

inNalar.com – Sulawesi Selatan memiliki kebudayaan yang masih mengental dan juga memiliki warisan yang perlu dijaga dari para leluhur atau nenek moyang
Bahkan masih terdapat perkampungan yang tertinggi berada di daerah pelosok Sulawesi Selatan, seperti halnya perkampungan ini memiliki nama Kampung Opang.
Kampung Opang merupakan sebuah perkampungan yang berada di pelosok desa yang terletak di Pinrang Sulawesi Selatan.
Diketahui bahwa Kampung Opang ini berada di ketinggian 1.392 mdpl, untuk menuju ke perkampungan tersebut harus mengakses jalan yang memiliki jalur ekstrim.
Sehingga harus hati-hati bahkan untuk jarak tempuh menuju ke perkampungan kecil berada di ketinggian tersebut harus menyita waktu perjalanan hingga 9 sampai 10 jam dari Kota Makassar.
Sungguh luar biasa para penduduk yang menempati perkampungan yang berada di atas bukit, bahkan para penduduk yang tinggal disana jauh dari kata modern.
Karena perkampungan tersebut berada di pelosok yang memiliki ketinggian dan juga jalur yang ekstrim membuat para penduduk hidup sederhana.
Untuk melakukan perjalan ke Kampung Opang ini bisa diakses menggunakan sepeda motor tetapi para penduduk juga biasanya jalan kaki.
Pada zaman dulu Kampung Opang berada di Limbong yang berada di Tana toraja tetapi para penduduk memilih untuk pindah tempat.
Alasan pindah tersebut karena Kampung Opang yang berada di Limbong Tana Toraja jauh dari pasar dan juga sekolah.
Sehingga para penduduk memilih untuk pindah ke Kampung Opang Lembang yang berada di Kabupaten Pinrang untuk meneruskan kehidupan yang lebih baik lagi serta memudahkan untuk mencari pangan.
Mata pencaharian Kampung Opang yang berada di pelosok ini adalah berkebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk makan dan juga keperluan lainnya.
Untuk Kampung Opang sendiri dihuni oleh 51 kepala keluarga yang menetap di sana dengan jumlah sebanyak 503 orang jiwa.
Sebagian para penduduk yang menetap di Kampung Opang yang berada pelosok Sulawesi Selatan menganut kepercayaan Aluk Todolo.
Kepercayaan tersebut merupakan peninggalan dari leluhur atau nenek moyang para penduduk Tana Toraja,tetapi masyarakat ada yang sudah menganut kepercayaan islam dan juga kristen.***