

inNalar.com – Pontianak merupakan ibu kota yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan di Provinsi Kalimantan Barat.
Lebih dari 70 persen penduduk pontianak merupakan pemeluk agama Islam.
Penyebaran agama Islam di Pontianak telah digaungkan sejak zaman penjajahan Belanda.
Baca Juga: Anggarannya Rp492,9 Miliar, Desain PLBN di Jayapura Ini Mengusung Budaya Lokal Papua
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya masjid di Pontianak yang berdiri pada tahun 1771.
Masjid tersebut sekaligus jadi yang tertua di Pontianak dan dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman atau populer dengan nama Masjid Jami Pontianak.
Dilansir inNalar.com dari jepin.pontianak.go.id, lokasi masjid ini berada di Dalam Bugis, Pontianak Timur, Kota Pontianak.
Baca Juga: Menelan Dana Rp6 Triliun, Proyek Jalan Tol Indrapura-Kisaran Ini Sempat Bikin Warga Demo, Kok Bisa?
Jadi yang terbesar di Pontianak, tempat ibadah ini merupakan peninggalan Kerajaan Pontianak yang terletak di Dalam Bugis.
Awalnya, tempat ibadah ini hanya sebuah langgar sederhana yang kemudian dibangun menjadi masjid pada tahun 1819.
Secara keseluruhan, bentuk dari tempat ibadah ini memiliki konsep arsitektur Jawa, Timur Tengah, Melayu, dan Eropa.
Baca Juga: Anggarannya Rp492,9 Miliar, Desain PLBN di Jayapura Ini Mengusung Budaya Lokal Papua
Hal tersebut dapat dilihat bentuk atap undak seperti tajug pada konsep arsitektur jawa dngen bentuk mahkuta atau genta khas Eropa di bagian ujungnya.
Konsep khas eropa juga terlihat dari pintu dan jendela masjid yang cukup besar.
Gaya arsitektur khas Timur Tengah terlihat pada mimbar yang berbentuk kubah.
Selain eksteriornya yang menakjubkan, bagian interiornya pun sangat menawan.
Mayoritas bahan bangunan masjid ini berbahan kayu Belian yang membuat struktur bangunannya tampak kokoh dan kuat.
Salah satu komponen dari masjid ini yang berbahan kayu Belian adalah tiang penopang bangunannya.
Tiang itu merupakan kayu belian yang berukuran raksasa menulang setinggi 20 meter.
Keberadaaan Tiang kayu tersebut mulai tahun 1970 an hingga sekarang masih sangat kokoh.
Konon katanya, kayu-kayu belian tersebut diambil dari hutan di daerah Ketapang.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi