

inNalar.com – Pembangunan bendungan yang di beri nama Bendungan Keureuto merupakan proyek strategis Nasional di Aceh sempat terhambat.
Di lansir dari Biro Administrasi Pembangunan Pemerintah Aceh, akibat terhambatnya proyek tersebut dikarenakan adanya pembebasan lahan di Kabupaten Aceh Utara setelah 5 tahun di resmikan oleh presiden Joko Widodo.
Bendungan yang terletak di Kecamatan Paya Bakong Aceh Utara ini telah terbangun dengan proses sekitar 65.63% dari tahun 2015.
Memiliki Fungsi utama yang tidak kalah dengan bendungan yang lainnya, bendungan ini untuk menampung air dari sungai Krueng Keureuto.
Dimana sungai tersebut merupakan sungai yang mencegah aliran arus ke dalam alur Krueng Keureuto, sehingga berdampak banjir yang tinggi di daerah sekitaran hilir.
Dilansir dari beberapa sumber, bendungan ini memiliki kapasitas tampung sekitar 215,94 juta/m3.
Baca Juga: Telan Dana Hampir 6 Triliun, Jalan Tol Terpanjang se-Jawa Timur Ini Hubungkan Kediri dan Tulungagung
Diperkirakan bendungan ini raih debit banjir hingga 50 tahun periode kedepannya di kawasan Aceh Utara.
Bendungan Keureuto ini juga memiliki fungsi sebagai oenyedia air irigasi yang bisa mengairi lahan seluas 9.420 hektar.
Sehingga bendungan Keureuto sangat bermanfaat bagi masyarakat Aceh Utara untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat setempat.
Tidak hanya itu, bendungan keureuto juga dijuluki sebagai bendungan multifungsi bagi masyarakat.
Dikaitkan dari sumber PUPR, pembangunan bendungan yang telah dibangun dari tahun 2015 dengan biaya sekitar Rp. 2.68 triliun ini dilaksanakan secara bertahap dalam empat paket.
Tingginya debit bendungan ini mengakibatkan pembangunannya berhenti sementara.
Pemerintah berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini pada tahun 2024 mendatang.
Banyaknya antusias dari masyarakat ingin melihat bendungan ini selesai juga memberikan kontribusi ke pemerintahan untuk menyelesaikannya dengan cepat.
Dengan begitu pencegahan banjir di Aceh Utara segera terealisasikan.***