

inNalar.com – Efek domino dari pandemi covid-19 seolah tak pernah usai meski masyarkat sudah kembali beraktivitas secara normal.
Salah satu perusahaan yang terkena imbasnya hingga kini adalah produsen sepatu raksasa di Jawa Barat karena terlilit utang miliaran.
Pada 30 April 2024 produsen sepatu legendaris BATA, terpaksa menutup pabriknya di Purwakarta Jawa Barat yang sudah berdiri sejak 1994.
Baca Juga: Bandung Kalah! Ini 5 Kabupaten Terpintar di Jawa Barat: Warganya Terkenal Cerdas
Penutupan pabrik bersejarah ini bukan pilihan yang mudah bagi perusahaan, namun kebijakan ini seolah menjadi satu-satunya jalan terbaik yang bisa dipilih.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan pada 9 bulan pertama 2023, pendapatan perusahaan mengalami penurunan 0,4 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Pada periode 2022 pendapatan BATA di angka Rp490,58 miliar sedangkan di tahun 2023 turun Rp1,2 miliar di angka Rp488,48 miliar.
Baca Juga: Jawa Timur Sentra Produksi Kentang Terbesar di Indonesia, Yuk Coba Resep Khasnya!
Selain adanya penurunan angka penjualan, perusahaan sepatu ini juga memiliki beberapa beban yang menjadi penyebab utama ruginya keuangan perusahaan.
Beban tersebut diantaranya adalah rugi usaha, bunga utang, dan pajak penghasilan.
Jika ditotal jumlah kerugian tersebut mencapai angka Rp80,45 miliar yang naik 4 kali lipat dibanding dengan tahun sebelumnya (yoy) yaitu sebesar Rp20,34 miliar.
Baca Juga: 5 Provinsi dengan Kualitas Pendidikan Terbaik di Indonesia: No 1 Bukan Jakarta, No 4 Gak Nyangka
Tak hanya sampai disitu, duka pandemi covid-19 adalah pukulan telak bagi BATA yang mengakibatkan anjloknya penurunan penjualan pada 2020 yang mencapai 50,65 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya (yoy).
Perekonomian perusahaan yang kian merugi membuat perusahaan harus berani mengambil utang lagi sebagai sebuah upaya penyelamatan.
Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, perusahaan ini mencatatkan kenaikkan angka jumlah utang bersihnya pada 363 persen yang disumbang dari utang jangka pendek.
Baca Juga: Gagal Wajib Belajar 12 Tahun: Krisis Pendidikan Menghantui 5 Provinsi di Indonesia, Papua Terparah
Jika dilihat kembali ke dalam kondisi keuangan perusahaan, utang jangka pendek tersebut nyatanya malah menjadi tambahan beban bagi BATA.
Pasalnya, banyak utang yang jatuh tempo dalam waktu dekat sedangkan arus kas bersih operasi perusahaan tidak akan mampu menutupi utang tersebut sebelum batas waktu penagihan.
Mau tidak mau, perusahaan sepatu ini yang menutup pabriknya di Jawa Barat ini harus memilih opsi gali lubang tutup lubang.
Baca Juga: Bukan Cuma Minyak Sawit, Riau Juga Punya ‘Harta Karun’: Setiap Tahun Produksinya Capai…
Meskipun tetap akan berdampak lebih buruk lagi bagi kondisi keuangannya.
Menurut Firman Bakri selaku Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), BATA mengalami kerugian bukan hanya dari efek domino pandemi covid-19.
Firman mengatakan, salah satu penyumbang kerugian BATA adalah pabriknya berlokasi di kawasan yang memiliki Upah Minimum Rata-Rata (UMR) yang tinggi sehingga menjadi beban bagi keuangan perusahaan.
Selain itu, aturan Verifikasi Kemampuan Industri tahun 2023 dan kebijakan baru dari Permendag yang menjadikan barang buatan dalam negeri lebih mahal dari luar negeri juga mengambil andil dalam turunnya penjualan BATA.
Baca Juga: Jawa Timur Cetak Rekor Baru: Produksi Bawang Merah Terbesar di Indonesia dari Bumi Majapahit!
Firman juga menyoroti momoen lebaran 2024 yang harusnya menjadi puncak perputaran uang di dalam negeri, justru malah terlihat lesu dan jauh dari harapan.
Ia menambahkan, jika di momen tersebut ekonomi perusahaan tetap tidak tertolong maka akan semakin sulit kedepannya.***