

inNalar.com – Setelah melewati keterpurukan dan rasa frustasinya di masa lalu, Soeharto berhasil berada di pintu kesuksesan.
Soeharto dipercaya untuk menjadi Komandan Cadangan Angkatan Darat pada Maret 1961.
Irian Barat di ujung Indonesia turut menjadi perhatian Soeharto kala itu.
Baca Juga: Resmi! Organisasi Projo Bakal Dukung Prabowo di Pilpres 2024: Bukti Tegak Lurus ke Jokowi?
Kala itu, Soeharto berperan sebagai panglima yang dibantu oleh Kolonel Ahmad Wiranatakusumah, Amirmachmud, dan Kolonel Rukman sebagai staf.
Saat itu CADUAD mempunyai misi, yaitu melatih unit tempur terkuat dari tiga Kodam di Jawa.
Tiga Kodam tersebut diantaranya Siliwangi, Diponegoro, dan Brawijaya.
Melatih para Kodam tersebut bertujuan supaya bisa menjadi pasukan cadangan yang dibutuhkan pada saat kebutuhan mendesak.
Pada 1 Oktober 1961, tugas Soeharto semakin bertambah, apalagi ia dipercaya menjadi pemimpin di Komando Pertahanan Udara (Kohanudad).
Lalu, saat akhir tahun itu juga ada ketegangan antara Republik Indonesia dengan Belanda.
Ketegangan itu memuncak akan adanya niat Belanda yang ingin mendirikan sebuah negara baru di Irian Barat.
Soekarno pun meradang karena Belanda berarti mengingkari perjanjian KMB.
Kemudian, pada 17 Agustus 1961, Republik Indonesia akhirnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda.
Singkat cerita, pada Desember 1961, Soekarno memaklumatkan Trikora (Tri Komando Rakyat).
Berisikan, diantaranya Pertama, gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua yang merupakan buatan Belanda.
Kedua, kibarkan Bendera Sang Merah Putih di Irian Barat, Tanah Air Indonesia.
Lalu, ketiga, bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air dan Bangsa Indonesia.
Berikutnya, Komando yang bernama Komando Mandala mulai dibentuk dengan tujuan untuk merebut kembali Irian Barat.
Presiden pun mengangkat dirinya sebagai pemimpin dan Nasution sebagai wakilnya.
Lalu, Ahmad Yani diangkat sebagai kepala staf dan Soeharto sebagai pelaksana operasi.
Pembentukan struktur ini, disambut Soeharto dengan kebanggaan.
Mengutip dari Buku “Biografi Daripada Soeharto” karya A. Yogaswara, menerangkan Soeharto senang menerima tantangan tersebut.
Tahun pun telah berganti, tepat pada 1 Januari 1962, pangkat Soeharto dinaikkan menjadi Mayor Jenderal.
Kemudian secara resmi menjadi Panglima Komando Mandala dimulai pada 23 Januari 1962.
Demi melancarkan tugas di Irian, Soeharto secara resmi diangkat menjadi Deputi Wilayah Indonesia Timur menggantikan Ahmad Yani.
Sesuai perintah atasan, Soeharto ditargetkan sudah mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat paling lambat pada 17 Agustus 1962.
Pada penunjukan diri sebagai Panglima Komando Mandala, maka telah menandakan bahwa Soeharto telah mengakhiri kekelaman karier militernya yang sebelumnya biasa saja. ***