

inNalar.com – Sebuah kampung unik di pelosok Gunungkidul, Yogyakarta menyimpan banyak hal tak terduga, bahkan mengejutkan.
Posisi kampung ini saja sudah terbilang unik. Sebab, rumahnya tampak berbaris rapi memenuhi ceruk lembah sungai purba Yogyakarta.
Tentunya banyak yang sudah familiar dengan Sungai Bengawan Solo. Ya, inilah lembah purba yang dimaksudkan di sini.
Baca Juga: Sejarah dan Asal-usul Bangkalan yang Konon Berkaitan dengan Pemberontak Sakti Ki Lesap
Mengeringnya aliran Sungai Bengawan Solo menjadi awal kelahiran sebuah desa yang warganya masih melestarikan nuansa kuno.
Apabila Anda berkesempatan mengunjungi desa ini, akan ada banyak kejutan tidak terduga terjadi di desa tersebut.
Kejutan yang bisa jadi Anda rasakan dimulai dari lokasi kampungnya yang mempelosok di antara ceruk raksasa yang dahulu menjadi aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa.
Baca Juga: Tak Biasa! Kampung Unik di Jawa Timur Ini Tersinari Matahari Cuma 5 Jam Setiap Harinya
Tidak hanya itu, Anda pun akan merasakan sebuah nuansa unik setelah melihat sederetan rumah tradisional dengan pagarnya yang seragam.
Suasana khas desa di lembah purba Yogyakarta ini seolah membuat para penghuninya pindah ke dimensi Kerajaan Majapahit.
Atap khas joglo dengan genteng oranye khas pedesaan Jawa semakin menciptakan aura masa lalu.
Terlebih pagar tradisional identik dengan arsitektur khas budaya Jawa ini dibangun seragam dari ujung ke ujung.
Seorang traveller sekaligus YouTuber, Anggara W. Prasetya, menjadi salah satu sosok yang beruntung dapat mengabadikan betapa uniknya kampung bernama Wotawati ini.
Tahukah bahwa nuansa Majapahit yang begitu kental di desa ini ternyata bukan tanpa sebab bisa terjadi.
Menurut penuturan salah seorang warga kampung di pelosok Yogyakarta ini, desa ini dulunya lahir karena leluhurnya lari dari peperangan sengit antara Kerajaan Majapahit dan Demak.
Raden Joyo Sukmo beserta istrinya yang kala itu berusaha mencari tempat tinggal yang aman, menurut alkisah, keduanya lari menuju lembah yang tampak subur.
Lembah yang juga melintas di ujung perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah itu menjadi hamparan gersang yang kembali subur.
Kini, wilayahnya diramaikan oleh para penghuni lintas generasi. Tidak hanya itu, kejadian aneh akan dialami jika Anda bermalam di desa ini adalah soal waktu, apa itu?
Baca Juga: PNS Kategori Ini Bakal Dapat Tunjangan Kuota hingga Rp400 Ribu pada Desember 2024, Anda Termasuk?
Kampung Wotawati semakin dikenal luas oleh masyarakat sebab desanya hanya disinari oleh matahari selama 5 jam saja.
Sisa langit gelap malamnya akan terus membuat kampung ini meredup hingga jam 9 pagi.
Sinar matahari akan terbenam dan mulai menggelapkan desa unik ini sekitar jam 3 sore.
Jika masyarakat sedang beruntung, sinar matahari akan betah menerangi desa ini hingga 7 jam lamanya.
Beragam keunikan yang tertinggal di lembah sungai purba ini telah memantik Pemerintah Daerah Yogyakarta untuk melakukan kajian mendalam.
“Beragam sumber daya alam, seni, budaya dan tradisi, perlu segera diolah dengan benar agar menjadi sumber penghidupan warga,” dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
Bahkan, dalam penganggaran APBD 2023 padukuhan ini secara khusus mendapatkan pembiayaan untuk dikaji oleh berbagai peneliti demi dapat mengembangkan desanya menjadi destinasi pariwisata bersejarah di Yogyakarta.
Kegiatan ini dibiayai dari sumber anggaran DPA nomor: DPPA/A.2/3.26.2.22.0.00.01.0000/001/2023 tanggal 13 Juli 2023 di Dinas Pariwisata DIY melalui dana APBD Tahun Anggaran 2023.
Demikian dipertegas dalam Kerangka Acuan Kerja Dinas Pariwisata Yogyakarta dalam dokumen proposal Feasibility Study.***