Arab Saudi – Mesir Cuma 30 Menit, Jembatan King Salman Senilai 4 Miliar USD Ini Bakal Jadi Simbol Persahabatan Negara Teluk dan Afrika Utara, tapi…

inNalar.com – Ada sebuah proyek fantastis yang pernah dicetuskan oleh pemimpin negara yang bertetangga, yakni Arab Saudi dan Mesir.

Proyek fantastis yang dimaksudkan di sini adalah pembangunan Jembatan King Salman yang melintang di antara dua negara tersebut.

Jadi nantinya jembatan tersebut akan melintasi kawasan Laut Merah, tepatnya di sudut Selat Tiran.

Baca Juga: Dibangun pada 1628, Jembatan Tertua di Indonesia Ini Alami Renovasi, Benarkah Bakal Dirubah Bentuknya?

Titik mula infrastruktur tersebut bermula dari Sharm Al Sheikh di Mesir sampai dengan Ras Al Sheikh Humayd di Arab Saudi.

Sebagai titik pertengahannya, jalur menggantung tersebut akan melintasi Pulau Tiran.

Apabila diestimasikan, maka Proyek Jembatan King Salman ini akan menelan dana hingga 3 hingga 4 miliar USD.

Baca Juga: Catatkan Sejarah Kelam Pada 1997, Jembatan Gantung di Jawa Barat Ini Bikin 25 Ribu Warga Pelosok Sumedang Tak Lagi Terhalang Ganasnya Sungai Cikandung

Dengan bentang lintasan yang memanjang hingga 32 kilometer ini diprediksi jangka waktu pembangunan butuh waktu 3 tahun.

Menariknya jembatan besutan Raja Arab Saudi ini akan membuat warga dari dua negara tersebut hanya perlu menghabiskan waktu perjalanan selama 30 menit.

Perencanaan ini dicetuskan pada 8 April 2016 dan tidak sebatas proyek infrastruktur semata.

Baca Juga: Terbesar Kedua di Indonesia, Bandara Senilai Rp2,6 Triliun di Jawa Barat Bakal Dijual ke Arab Saudi, Benarkah?

Adanya Jembatan King Salman ini digadang bakal menjadi simbol persahabatan antara Mesir dan Arab Saudi.

Lebih dalam dari itu, terhubungnya dua negara menandakan keterjalinan persahabatan antara dua kawasan Timur Tengah.

Sebagaimana diketahui bahwa Timur Tengah terbagi menjadi dua bagian kawasan, yakni Negara Teluk dan Afrika Utara.

Baca Juga: Pertama Kali dalam Sejarah, Uni Emirat Arab Resmi Buka Pabrik Minuman Bir Beralkohol di Abu Dhabi

Perencanaan ini menjadi salah satu pertanda besar keterbukaan hubungan diplomasi antara keduanya.

Manfaat besar tidak hanya soal hubungan baik antar kedua negara, tetapi diharapkan investasi dari negara di kawasan teluk semakin berkembang.

Selain itu, jalur perdagangan semakin terbuka lebar berkat keterhubungan akses tersebut.

Baca Juga: Gandeng Perusahaan Arab, Proyek PLTS Senilai Rp2,2 Triliun di Jawa Barat Ini Jadi yang Terbesar di Dunia, Berapa Kapasitasnya?

Tentunya arus barang dan orang bakal semakin lancar dengan adanya lintasan ini, ditambah pembangunan Proyek Neom City di Pulau Sindalah atau Tiran akan semakin masif gerak ekonomi di antara keduanya.

Hal ini mengingat letak Pulau Tiran sendiri berada di antara Arab Saudi dan Mesir.

Tidak hanya itu negara kaya minyak di kawasan teluk ini juga membidik pendapatan perdagangan sebesar 200 miliar USD per tahun dengan adanya keterhubungan jembatan ini.

Baca Juga: Usai Gaet China dan Arab, PT Aneka Tambang Targetkan Produksi 274.140 Aluminium di 2024, Terluas Ada di Sanggau Kalimantan Barat

Sebagai informasi tambahan, Proyek Jembatan King Salman ini mulanya diungkap oleh Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud pada saat gelaran konferensi internasional.

Tepatnya pada saat Raja Arab Saudi berkunjung ke Mesir selama 5 hari untuk melaksanakan konferensi internasional Saudi-Mesir.

Namun sayangnya rencana proyek ini masih sebatas wacana dan belum ada gerak kelanjutannya.

Baca Juga: Lee Jin Wook Sedang Mempertimbangkan Perannya dalam Film Baru Bersama Song He Kyo dan Jeon Yeo Been

Adapun Arab Saudi sendiri kini tengah sibuk menggarap Proyek Neom City yang salah satunya adalah memugar cantik Pulau Tiran menjadi pusat destinasi wisata berstandar insternasional.***

Rekomendasi