Benny Moerdani Tukang Jagal Baru Soeharto yang Disingkirkan Hanya Karena Berani Ngomong? Simak Sejarahnya!

inNalar.com – Sosok Benny Moerdani merupakan orang kuat kedua yang dijadikan tangan kanan Soeharto setelah meredupnya Ali Moertopo.

Diketahui pula Benny Moerdani merupakan murid dari Ali Moertopo yang saat itu bertanggung jawab terhadap lembaga non pemerintahan Opsus.

Karir Benny Moerdani terlihat mulai ‘sangar’di hadapan Presiden Soeharto. Bagaimana tidak, setelah meredupnya Ali Moertopo setelah peristiwa Malari, Benny diangkat oleh Soeharto menjadi Panglima ABRI sekaligus  Panglima Kopkamtib.

Baca Juga: Orang Terkaya ke-6 di Dunia, Yusril Ihza Mahendra Beberkan Sosok Soeharto: Gak Makan Mewah, Hidup Sederhana

Tanggung jawab sebagai panglima ABRI yang diberikan oleh Soeharto adalah menjadi otak dari pembentukan operasi Petrus pada tahun 1983.

Aksi Petrus tersebut cukup terkenal pada masa itu, hingga membuat masyarakat berpikir dua kali ketika melakukan tindak kriminal, salah satunya Benny Moerdani.

Petrus tidak segan-segan menghabisi nyawa para pelaku kejahatan di tempat. Dengan tangan besinya petrus sangat diagungkan oleh aparat keamanan.

Baca Juga: Butuhkan Anggaran Sebesar US$ 4,2 Miliar, JBIC Investasikan 48 Persen untuk Proyek PLTU Batang di Jawa Tengah

Angka kriminalitas yang awalnya begitu tinggi kian menurun dengan masifnya aksi petrus yang dibawah komando Benny Moerdani.

Soeharto pun menyukai aksi – aksi yang di konsep olehnya. Bahkan Soeharto memberikan pernyataan kepada masyarakat saat itu.

Menurut pernyataan Soeharto dalam Biografi Daripada Soeharto, mengungkapkan jikalau kriminal itu harus diberi shock therapy agar tidak melakukan tindakan kejahatan lagi.

Baca Juga: Dituduh Lakukan Aksi Subversi, Bung Tomo Jadi Tim Oposisi, Dipenjarakan Soeharto Karena Mengkritik Tentang…

Ketakutan dalam masyarakat sukses ditanamkan Benny Moerdani lewat aksi petrusnya.

Tidak hanya sekali, Benny Moerdani juga menjadi dalang dalam aksi Tanjung Priok yang terjadi pada bulan September tahun 1984 lalu.

Kerusuhan dan demo besar-besaran terjadi pada tahun tersebut, dalam menentang kebijakan Soeharto tentang menjadikan pancasila sebagai asas tunggal bagi seluruh organisasi massa yang ada di Indonesia.

Kebijakan tersebut banyak mendapati tentangan terutama di kalangan kelompok islam. Kekacauan pun tak dapat dielakkan dan sangat masif terjadi dalam pemerintahan Soeharto kala itu.

Lagi – lagi Benny Moerdani menjadi dalang dalam memadamkan perlawanan yang sempat chaos. Angkatan bersenjata yang dikomandoi Benny Moerdani turun tangan secara langsung.

Pada saat itu, pergerakan dari para perusuh sedang gencar – gencarnya. Angkatan bersenjata dengan senjata lengkap, memadamkan lampu secara tiba –tiba dan terdengar suara tembakan.

Diketahui 23 orang menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut. Bahkan pimpinan ponpes Lirboyo Kediri sempat mempertanyakan tindakan angkatan bersenjata tersebut.

Benny Moerdani dengan santainya menjawab bahwa tindakan tersebut bukan dimaksudkan untuk memojokkan kaum muslim yang ada.

Rentetan kejadian tersebut membuat nama Benny Moerdani setara dengan Soeharto, bahkan dalam tindakan yang dilakukan hampir memiliki satu visi dan pemikiran yang sama.

Hal itu dirasa oleh Soeharto yang kemudian mulai menyingkirkan Benny Moerdani dan memberikan batasan terhadap kuasanya di angkatan bersenjata.

Tak lama, Benny Moerdani dilepas sebagai Panglima ABRI pada tahun 1988 oleh Soeharto. Namun, atas saran dari Soedomo Soeharto kembali ‘memakai’ Benny Moerdani sebagai Menhakam pada kabinet tahun 1993.***

Rekomendasi