

inNalar.com – Kalimantan Selatan memiliki julukan wilayah dengan seribu sungai, sejak jaman dahulu penduduknya memang dikenal sering menggunakan transportasi air untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Salah satu transportasi air yang usianya sudah ribuan tahun bernama jukung. Jukung sudah ada sejak zaman sejarah dan bermula saat migrasi pertama bangsa proto melayu atau melayu tua dari Sungai Mekong, Yunan, China ke Kalimantan.
Dugaan pembuatan jukung di masa itu sudah menggunakan peralatan logam teknik-teknik khusus dalam membuat transportasi berbahan dasar kayu.
Baca Juga: iOS 17: Inilah 7 Fitur Baru yang Menarik dan 3 Seri iPhone yang Tidak Dapat Pembaruannya, Apa Saja?
Dikutip inNalar.com dari Jurnal Socius dengan judul Jukung dalam Perspektif Nilai Sosial Masyarakat Banjar di Desa Pulau Sewangi yang ditulis Ismi Ridhoni tahun 2016 menyatakan bahwa terdapat idiom lama menyebut ‘tidak ada orang Banjar jika tidak ada jukung’.
Idiom di atas berasal dari catatan sejarah yang menyatakan kerajaan Banjar di Kuin lahir setelah Pangeran Samudera lari mengasingkan diri dengan menaiki jukung dari Daha di Negara.
Selain itu, budaya jukung di zaman dahulu sangat erat dan identik dengan kehidupan masyarakat Banjar jauh sebelum transportasi modern hadir di pulau Kalimantan.
Baca Juga: Mengenal Manfaat dan Efek Samping Minuman Kolagen Bagi Tubuh, Apakah Bisa Memutihkan Kulit?
Namun keberadaan jukung kini sudah tidak sebanyak di masa lalu, transportasi kuno tersebut menjadi salah satu warisan budaya orang Banjar yang dilestarikan, terutama untuk mengenang leluhur Banjar yang mengarungi lautan dengan menggunakan jukung.
Bentuk awal yang dianggap sebagai jenis jukung pertama disebut jukung sudur. Ukuran dari jukung sudur bervariasi mulai dari yang kecil hingga yang besar misalnya Jung Banjar di abad ke-16 masehi.
Kayu yang digunakan untuk membuat perahu jukung di masa lalu menggunakan kayu ulin dan kayu cangal, namun karena kedua jenis kayu tersebut dinilai sudah langka maka sekarang pembuatan jukung beralih dengan mamakai kayu kelepek, kayu madi hirang, kayu laman biru, dan kayu kasak.
Baca Juga: Prediksi Soal UTS, PTS Kelas 8 SMP Pelajaran IPA Semester 1, Dijamin Keluar! Lengkap Beserta Jawaban
Peralatan kuno yang digunakan untuk memahat jukung juga sangat sederhana hanya berupa balayung atau beliung semacam kapak yang matanya melintang atau tidak searah dengan tangkai kapaknya.
Alat kedua yaitu parang pembalokan yang digunakan untuk menebang dan melubangi badan jukung karena dulu tidak ada alat pengebor kayu seperti saat ini.
Selain itu ada katam atau serut kayu untuk meratakan dan menghaluskan permukaan bentuk dasar jukung.
Selain sebagai warisan kebudayaan Banjar, jukung juga memiliki nilai sosial dan nilai ekonomi.
Nilai sosial dari jukung adalah sebagai warisan yang dalam pembuatannya mengandung nilai gotong-royong dan nilai kearifan lokal dimana masyarakat erat hubungannya dengan alam sekitar.
Selain itu, nilai ekonomi didapat dari ketertarikan orang luar dengan pasar terapung yang menggunakan jukung tradisional, sehingga adanya wisatawan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat Banjar.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi