

inNalar.com – Sejarah Nuzulul Quran sangat baik diketahui oleh setiap muslim, karena itulah hari ketika kitab suci agamanya diturunkan.
Memahami kisah di balik peristiwa besar tersebut akan membuat kaum muslimin semakin cinta terhadap dasar dan pedoman hidupnya.
Nuzulul Quran terjadi di salah satu malam pada bulan puasa melengkapi keberkahan setiap waktunya, tepatnya di hari atau tanggal ke 17 Ramadhan.
Baca Juga: Nuzulul Quran 2022, Ini Deretan Keistimewaan yang Terjadi saat Al-Quran Diturunkan ke Bumi
Ramadhan memang merupakan bulan yang istimewa, pertama karena merupakan saat diturunkannya Al Qur’an yang menambah pahalanya dengan membacanya.
Dikutip inNalar.com dari artikel Portal Jember berjudul “Inilah Sejarah dan Kemuliaan Nuzulul Qur’an di Bulan Ramadhan yang Wajib Diketahui” pada Minggu, 3 April 2022 yang kedua ada malam termulia.
Kedua, dalam bulan Ramadhan ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan yang disebut malam lailatul qadar. Nilai ibadah yang dilaksanakan di malam ini, lebih baik daripada nilai ibadah seribu bulan.
Baca Juga: Kapan Peristiwa Nuzulul Quran Terjadi? Simak Sejarah dan Keutamaan Memperingati Turunnya Al Quran
Ketiga, ramadhan merupakan bulan istimewa, karena kebaikan-kebaikan yang dikerjakan bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda.
Pada kesempatan ini penting bagi kita mengingat kembali peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat Islam, yaitu malam pertama diturunkannya al-Qur’an oleh Allah Swt melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Pada saat itu, tepat pada malam Jum’at bertepatan dengan hari ke tujuh belas Ramadhan, dan akhirnya kita kenal dengan malam Nuzulul Qur’an.
Bila kita mengkaji kembali tentang peristiwa ini, pelajaran yang dapat dipetik adalah agar ketaqwaan kita semakin kuat dan keyakinan kita semakin mantap terhadap kitab suci al-Qur’an yang isinya memberi petunjuk bagi umat manusia serta pembela di antara perkara yang haq dan bathil.
Sebagaimana Firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 185:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Baqarah [2]: 185)
Adapun ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surah al-‘Alaq ayat 1 sampai 5.
Al-Qur’an diturunkan ke bumi tidak sekaligus tetapi berangsur angsur, sedikit demi sedikit, bertahap, sesuai
dengan situasi dan kondisi yang dihadapi Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Israa, ayat 106:
“Dan al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur angsur agar kamu membacakannya perlahan lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”. (QS. al-Israa [17]: 106)
Baca Juga: 8 Tips Atasi Ngantuk dan Malas saat Sholat Tarawih Ramadhan 2022
Dengan bertahap ini, maka al-Qur’an lebih mudah diterima dan mudah dihafal. Dan waktu itu, faktanya banyak dari para sahabat Nabi yang hafal al-Qur’an.
Namun di fase berikutnya, terjadi pertempuran antara orang Islam dengan kaum kafir dan musyrik yang menentang serta menghalangi dakwah Nabi hingga akhirnya banyak para sahabat Nabi yang gugur di medan perang sebagai syuhada’, tak terkecuali para sahabat penghafal al-Qur’an.
Oleh karena itu, muncul sebuah gagasan untuk membukukan al-Qur’an sebagai suatu kitab, hingga pada gilirannya dapat dinikmati sampai sekarang ini, dan Allah senantiasa menjaga keaslianya.
Setelah mengetahui secara sekilas tentang proses turunya al-Qur’an, maka hendaknya kita mensyukuri kenikmatan luar biasa yang dilimpahkan oleh Allah kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW yang berupa al Qur’an yang berisi petunjuk-petunjuk yang benar.
Dari itulah, kita sebagai umat Nabi Muhammad, patut kiranya hunjuk syukur yang senantiasa tercurahkan kepada Allah Swt, karena hingga kini masih menikmati keimanan dan keislaman kita.
Wujud terima kasih dan rasa syukur atas turunya al- Qur’an ini harus direalisaikan dalam kehidupan umat Islam sehari hari, yaitu dengan perlakuan yang sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh, baik dalam membaca, memahami makna, mengamalkan isinya, mengajarkan dan mendakwahkan isi kandungan al-Qur’an, dengan harapan kelak di hari kiamat mendapat syafa’atnya.
Baca Juga: Apakah Menangis bisa Membatalkan Puasa Ramadhan? Simak Pandangan Buya Yahya Berikut Ini
Dengan begitu, semangat Ramadhan dengan sekian kemuliaan di dalamnya, rasa-rasanya kita harus senantiasa berkhitmad atas diturunkannya al-Qur’an ini.
Momentum Ramadhan, sebagai bulan turunnya al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) pertama kali ke bumi, patut bersyukur, membaca, dan mengamalkan isi kandungannya.***(Yunia Permadani Putri E/Portal Jember)