Berdiri Sejak 1848! Tambang Batu Bara di Kalimantan Selatan Hasilkan 10 Ribu Ton Per Tahun, Jadi yang Tertua?

inNalar.com – Salah satu daerah yang memiliki tambang batu bara di Indonesia adalah Kalimantan selatan.

Bahkan tambang di Kalimantan Selatan ini sering disebut sebagai tambang batu bara pertama yang ada di Indonesia.

Bagaimana tidak, tambang batu bara di Kalimantan Selatan ini saja telah berdiri sejak jaman kolonial Belanda, yaitu perkiraan pada tahun 1848.

Baca Juga: 10 Latihan Soal PTS, UTS Matematika Kelas 4 SD/MI Semester 1 Lengkap dengan Jawabannya, Ujian Auto Mudah

Sebagai perbandingan, tambang ini lebih tua dibandingkan tambang Sawah Lunto di Sumatera Barat, yang ada sejak tahun 1870.

Kala itu, bahkan yang meresmikan tambang batu bara pertama di Indonesia ini adalah gubernur jenderal dari Belanda.

Gubernur Jenderal tersebut adalah Rochussen, yang melakukan peresmian tambang batu bara di Pengaron, wilayah kerajaan Banjar.

Baca Juga: Ditinggalkan AS, Proyek Pembangunan Pabrik Batu Bara Rp225 Triliun di Sumatera Selatan Ini Dilirik China?

Ya, tambang batu bara yang jadi pertama sekaligus tertua di Indonesia ini berada di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Sedangkan nama untuk tambang batu bara pertama di Indonesia ini adalah Oranje Nassau.

Nama tambang tersebut diambil dari masa dinasti (wangsa), yang adalah Oranje Nassau di negara kincir angin, Belanda.

Baca Juga: Proyek Rp225 Triliun Ditinggalkan! Pabrik Batu Bara di Sumatera Selatan Ini Kerja Sama dengan AS, Tapi…

Dilansir InNalar.com dari k.stekom.ac.idp2, tambang batu bara Oranje Nassau di Kalimantan Selatan ini kurang lebih memiliki luas sekitar 169,6 m2.

Mungkin tambang batu bara pertama di Indonesia ini terkesan kecil, karena masa pengoperasiannya saja hanya dilakukan selama 10 tahun.

Eksploitasi batu bara di tambang Oranje Nassau kabupaten Banjar ini dulu dilakukan pada tahun 1849-1859.

Meskipun terkesan kecil, namun diketahui jika tambang tertua di Kalimantan Selatan ini mampu hasilkan hingga 10.000 ton batu bara per tahun.

Walaupun batu bara itu merupakan hasil bumi dari tanah Nusantara, namun hasil tambang tersebut justru digunakan oleh Belanda.

Perlu diketahui, daerah tambang itu sebenarnya merupakan tanah lungguh yang diberikan sultan pada mangkubumi dengan nama Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana.

Akan tetapi karena diambil oleh Belanda, negeri kincir angin tersebut memberikan 40 golden sebagai gantinya pada Mangkubumi.

Pemberian 40 golden pada Mangkubumi itu dilakukan saat batu bara yang dihasilkan yaitu sebanyak satu ton.

Sedangkan batu bara yang berhasil diambil digunakan oleh para penjajah untuk operasional bahan bakar kapal-kapal bertenaga uap milik Belanda.

Meskipun jadi yang tertua sekaligus tambang batu bara pertama di Indonesia, namun kini tambang tersebut sudah tidak beroperasi.

Sebab kini tempat tersebut telah menjadi situs tambang batu bara, yang merupakan cagar budaya Indonesia.***

Rekomendasi