

inNalar.com – Jembatan Ampera yang sudah lama menjadi ikon Kota Palembang, membuat keberadaannya dikenal oleh masyarakat luas.
Jembatan ini bukan saja menghubungkan seberang Ilir dan Ulu yang dipisahkan oleh Sungai Musi, namun juga banyak membawa makna sejarah pada masa lampau.
Dibangun tahun 1962, kehadiran jembatan Ampera sepanjang 1.117 m ini sangat dekat dengan dunia perdagangan bagi masyarakat.
Namun banyak yang belum mengetahui, jembatan ini dulunya bukan bernama Ampera, melainkan dinamakan dengan nama Presiden Soekarno saat itu, bagaimana sejarahnya?
Melansir dari laman Kementerian PUPR, keberadan Jembatan Ampera sudah menjadi set heritage Kota, dan telah melayani transportasi masyarakat selama 56 tahun.
Jembatan ini sebenarnya sudah lama diimpikan oleh masyarakat Palembang, namun baru dapat terwujud setelah masa kemerdekaan.
Sebelumnya, penyeberangan antara dua wilayah daratan ulu dan ilir dilayani dengan jasa penyeberangan, dan aktivitasnya sudah menjadi keluh kesah masyarakat.
Melihat hal ini, perhatian Bung Karno yang menjadi presiden saat itu, kemudian menyetujui dibangunnya jembatan di Sungai Musi ini.
Setelah dibangun, keberadaannya menjadi jembatan terpanjang pertama dan modern di Indonesia hingga se Asia Tenggara pada saat itu.
Jembatan ini juga menjadi simbol mulainya pembangunan, khususnya jembatan modern di Indonesia sejak masa kemerdekaan.
Sebagai bentuk penghormatan masyarakat Palembang kepada Presiden Soekarno saat itu, maka penghubung jalan ini diberi nama Jembatan Soekarno.
Namun presiden Soekarno kurang berkenan kala itu, karena tidak ingin menimbulkan tendensi individu tertentu yang saat itu banyak menentangnya.
Akhirnya karena alasan tersebut, nama jembatan kemudian disesuaikan dengan slogan Bangsa Indonesia pada tahun 1960, yaitu Amanat Penderitaan Rakyat, yang disingkat menjadi Ampera.
Awalnya jembatan ini memiliki sistem otomatis yang bisa menaikkan dan menurunkan bagian tengah jalannya.
Agar kapal-kapal besar di Sungai Musi dapat melewati perairan dengan mudahnya.
Namun semakin modernnya sistem perdagangan saat itu, meruntuhkan perdagangan di jalur perairan yang sebelumnya sering dilakukan masyarakat Palembang.
Ditambah dengan keberadaan jembatan Ampera, transportasi yang menghubungkan dari hilir ke hulu mulai lancar, dan perdagangan darat pun berkembang.
Hingga terbentuklah pasar-pasar di pinggiran jembatan yang semakin ramai.
Berkaitan dengan hal ini, maka sistem otomatis yang sebelumnya bisa dinaikkan dan diturunkan badan jembatan, sudah tidak lagi dipakai. Hingga pemberatnya sudah dibongkar agar tidak membahayakan masyarakat.
Meski begitu, hingga kini masih bisa ditemukan kapal kecil atau perahu-perahu di sekitaran Sungai Musi yang masih beroperasi.***