Asyik! Jawa Barat Bakal Punya Pelabuhan Raksasa Rp40 Triliun yang Jadi Gerbang Maritim Nasional


inNalar.com
– Salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sedang dibangun di Jawa Barat adalah pelabuhan besar dengan luas area 654 hektare.

Keseluruhan konstruksi tersebut menelan biaya sebesar Rp40 triliun dengan pendanaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Pelabuhan sebagai gerbang maritim nasional ini dirancang untuk menjadi terminal laut utama.

Baca Juga: Habiskan Rp2.000 Triliun, Megaproyek di Kalimantan Utara Ini Bakal Babat Hutan 30 Ribu Hektare

Dimana bertujuan mengurangi biaya logistik, memperlancar distribusi barang, mengurangi beban kendaraan barang di jalan raya.

Sebab, hal inilah yang sering menyebabkan kemacetan dan kerusakan jalan, serta memperkuat ketahanan ekonomi.

Gerbang Maritim Nasional ini adalah Pelabuhan Patimban yang terletak di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Baca Juga: Meninjau Keuntungan dan Kerugian Ekonomi Indonesia di Era Prabowo Pasca Gabung BRICS

Sampai tahun 2023, terdapat kerja sama antara Kementerian Keuangan-DJKN-KPKNL Purwakarta, Kementerian ATR BPN-Kantor Pertanahan Kabupaten Subang, dan Kementerian Perhubungan-KSOP Kelas II Patimban.

Dari kerja sama itu, telah diterbitkan 14 sertifikat dengan total luas 3.097.005 m².

Pada tahun 2024, akan diajukan 12 bidang tanah untuk disertifikatkan, guna memastikan tertib fisik, administrasi, dan hukum atas aset negara.

Baca Juga: ALHAMDULILLAH! Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Barat Tahun 2025 Bakal Naik, Segini Nominal yang Diperoleh Buruh

Pembangunan Pelabuhan Patimban adalah proyek jangka panjang yang dimulai sejak 2018.

Proses pembebasan lahan adalah tahap awal yang krusial untuk mewujudkan infrastruktur PSN.

Oleh karena itu, LMAN berupaya untuk melaksanakan pendanaan pembebasan lahan dengan efisien dan sesuai tata kelola yang baik.

Baca Juga: Bolak Balik Progres Seret, Jawa Barat Gagal Miliki Jalan Tol Terpanjang di Pulau Jawa: Panjang Menciut 81,35 KM

Upaya pembebasan lahan proyek pelabuhan yang ada di Subang, Jawa Barat ini dibiayai oleh LMAN, dengan total anggaran sebesar Rp900 miliar.

Dari alokasi tersebut, LMAN telah menerima Rp672 miliar dan telah membayarkan Rp661 miliar .

Kolaborasi yang baik antara pemangku kepentingan sangat diperlukan, karena pendanaan lahan melibatkan berbagai instansi dan masyarakat.

Baca Juga: Butuh Duit Triliunan, Pemerintah Gagas Proyek Mirip Terusan Panama dengan Membelah Pulau Sulawesi demi Hubungkan IKN ke Papua

Pembayaran untuk pembebasan lahan oleh LMAN akan dilakukan setelah semua proses dan dokumen yang dibutuhkan diverifikasi dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Saat ini, pembangunan tahap pertama telah selesai, yakni mencakup pembangunan terminal sewa, Breakwater, Seawall, dan Revetment,

Kemudian juga dengan proses pengembangan area cadangan dan jalan akses.

Jembatan penghubung di dermaga ini memiliki kapasitas terminal kendaraan sebesar 218.000 CBU (Completely Built Up) dari total kapasitas kumulatif 600.000 CBU.

Selain itu, terminal peti kemas di sini memiliki kapasitas sebesar 250.000 TEUs (Twenty-foot equivalent units) dari total kumulatif 3,75 juta TEUs untuk tahap pertama.

Dengan adanya terminal kendaraan di Pelabuhan Patimban, diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas.

Lebih utamanya untuk ekspor dan impor kendaraan yang saat ini berfokus di Pelabuhan Tanjung Priok.

Kehadiran Pelabuhan Patimban di Jawa Barat yang terintegrasi dengan Pelabuhan Tanjung Priok, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi waktu dan biaya logistik.

Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya ekspor produk Indonesia, seperti otomotif, serta mengurangi pemborosan energi bahan bakar.

Pemberhentian kapal ini menggunakan teknologi dan sistem digital dalam operasionalnya, yang memungkinkan semua sistem terintegrasi secara digital dan dapat diakses secara langsung.

Ini membuat seluruh proses logistik menjadi lebih efisien dan menghindari penumpukan.

Target jangka panjang pembangunan gerbnag maritim nasional ini adalah untuk menjadi dermaga berskala internasional

Dimana hasil pembangunan proyek ini dapat melayani terminal peti kemas dengan kapasitas hingga 7,5 juta TEUs, serta terminal kendaraan dengan kapasitas kumulatif 600.000 CBU.

Persinggahan kapal ini juga akan didukung oleh akses tol dan jalur kereta api untuk aksesnya.

Diharapkan hal ini akan mendukung pemerataan ekonomi di Provinsi Jawa Barat, khususnya di wilayah segitiga Rebana (Cirebon, Patimban, dan Kertajati).

Di waktu dekat, dermaga raksasa ini akan terhubung dengan jalan tol, yang harapannya dapat memperkuat potensi pembangunan kawasan industri utama.

Kawasan industri utama ini terletak di sepanjang Koridor Utara Jawa, khususnya di daerah industri Bekasi, Karawang, dan Purwakarta (Bekapur).

Wilayah ini diharapkan dapat berkembang menjadi kawasan logistik yang signifikan, berfungsi sebagai salah satu pusat ekonomi yang memberikan dampak positif.

Pembangunan megaproyek dan penyediaan fasilitasnya dibiayai oleh “Uang Kita” dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selanjutnya anggaran pembiayaan akan menjadi “Ini Punya Kita”, dimana artinya sebagai Barang Milik Negara (BMN).

Selain itu, pemerintah juga merencanakan untuk pembiayaan akan kerja sama pemanfaatan (KSP)

Kemudian Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dan menggunakan Badan Layanan Umum (BLU) di Kementerian Perhubungan.

Manfaat dari APBN ini sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Keberadaan pelabuhan di Jawa Barat ini memberikan manfaat yang besar, karena memiliki keunggulan yakni lokasi yang sangat strategis.

Lokasi ini strategis karena dekat dengan kawasan industri Bekasi dan Karawang, yang merupakan tulang punggung industri Indonesia.

Industri mencakup sektor elektronik, tekstil, otomotif, dan bahan kimia.

Kawasan industri ini mencapai lebih dari 3.500 pabrik yang dimiliki oleh investor dari lebih 25 negara.

Di sektor otomotif, perusahaan yang berinvestasi dalam pembangunan megaproyek ini antara lain Astra Internasional, Hyundai, Mitsubishi Wuling, Toyota, GS Battery, dan LG.

Sementara itu, di sektor elektronik, terdapat perusahaan seperti Sharp, Toshiba, Panasonic, Polytron, Samsung, dan LG Electronics.

Selain itu, ada juga perusahaan fast moving seperti Unilever, Indofood, dan Nestlé.

Dengan infrastruktur baru yang terhubung dengan kawasan industri Bekasi dan Karawang, gerbang maritim nasional ini diharapkan menjadi pilihan utama bagi perusahaan yang ingin berinvestasi di Indonesia.

Serta memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh pasar besar di negara ini untuk berkembang pesat.***(Aliya Farras Prastina)

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]