

inNalar.com – Sifat tegas dari Soeharto memang sudah dikenal semenjak dirinya berkarir di militer.
Hidup pada masa penjajahan, Soeharto sudah merasakan bagaimana hidup dalam jajaran kemiliteran Belanda, Jepang, maupun Indonesia.
Mengawali karirnya sebagai anggota KNIL di masa penjajahan Belanda, Soeharto juga masuk ke PETA di masa penjajahan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, Soeharto sempat bergabung ke Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebelum akhirnya resmi diangkat menjadi anggota TNI.
Perjalanan karir di bidang kemiliteran ini membuat Soeharto memiliki sifat tegas yang mampu mengantarkannya sampai ke jajaran tinggi militer.
Sebagai salah contoh dari sifat tegas yang dimiliki olehnya ini adalah ketika terjadinya peristiwa G30S PKI yang terjadi pada tahun 1965.
Dilansir inNalar.com dari buku Biografi Daripada Soeharto, pada tanggal 30 September itu, Soeharto, yang pada saat itu merupakan seorang Panglima Kostrad, tengah sibuk dengan tugasnya sebagai penanggung jawab pelaksanaan perayaan peringatan Hari Angakatan Bersenjata.
Selain itu, saat malam tiba, dia menemani istrinya di Rumah Sakit Gatot Soebroto karena anak kelimanya, Tommy, terkena tumpahan sup panas.
Pada keesokan paginya, yakni tanggal 1 Oktober 2023, seorang kameramen TVRI dan satu orang tetangganya datang ke rumahnya pagi-pagi buta untuk mengabarkan jika terdengar suara tembakan dari beberapa tempat.
Mendengar hal tersebut, Soeharto segera mencari tahu keberanan berita tersebut.
Setelah mengetahui jika ada beberapa pejabat tinggi Angkatan Darat yang diculik oleh orang-orang tidak dikenal, dirinya segera pergi ke Kostrad.
“Saya akan cepat datang di Kostrad dan untuk sementara mengambil pimpinan Komando Angkatan Darat,” ucapnya seperti dikutip dari buku Biografi Daripada Soeharto.
Pada pukul 7, melalui siaran dari RRI, Soeharto mengetahui telah adanya Gerakan 30 September yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (Letkol) Untung.
Letkol Untung sendiri merupakan salah satu anak didik tokoh PKI, Alimin.
Menurut berita yang Soeharto dengar, Letkol Untung tengah mengambil langkah-langkah untuk menggagalkan usaha kudeta oleh Dewan Jenderal yang disponsori oleh CIA.
Namun, Soeharto yakin jika tidak ada yang namanya Dewa Jenderal. Yang ada justru kegiatan dari Letkol Untung ini didalangi oleh PKI.
Lantas, dia memberi perintah kepada Letkol Ali Moertopo dan Brigjen Sabirin Mochtar untuk membawa komandan batalion pasukan di sekitar Monas yang dilihatnya saat dalam perjalanan menuju Kostrad.
Dia memiliki kecurigaan kalau dua batalion tersebut sedang dimanfaatkan oleh Letkol Untung dalam Gerakan 30 September
Mematuhi perintah dari tersebut, Letkol Ali Moertopo dan Brigjen Sabirin Mochtar membawa Kapten Kuntjoro dari Batalion 454 dan Kapten Suradi (atau Kapten Soekarbi) dari Batalion 530.
Saat ditanya tentang keperluan mereka di Monas, keduanya menjawab bahwa mereka tengah bertugas untuk melindungi Presiden dari Dewan Jenderal yang ingin melakukan kup (coup) atau kudeta.
Mendengar hal tersebut, Soeharto memerintahkan keduanya untuk mengembalikan pasukan ke Kostrad.
Dia juga menekankan kalau yang tengah mereka lakukan saat ini adalah sebuah pemberontakan.
“Kalau sampai pukul 6 sore nanti tidak segera kembali ke Kostrad, berarti kalian sudah berhadapan dengan pasukan saya,” ucap Soeharto dengan tegas.
Setelah mengatakan hal tersebut, Soeharto mengadakan rapat staf yang dihadiri oleh Yoga Sugama, Wahono, Djoko Basuki, Sruhardojo, dan Achmad Wiranatakusumah.
Hasil daripada rapat ini adalah kesimpulan bahwa G30S yang dipimpin oleh Letkol Untung ini merupakan sebuah coup atau kudeta dengan tujuan untuk merebut kekuasan secara paksa dan harus dilawan.
Para anggota rapat pun setuju dengan putusan Soeharto tersebut.
Selain itu, sebagian besar pasukan yang sebelumnya berjaga di Monas juga sudah kembali ke Kostrad.
Dengan ini, Soeharto berhasil menyelamatkan nyawa dua batalian militer yang diseret oleh Letkol Untung dalam Gerakan 30 September (G30S).***