

inNalar.com – Buya Yahya menjelaskan salah satu keutamaan dari peristiwa Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Palestina yang hanya ditempuh dalam satu malam.
Tentunya hal itu tidaklah masuk akal, karena sebagaimana kita ketahui jarak kedua kota tersebut sangat jauh sehingga mustahil dilakukan dengan waktu yang singkat.
Lantas bagaimana kita sebagai orang islam menjelaskan peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tersebut agar bisa diyakini dengan benar.
Baca Juga: Peringati Isra Miraj 2022 atau 1443 H, Simak Kedahsyatan Tunggangan Rasulullah SAW Kala Itu
Oleh karenanya, pendakwah Buya Yahya menyebutkan bahwa kejadian pada Isra Miraj tidak bisa dijelaskan mutlak secara ilmiah.
Lantaran akal tidak akan mampu menilai kebenaran peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tersebut karena bukan termasuk ranahnya.
“Makanya kalau di kampus-kampus kejadian ini mau di ilmiahkan tidak akan ilmiah, sebab ini bukan pekerjaan akal untuk menilai,” ujarnya dalam video di kanal Youtube Hanna Haninah diunggah pada 10 April 2017.
Baca Juga: Fakta-Fakta Bus Pariwisata Kecelakaan di Bantul Hari Ini, Penyebab Sementara Rem Blong
Selain itu, akal manusia hanya terpaku kepada riset saja, dalam artian hanya mampu menerima keadaan-keadaan yang bisa di uji coba dan pembuktian.
Bahkan Buya Yahya mengatakan kalau Isra Miraj hendak diteliti dijadikan sebuah kajian yang ilmiah hasilnya malah jauh dari kata kebenaran.
“Ini kejadian yang gak ada orang yang bisa melakukan riset, dan kalau mau ditundukkan pada kajian ilmiah, maka tidak ilmiah,” kata Buya Yahya.
Baca Juga: Bus Pariwisata Kecelakaan di Bantul Tewaskan 13 Orang, Diduga Rem Blong
Dan juga, lanjut pengasuh ponpes Al-Bahjah tersebut, ketika Isra Miraj adalah peristiwa yang Allah sendirilah memperjalankan Nabi Muhammad SAW bukan karena kehendaknya sendiri.
“Allah yang maha kuasa yang memperjalankan Nabi Muhammad SAW, bukan Nabi Muhammad yang berjalan sendiri,” lanjutnya.
Dengan demikian, Buya Yahya menjelaskan supaya kita yakin dan percaya akan kebenaran Isra’ Mi’raj hati harus benar-benar bersih.
Baca Juga: Bus Pariwisata Kecelakaan di Bantul Tewaskan 13 Orang, Diduga Rem Blong
Akal saja tidak akan bisa membuktikan dari kebenaran perjalanan Nabi Muhammad SAW untuk menerima perintah shalat tersebut.
“Maka disini yang perlu kita hadirkan adalah hati, kepercayaan dengan hati bukan akal, akal gak nyambung,” jelas Buya Yahya.***