Bahaya! Kurang Tidur atau Sering Begadang Dapat Tingkatkan Resiko Terkena Alzheimer, Alasannya karena…

inNalar.com – Begadang adalah salah satu aktivitas yang sering dilakukan bagi mereka yang bekerja di malam hari atau mahasiswa yang harus mengumpulkan tugas di pagi hari.

Efek dari begadang memang tidak baik. Kurang tidur dapat menyebabkan pusing bahkan anemia.

Namun, ternyata ada hal yang lebih parah dibanding pusing dan anemia, yaitu alzheimer.

Baca Juga: Viral! Parkir Motor Selama 2 Tahun di Stasiun Bogor Karena Lupa Diambil, Tarifnya Langsung Bikin Kaget

Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur atau begadang membuat mood kita buruk, namun ternyata juga membahayakan otak serta meningkatkan resiko alzheimer.

Untuk melakukan penelitian ini, para peneliti menggunakan tikus sebagai percobaan untuk mengetahui efek kurang tidur ke otak manusia.

Hasil dari penelitian ini adalah tikus-tikus yang diinduksi insomnia tersebut mengalami penurunan protein pleiotrophin (PTN).

Penurunan dari protein pleiotrophin (PTN) ini dapat menyebabkan kematian sel saraf di hipokampus (hippocampus).

Baca Juga: Bekerja Terus Hingga Lupa Keluarga, Renungilah Refleksi Berikut!

Hipokampus (hippocampus) sendiri merupakan bagian dari otak yang sangat penting untuk proses belajar dan ingatan.

“Kami menemukan bahwa PTN memiliki ikatan dengan gangguan kognitif yang disebabkan karena kurang tidur,” tulis tim penelitian dari Binzhou Medical University, Tiongkok pada makalah yang mereka terbitkan.

Selain itu, penelitian lain terhadap begadang atau kurang tidur dapat meningkatkan resiko terkena Alzheimer juga dilakukan oleh para peneliti yang dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA) dari National Institute of Health (NIH).

Dilansir inNalar.com dari National Institute of Health (NIS), penelitian dilakukan dengan memindai otak milik 20 peserta sehat dengan rentang umur antara 20 hingga 72 tahun.

Baca Juga: Mengatasi Mata Lelah Dengan Cepat, Tips Dan Trik Mata Sehat Ala Rumahan

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengukur beta-amyloid otak manusia yang kekurangan tidur.

Para peneliti menggunakan pelacak radio bernama 18F-florbetaben yang telah terbukti mengikat beta-amyloid.

Beta-amyloid sendiri adalah peptida yang berasal dari protein prekursor amilod (APP) dan membentuk plak amiloid yang merupakan penanda dari penyakit Alzheimer di otak.

Para peneliti melakukan pemindaian otak peserta yang istirahat semalam penuh dan setelah peserta begadang selama 31 jam tanpa tidur.

Hasilnya, beta-amyloid meningkat sebanyak 5% pada peserta yang kekurangan tidur.

Lagi-lagi, perubahan in the terjadi di bagian otak hipokampus (hippocampus) dan thalamus.

Kedua bagian otak ini sangatlah rentan terhadap tahap awal penyakit Alzheimer.

“Meskipun penelitian kami kecil, penelitian ini menunjukkan efek negatif dari kurang tidur terhadap beban beta-amyloid di otak manusia,” kata Dr Ehsan Shokri-Kojori.***

 

Rekomendasi