Berkali-kali Ganti Desain, Jembatan Tertua di Kediri Jawa Timur Ini Akhirnya Ikuti Jejak Iron Bridge, Kenapa?

inNalar.com – Jawa Timur rupanya menyimpan jejak gemilang peradaban infrastruktur jembatan di Indonesia.

Salah satu jembatan tertua di Jawa Timur yang disebut usianya melampaui jembatan Brooklyn Amerika Serikat ternyata ada di Kediri.

Pasalnya, Jembatan klasik Brooklyn diketahui mulai beroperasi pada tahun 1883, sementara Jembatan tertua di Jawa Timur ini mulai beroperasi pada tahun 1969.

Baca Juga: Bisa Tampung Air Hujan 750.000 m3, Embung Cantik di Kalimantan Utara Ini Malah Terbengkalai

Penamaan Jembatan

Nama jembatan klasik ini adalah Jembatan Brawijaya Lama. Pada masa kolonial Belanda, infrastruktur penghubung dua wilayah ini disebut sebagai Brug Over den Brantas te Kediri.

Brug Over den Brantas te Kediri artinya adalah jembatan yang melintas di atas Sungai Brantas di Kediri.

Sebagaimana namanya, jembatan ini menghubungkan wilayah daratan Kediri yang ada di bagian Barat dan Timur.

Baca Juga: Punya 15 Pulau, Taman Nasional Seluas 220 Ribu ha di Sulawesi Selatan Ini Jadi Destinasi Wisata Selam Dunia?

Detail Jembatan Lama Kediri

Berdasarkan data yang dihimpun dari laman resmi Kota Kediri, Jembatan Brawijaya Lama ini menggantung di atas Sungai Brantas di ketinggian 7,5 meter.

Adapun panjangnya membentang hingga 160 meter dan lebarnya 5,8 meter. Bahan dasar pembangun jembatan ini terbuat dari besi.

Dari sisi bahan dasar pembangun jembatan tertua di Jawa Timur ini, infrastruktur klasik yang satu ini disebut jadi jembatan besi pertama di Pulau Jawa.

Baca Juga: Juaranya Bukan Bojonegoro, Ini 5 Daerah yang Jadi Penghasil Padi Terbesar di Jawa Timur, Ngawi Masuk?

Namun, di balik dari pelopor jembatan besi pertama di Jawa ini ternyata terdapat proses pembangunan yang begitu panjang.

Sejarah Pembangunan Jembatan Lama Kediri

Jembatan Brawijaya Lama atau biasa dikenal juga dengan Jembatan Lama Kediri ini bermula dari adanya keputusan dari Pemerintah Hindia – Belanda yang berencana mengerjakan proyek infrastruktur ini pada tahun 1854.

Alasan utama yang mendasarinya adalah Pemerintah Belanda ingin menghubungkan De Groote Postwg atau yang artinya Jalan Raya Pos penghubung Surabaya – Madiun.

Secara khusus tujuan pembangunannya adalah untuk menghubungkan wilayah Kediri yang dibelah oleh lintasan Sungai Brantas.

Pengajuan pembangunan jembatan ini pun diperhitungkan memakan biaya 128.891 Gulden. Adapun bahan dasar utama jembatan yang dirancang oleh Kapten Zeni ini diketahui terbuat dari batu.

Sebagaimana jika kita perhatikan pula di Belanda dan negara lainnya di Eropa, rata-rata bahan dasar jembatannya terbuat dari batu.

Namun, rancangan berbahan dasar batu ini mendapatkan penolakan dari seorang kepala Bagian Air Departemen di Surabaya, yang dahulu disebut dengan Waterstaat Afdeeling Soerabaia.

Sebab, apabila Jembatan bersejarah di Kediri ini terbuat dari batu, dikhawatirkan aliran air dari Sungai Brantas dapat terhalang.

Setelah proses diskusi lebih lanjut, akhirnya pada tahun 1859, pengerjaan fondasi jembatan sebelah barat selesai dibangun.

Namun, dua tahun setelahnya sempat vakum, karena salah satu alasannya adalah dana yang ternyata menggembung di luar rancanan awal.

Lalu, pada tahun 1982, seorang insinyur sipil Belanda, bernama Sytze Westerbaan Muurling, akhirnya mengajukan rancangan baru untuk Jembatan ini dengan mengubah bahan dasarnya menjadi besi.

Diketahui bahwa jembatan dengan konstruksi pertama di dunia awalnya dibangun di Inggris dengan nama Iron Bridge.

Setelah adanya inovasi pembuatan jembatan tersebut, akhirnya bahan dasar besi ini juga mulai diterapkan di berbagai negara, termasuk di Kediri, Jawa Timur.

Desain mutakhir ini dibawa oleh insinyur Belanda hingga akhirnya disetujui rancangannya dengan dana pembangunannya tembus 230.000 Gulden.

Akhirnya, setelah melewati perjalanan panjang, jembatan ini mulai dibuka untuk umum pada tanggal 18 Maret 1869.***

Rekomendasi