Beli Sertifikat Energi Rp5,2 Miliar, Coca Cola Indonesia Dapat Suplai Listrik EBT dari PLN Sebesar 90 GWh sampai 2025

inNalar.com – PT PLN menyepakati kerja sama Renewable Energi Certificate atau REC sebesar 90 GWh bersama Coca Cola Europacific Patners (CCEP) Indonesia.

Kerja sama ini ditandai dengan adanya penandatanganan “Perjanjian Jual Beli” yakni lewat layanan Green Energy As Service REC atau sertifikat energi sampai dengan tahun 2025 mendatang.

Adapun total pelayanan ini mencapai 90.211 unit dari PLN.

Baca Juga: Kapasitas Produksi 32 Juta MT, Penguasa Tambang Batu Bara di Berau Kalimantan Timur Ini Sukses Catatkan Penjualan hingga Rp56 Triliun, Namanya…

REC sendiri adalah salah satu layanan yang berupa sertifikat energi terbarukan dan telah mendapatkan pengakuan secara internasional sehingga dapat dipakai oleh pelanggan industri hingga rumah tangga.

Kehadiran REC tersebut akan dimanfaatkan oleh CCEP Indonesia untuk memenuhi kebutuhan Pabrik Bekasi 1 dengan energi yang lebih bersih.

Melansir dari Antara, pemerintah saat ini sangat mengapresiasi berkat terjalinnya kerja sama antara dua perusahaan tersebut untuk memanfaatkan energi terbarukan dan mengurangi bahan bakar fosil.

Baca Juga: Pengusaha Asal Minang Investasi Rp1 Triliun Guna Proyek Kawasan Bisnis di Padang, Sempat Tertunda Selama 10 Tahun?

Terlebih langkah yang ditempuh ini juga efektif dalam menurunkan emisi karbon di Indonesia.

Hal ini juga tercatat sebagai tindakan nyata dalam upaya Coca Cola Indonesia maupun PLN dalam mengurangi emisi tersebut.

Kolaborasi antara Coca Cola Indonesia dengan PLN juga menjadi bukti serius dari dua pihak untuk mendukung target pemerintah dalam mencapai Net Zero Emisson atau NZE pada tahun 2060 nantinya.

Baca Juga: Telan Biaya Investasi Rp200 Miliar, Jepang Kepincut Bangun Proyek PLTM Tongar di Sumatera Barat, Kapasitas Energinya…

Adanya kerja sama ini CCEP nanti akan memperoleh REC dari pembangkit listrik energi terbarukan dengan penyaluran melalui 3 tahap selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Berikut rinciannya:

  • Pada tahun 2023 sebanyak 14.079 unit REC
  • Pada tahun 2024 sebanyak 29.566 unit REC
  • Pada tahun 2025 sebanyak 46.566 unit REC.

Dengan begitu, penyalurannya mencapai total sebanyak 90.211 REC.

Baca Juga: Gelontorkan Cuan Rp1,3 Triliun, Smelter Titanium Pertama Indonesia Dibangun di Bangka Belitung Hasilkan 100 Metrik Ton

Adapun pembelian listrik dari energi terbarukan ini menelan biaya sekitar Rp5,2 miliar mulai dari periode 2023 sampai 2025.

Hal tersebut juga termasuk inovasi produk dari PLN dalam memberikan fasilitas pelangganya apabila ingin mendapatkan energi hijau tanpa perlu melakukan investasi besar.

Tidak hanya itu, penggunaan energi ini juga dinilai sangat menguntungkan bagi pelaku industri maupun bisnis.

Baca Juga: PT Pertamina Gandeng Perusahaan Asal Aljazair untuk Eksplorasi Bisnis Migas di Luar Negeri, Teken Kontrak hingga 2025?

Pasalnya, REC akan memudahkan pelanggan dalam memperoleh pengakuan atas penggunaan energi terbarukan yang telah diakui secara internasional.

Lucia Karina selaku Direktur Public Affairs Communication and Sustainability CCEP Indonesia menjelaskan bahwa kerja sama ini sangat penting.

Menurutnya, di tengah tantangan yang dihadapi atas krisis energi saat ini tentu sudah saatnya bidang industri memakai listrik dari energi terbarukan.

Baca Juga: Telan Rp1,6 Triliun, Bendungan Berkapasitas 98 Juta M3 di Konawe Sulawesi Tenggara Rampung Lebih Cepat Berkat Gunakan Sistem Digital BIM, Apa Itu?

Terlebih, PLN nantinya juga tidak dapat berdiri sendiri dalam mengembangkan EBT tersebut sehingga memerlukan kolaborasi secara aktif salah satunya lewat pelaku industri.

CCEP Indonesia sebelumnya juga telah memasang panel surya di atap fasilitas dproduksinya dengan luas 72.000 meter persegi dengan kapasitas produksi 9,6 juta kWh listrik per tahun.***

Rekomendasi