
inNalar.com – Tahukah bahwa ada satu sekolah Islam berasrama di Semarang, Jawa Tengah yang memiliki sematan julukan Pesantren Preman?
Julukan yang melekat pada Pondok Pesantren (Ponpes) unik ini telah memikat perhatian publik dan mengundang tanya masyarakat, apa benar label untuk ‘Preman’ ini memang ada dan nyata?
Jawabannya, iya benar ada. Sebutan itu muncul rupanya tidak terlepas dari asal-usul pendirian sekolah tersebut.
Terungkap dalam penelitian IAIN Kudus Jawa Tengah bahwa awal didirikannya ponpes Islam tersebut salah satunya adalah untuk membina para preman jalanan agar bertaubat.
Bermula dari sang pendiri sekolah unik di Semarang, K.H Muhammad Khuswanto atau gus Tanto , ia mengumpulkan tekad kuatnya untuk membangun sebuah sekolah Islam berasrama.
Sejalan dengan niat awal gus Tanto, pondok yang dibangunnya ini namanya ‘Pesantren Istighfar’. Ponpes paling unik se-Jawa Tengah ini terbangun apik di atas tanah seluas 252 meter persegi.
Lokasi tepatnya terletak di daerah Semarang Utara. Bangunan dua lantainya dapat terlihat di Jalan Purwosari Perbalan Gang 1 Nomor 755.
Penanda paling unik yang terlihat dari ponpes ini adalah gambar naga yang mengapit tulisan ‘Tombo Ati’ pada dinding biru pagarnya.
Namun perlu digaris bawahi, niat gus Tanto dalam mendirikan pesantren yang sebagian besar adalah eks bandit jalanan ini bukan hanya sekadar untuk pembeda dari ponpes pada umumnya.
Pesantren Istighfar Semarang di Jawa Tengah ini sengaja membina para preman di sekitar lingkungan pondok agar secara perlahan citra buruk daerahnya yang dikenal sebagai sarang penjahat bisa pudar.
“Untuk merubah citra buruk purwosari perbalan yang sudah terkenal sebagai sarang preman dan penyakit masyarakat,” dikutip dari penelitian IF Z Jamiil (2022) dalam IAIN Kudus.
Lebih dari itu, ada satu hal unik dan akan sedikit mengejutkan. Pada salah satu ruang sholatnya ada pencahayaan seperti lampu disko. Terungkap alasan di balik pemasangannya.
Lampu disko yang diletakkan di salah satu ruang sholatnya ini dimaksudkan untuk menjadi pengingat akan kesenangan dunia yang sesaat ini.
Selain itu, ubin lantainya pun sengaja dibuat retak. Makna filosofisnya adalah ruang sholat tersebut adalah tempat perhambaan Allah untuk semua kalangan tanpa mengenal kelas sosial.
Siapapun hamba Allah berhak untuk beribadah dan ber-istighfar di pondok pesantren di Semarang ini.
Tidak kalah uniknya, tembok kokoh ponpesnya juga ditulisi dengan ‘Wartel Akhirat (042433) yang pemaknaan filosofisnya diungkap oleh sang Peneliti.
Siapa pun yang beribadah di ruangan tersebut perlu mengosongkan gelasnya dalam artian memposisikan dirinya sebagai sosok yang lemah dan hanya meminta kepada Allah-subhanahu wa ta’ala.
Baca Juga: Tok! UMK Sulawesi Selatan 2025 Naik Jadi Rp3,6 Jutaan, Upah Minimum Pekerja Tambang di Atas Standar
Ciri khas pakaian yang dikenakan para santrinya adalah peci, pakaian, dan celana yang warnanya serba hitam.
Sebagai informasi, daerah Perbalan dahulu dikenal masyarakat sebagai zona hitam Semarang mengingat tingginya kriminalitas di kawasan tersebut.
Berkat adanya sekolah Islam di daerah tersebut, perlahan citra buruknya memudar seiring berjalannya waktu.***