

inNalar.com – Idul Fitri adalah hari raya yang sangat penting bagi umat Islam tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.
Buya Yahya, dalam salah satu sesi ceramahnya, menjelaskan bahwa kita perlu mengetahui apa saja yang di-sunnah-kan dalam Islam saat hari lebaran tersebut tiba.
Buya Yahya menyampaikan kepada para hadirin pada sesi ceramah tersebut bahwa terdapat dua anjuran penting yang perlu diperhatikan kita sebagai umat Islam dalam mempersiapkan dirinya sebelum melaksanakan shalat idul fitri.
Baca Juga: Keutamaan Orang yang Bekerja Sambil Berpuasa di Bulan Ramadhan, Gus Baha: Jangan Diremehkan
Anjuran pertama adalah disunnahkan bagi setiap umat Islam untuk mandi sebelum melaksanakan shalat idul fitri.
Buya Yahya mengambil perkataan imam syafi’i bahwa disunnahkan mandi pada dua hari raya (umat Islam). Tidak ada perselisihan di kalangan para ulama terkait anjuran ini.
Dalil yang menjadi sandaran anjuran mandi ini adalah berdasarkan dari contoh kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilihat oleh sahabatnya seperti Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Ali bin Abi Thalib.
Kebiasaan ini pun menjadi kebiasaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, dalil yang diambil dalam hal ini diambil dari riwayat perkataan yang dinukil dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Selain atsar Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diambil menjadi sandaran perintah anjuran mandi ini, mandi di hari idul fitri juga disamakan dengan perkara mandi di hari Jumat.
Adapun hikmah dari adanya anjuran mandi ini bertujuan untuk membersihkan tubuh dan menjaga kesegaran dan kesucian tubuh sebelum memasuki hari raya idul fitri.
Selain mandi, Buya Yahya juga menekankan pentingnya berhias saat idul fitri. Namun, berhias ini perlu memperhatikan tuntunan Islam.
Berhias yang dijelaskan oleh Buya Yahya adalah perkara yang berkaitan dengan memperindah pakaian.
Dari Sayyiduna Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Ia mengatakan bahwa ayahandanya telah mengambil sebuah pakaian jubah yang terbuat dari sutra. Jubah tersebut dibeli dari sebuah pasar.
Kemudian jubah tersebut dibawa oleh Ibnu ‘Umar kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam barangkali Rasulullah ingin membeli jubah tersebut untuk berhias di hari raya idul fitri dan menemui para tamu.
Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dikarenakan pakaian yang terbuat dari kain sutera hanya diperuntukkan bagi orang yang tidak mendapatkan kebaikan di akhirat menjawab.
Buya Yahya menggarisbawahi penolakan tersebut, dalam hal ini, hanya berkaitan dengan jenis pakaian yang digunakan. Adapun kebiasaan berhias pada hari idul fitri sangat dianjurkan, bahkan di kalangan para sahabat Rasul.
Buya Yahya juga menekankan pentingnya berhias yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Islam, yakni menutup aurat dan berbusana yang sopan dan pantas.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi