Atasi Polusi Udara DKI Jakarta, Segini Potensi Biaya Guna Kerahkan Hujan Buatan, Tembus Rp200 Juta Perhari?

inNalar.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadikan hujan buatan sebagai solusi dari permasalahan polusi udara yang hingga kini belum kunjung usai.

Meski menurut data real time IQAir per 28 Agustus 2023, DKI Jakarta tidak lagi masuk dalam 10 besar daerah dengan tingkat polusi udara terburuk di Indonesia.

Namun masih nampak kawasan Jakarta GBK dan Jeruk Purut menyentuh nilai kualitas udara hingga 155.

Baca Juga: Cuma 60 Km dari Semarang, Perusahaan Pencetus Rokok Kretek di Jateng Ini Namanya Diilhami dari Tokoh Krishna

Artinya dengan nilai kualitas udara 155 menurut data real-time IQ Air, kedua kawasan di DKI Jakarta tersebut masih tergolong tidak sehat bagi penduduknya.

Solusi hujan buatan pun menjadi upaya Pemerintah Indonesia dalam mengatasi permasalahan polusi udara yang mengancam langit Jakarta dan daerah di sekitarnya.

Teknologi Modifikasi Cuaca pun dikerahkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna kurangi polusi udara di DKI Jakarta dan daerah sekitarnya.

Baca Juga: Pabrik Kolosal di Jateng Ini Bidik Omzet Rp 10 Triliun, Produknya Jadi Pilihan Petani dan Nelayan, Bisa Tebak?

Hujan buatan pun telah diupayakan sejak Sabtu, 19 Agustus 2023 dengan mengerahkan sekitar 800 kilo gram garam.

Lalu, berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan modifikasi cuaca dengan hujan buatan ini?

Apabila berkaca pada tindakan modifikasi cuaca yang dahulu pada tahun 23 Maret 2007 pernah dilakukan.

Baca Juga: Liburan Semakin Menipis, September 2023 Ternyata Cuma Punya Satu Tanggal Merah, Catat Harinya!

Dilansir dari laman Kementerian PUPR, terungkap bahwa pihak Kementerian Pekerjaan Umum pernah menganggarkan Rp6 miliar untuk mengatasi kekurangan volume air waduk yang ada di Pulau Jawa.

Hal tersebut disebabkan karena curah hujan yang turun sangat sedikit, sehingga diambil solusi tindakan penyemaian awan dengan hujan buatan.

Kemudian, adanya persiapan Natal dan Tahun Baru pada akhir 2022 lalu pun bisa menjadi gambaran biaya penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca ini.

Diketahui bahwa biaya operasional untuk tindakan penyemaian awan guna hujan buatan tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp150 sampai dengan 200 juta per harinya untuk setiap satu unit pesawat yang digunakan.

Adapun rincian biaya yang terkesan fantastis tersebut memang dialokasikan untuk beberapa keperluan operasional hujan buatan sebagai berikut.

Kebutuhan biaya untuk membeli bahan bakar pesawat atau avtur, biaya bahan pembuatan hujan buatan atau garam, dan biaya operasional bagi para petugasnya.

Seberapa mahal biaya yang akan dibutuhkan tergantung dari seberapa banyaknya pula bahan semai atau garam yang akan ditaburkan pada awan yang berpotensi berpotensi hujan.

Diharapkan tindakan modifikasi cuaca yang diupayakan oleh pihak Pemerintah Indonesia dapat membuahkan hasil yang memuaskan dalam mengatasi permasalahan polusi udara yang melanda DKI Jakarta, Tangerang, dan daerah sekitarnya.***

Rekomendasi