Bentuk Candi Mirip Piramida Suku Maya, Benarkah Jawa Tengah Merupakan Pusat Peradaban Dunia?

inNalar.com – Suku Maya merupakan suku yang dikenal karena kepintarannya dalam berbagai bidang.

Unggul dalam seni, arsitektur, serta pembuatan kalender, Suku Maya disebut menjadi peradaban terbesar dalam sejarah.

Meski begitu, suku unggul ini telah punah dan dikatakan memiliki keturunan yang tinggal di daerah Meksiko Selatan.

Baca Juga: 192 KM ke Kota Jambi, Desa di Merangin Ini Berusia 700 Tahun dan Penduduknya Punya Kebiasaan Unik

Salah satu peninggalan Suku Maya yang terkenal adalah piramida kuno yang dikenal menjadi pusat politik pada masa itu, Chichen Itza.

Piramida ini menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2007 dan masih berdiri dengan utuh hingga saat ini.

Dengan struktur candi yang kompleks, diketahui piramida ini merupakan simbol ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Habiskan Dana Rp 1,9 T, Bendungan Termahal di Sulawesi Utara ini Sajikan Pesona Alam Dekat Situs Purbakala

Akan tetapi, arstitektur dari piramida ini ternyata sangat mirip dengan Candi Sukuh yang terletak di Karanganyar, Jawa Tengah.

Banyak yang heran karena keunikan candi dengan bentuk piramdia dan arca-arca yang mirip dengan peradaban Mesopotamia.

Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai asal usul peradaban yang ada di Nusantara, terutama Jawa Tengah.

Baca Juga: Dulunya Jadi Tempat Penemuan Emas Pertama di Indonesia, Daerah Tambang di Banten Ini Mendadak Berubah Total

Apakah hubungan peradaban asing pernah ada di Nusantara, atau bahkan lebih menarik lagi, apakah Jawa Tengah pernah menjadi pusat peradaban dunia?

Dilansir inNalar.com dari kanal YouTube @ASISIChannel, ternyata begini hubungan Candi Sukuh dengan Chichen Itza Suku Maya.

Sejak pertama kali ditemukan, Candi Sukuh memang sudah menimbulkan teka-teki tentang asal-usul dan tujuan sebenarnya.

Meski beberapa ahli percaya bahwa kemiripan bentuk dan artefak dengan peradaban lain, ternyata pendapatan ini berbanding terbalik dengan sejarahnya.

Arkeolog mengatakan bahwa gapura Candi Sukuh dibangun sebagai bentuk teguran dari dewa untuk menyelamatkan Kerajaan Majapahit dari keterpurukan.

Dilihat dari bentuk relief raksasa menelan manusia dengan sederet tulisan, gapura candi ini sangat memperlihatkan kekhasan Majapahit.

Di lantai gapuranya, terdapat relief yang sangat mirip dengan holy grail, namun ternyata ini merupakan simbol penyatuan maskulin dan feminin yang lazim di candi-candi Jawa.

Sedangkan di sayap kiri dan kanannya, terdapat arca burung yang sangat mirip dengan tiang totem, simbol peradaban Maya.

Sayangnya, burung ini merupakan kisah Garudeya yang menceritakan Garuda mengalahkan ular.

Arca Candi Sukuh, yang sering dihubungkan dengan mitos Anunnaki dari Mesopotamia sebenarnya adalah dua prasasti berangka tahun 1441 dan 1442 M.

Meskipun memiliki bentuk mirip manusia burung, sebenarnya menggambarkan garuda yang mencengkram gajah dan kura-kura, bukan alien atau mitos lainnya.

Candi Sukuh sendiri didirikan oleh Majapahit pada abad ke-15 M, jauh setelah peradaban Mesopotamia dan Maya Klasik.

Jadi, Klaim Jawa Tengah sebagai pusat peradaban dunia berdasarkan Candi Sukuh membutuhkan bukti yang lebih kuat, sehingga hal tersebut kurang tepat.***

Rekomendasi