

inNalar.com – Mahfud MD Menteri Koordinator Polisi Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) mendapatkan banyak kesalahan pemberitaan terkait dirinya.
Berita yang menurut Menkopolhukam itu salah yaitu dirinya akui pemerintah gagal, Mahfud MD bilang Jokowi lemah, menyerah soal korupsi, nyatakan presiden sekarang harus diganti, serang Istana, dan lain-lain. Padahal semua pesan di atas salah dan tidak ada dalam pernyataannya.
Pria asal Madura Jawa Timur itu pun menegaskan bahwa pemerintah tidak gagal dan lemah, dirinya hanya membahas tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah baru nantinya; ada polarisasi ideologi, korupsi, dan penegakan hukum.
Baca Juga: Bermodal Big Data, Mahfud MD dengan Tegas Menyatakan Pemerintah Tidak Gagal dan Lemah dalam Memimpin
Mahfud MD menjelaskan bahwa bertolak dari tantangan tersebut, dirinya menyimpulkan pada Pemilu 2024 harus dipilih pemimpin yang strong leader dan bisa menyatukan. Menkopolhukam itu menyangkan pernyataannya dipelintir penyebar hoaks.
“Para pembuat dan penyebar hoaks itu, kalau menurut istilah agama, adalah pemakan bangkai.” kata Mahfud MD seperti dikutip inNalar.com dari akun Instagram miliknya @mohmahfudmd pada Jumat, 30 April 2022.
Menurut Menkopolhukam itu, ada dua masalah yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan yaitu satu polarisasi ideologi dan dua merajalelanya korupsi serta lemahnya penegakan hukum. Semua masalah tersebut sebenarnya sudah terwariskan dari presiden ke penggantinya.
Baca Juga: Ini 6 Tanda Seorang Pria yang Benar-Benar Tulus Mencintai Pasangannya, Wanita Wajib Tahu!
Sehingga tidak bisa dikatakan hanya terjadi sekarang, untuk kemudian menuding bahwa pemerintah sekarang gagal tentu salah dan sembarangan. Kalau itu alasannya, maka secara logika semua presiden gagal karena tak pernah ada yang bisa mengatasi dua hal itu.
Mahfud MD pun mengajak merunut mulai soal korupsi dan penegakan hukum, tak bisa dibantah bahwa kedua masalah tersebut selalu menjadi problem semua presiden.
“Pak SBY dulu bertekad memimpin sendiri perang melawan korupsi, bahkan secara resmi beliau memperkenalkan istilah mafia hukum sebagai pengganti istilah mafia peradilan.” tulisnya di Instagram.
Tetapi masih banyak pejabat dan politisinya yang korupsi besar-besaran. Begitupun saat Presiden Megawati Soekarnoputri yang bahkan pernah mengeluh bahwa dirinya mewarisi birokrasi Tong Sampah sehingga sulit memberantas korupsi meski keputusan politiknya sudah cukup tegas.
Saat Gus Dur menjabat RI 1 juga sudah cukup galak terhadap koruptor dan mencoba memimpin menangani hingga banyak yang ditangkap, tapi malah dirinya sendiri yang jatuh, pada masa Presiden Habibie pun tak jauh berbeda.
Jadi problem korupsi dan polarisasi ideologi itu sudah terwariskan dari waktu ke waktu, sehingga membuat masyarakat terbelah dan berbahaya.
“Dari mana logikanya kok menuding saya bilang bahwa pemerintah sekarang gagal dan menyerah?” Tanya Mahfud MD menyoal pernyataannya yang dipelintir sedemikan rupaa.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi