan mulai berkembang pada abad 14 masehi pada masa pemerintahan keraton Panjang.

Baca Juga: Total Kapasitasnya Capai 344 MegaWatt, PLN Sukses Kembangkan 28 Pembangkit Listrik EBT Sepanjang 2023

Kemudian, saat teknik batik cap ditemukan pada tahun 1900an terdapat juragan-juragan batik yang melegenda dengan kekayaannya.

Selain menjadi wisata sejarah, kampung ini juga bisa menjadi salah satu tempat wisata edukasi.

Ilmu pembuatan batik yang dulunya jadi  rahasia eksklusif para pedagang batik kini bisa diakses wisatawan.

Baca Juga: Baru Beroperasi Kurang dari Setahun, Jembatan Baru Senilai Rp30 Miliar di Sulawesi Selatan Ini Malah Ganti Nama

Para wisatawan bisa langsung belajar membatik secara singkat di berbagai lokasi dengan latarbelakang yang artistik.

Selain itu, para pengunjung juga bisa berbelanja kain batik di kawasan ini dimana terdapat banyak pilihan motif.

Mengingat, hingga sekarang 250 motif batik khas Kampung Batik Laweyan sudah dipatenkan.

Baca Juga: Produksi 199 Ton Hidrogen Per Tahun, PLN Berhasil Kembangkan 21 Lokasi Rantai Pasok ‘Green Hidrogen Plant’

Pusat kampung Batik Laweyan tercatat sebagai pelopor industri batik moderen yang ramah lingkungan sejak tahun 2006 silam.

Hal tersebut dikarenakan di industrik batik Laweyan mengaplikasikan Instalasi Pengolah Air Limbah secara komunal dimana menjadi IPAL komunal pertama di Indonesia.

Instalasi air limbah tersebut dibangun dengan bantuan GTZ dari Jerman dan BLH Surakarta.

Baca Juga: Proyek SPAM Jatiluhur I di Jawa Barat Bakal Pasok Air Bersih Sebanyak 4.000 Liter Per Detik ke Jakarta, Rampung September 2024

Keberadaan instalasi ini memberikan inspirasi dan motivasi daerah lain untuk segera berbenah menuju terbentuknya kawasan industri ramah lingkungan.***

 

 

Rekomendasi