Berjarak 93 Km dari Samarinda, Desa Tanpa Daratan Ini Ternyata Canggih: Punya Jembatan Buka Tutup

inNalar.com – Desa Muara Enggelam yang berlokasi di Kalimantan Timur mencuri perhatian karena dibangun terapung.

Hal ini membuat keberadaan desa tersebut unik karena biasanya sebuah pemukiman di bangun di atas tanah.

Lokasi desa Muara Enggelam berada di tengah Danau Melintang, dengan bangunan yang berdiri kokoh di atas air seakan terapung.

Baca Juga: 185 KM dari Jakarta, Pulau di Banten Ini Suguhkan Sensasi Hidup Bersama Satwa di Alam Liar

Bangunan yang biasa disebut rumah rakit tersebut dibangun dengan landasan log kayu kering kemudian diapungkan.

Warga di sini sama sekali tidak memakai alat transportasi selain perahu kayu yang digunakan untuk menyebrang dari satu tempat ke tempat lain.

Di lain sisi, Desa Muara Enggelam ini diketahui memiliki 747 penduduk pada tahun 2020, dan sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Baca Juga: Terancam Hilang dari Peta! Kantor Bupati Termegah se-Riau Ini Ternyata Habiskan Anggaran Rp 133 Miliar

Keunikan dari desa kecil inilah yang membuat pemerintah setempat ingin memaksimalkan potensinya sebagai destinasi wisata.

Saat ini, pemerintah setempat juga membangun beberapa penginapan dan homestay untuk pengunjung yang ingin berwisata kemari.

Namun, hal yang paling menarik dari desa ini adalah keberadaan jembatan kayu dengan sistem bascule, yaitu bisa buka tutup.

Baca Juga: Uniknya Kehidupan di Desa Daerah Ngawi, Kampungnya Justru Diisi Dengan Ratusan Kerbau, Bukan Dihuni Manusia?

Fenomena jembatan buka tutup ini dibuat untuk menghindari luapan sungai yang memberi dampak banjir di saat musim penghujan.

Dengan begitu, perahu yang menjadi satu-satunya alat transportasi dapat melintas di desa yang berlokasi di Kabupaten Kutai Kertanegara tersebut.

Jembatan ini dibangun pada tahun 2006 dan memiliki panjang 70 meter serta lebar 2 meter, menjadikannya salah satu dari sekian jembatan yang memakai sistem bascule di Indonesia.

Meski terlihat sederhana, pembukaan jembatan ini biasanya dilakukan saat ketinggian air sudah mencapai satu meter di bawah jembatan.

Namun bila tidak, jembatan ini tetap akan ditutup dan digunakan warganya untuk menyebrang dari satu tempat ke tempat lain.

Kecanggihan jembatan kayu ini memberikan kesan bahwa Indonesia juga tidak kalah dengan teknologi luar negeri walaupun berada di pedalaman.***

Rekomendasi