Alasan Soeharto Dirikan YPTE Hingga Terjerat Kasus Korupsi Sebelum Jadi Presiden, Demi Sejahterakan Rakyat?


inNalar.com – Sebelum menjadi presiden, ternyata sosok Soeharto pernah terjerat kasus korupsi.

Hal ini terjadi pada saat Soeharto menjabat sebagai panglima Diponegoro tepatnya pada tahun 1959.

Sebagaimana tertulis dalam Biografi Soeharto karya A.Yogaswara, diketahui bahwa saat itu adalah masa yang paling menyenangkan bagi Soeharto.

Baca Juga: Generasi Muda Titip Kepercayaan kepada Erick Thohir saat Perayaan Pesta Kita, Berharap Inspirasi dan Dorongan

Saat menjabat sebagai panglima Diponegoro adalah waktu yang menyenangkan bagi karir dan kehidupannya.

Selain karena anak keempatnya lahir, Siti Hediati Hariyadi pada tanggal 14 April 1959. Juga karena pemberlakuan SOB yang berarti memberikan kewenangan tak terbatas pada pemegang kendali daerah.

Hal ini membuka kesempatan Soeharto untuk melakukan hal lain di bidang ekonomi dan keuangan.

Baca Juga: Dijuluki Pengembara Laut, Suku di Wakatobi Sulawesi Tenggara yang Tinggal di Atas Laut Dapat Sertifikat Tanah

Waktu itu, yang menjadi fokus utamanya adalah kesejahteraan rakyat, hingga akhirnya mendirikan Yayasan Pembangunan Territorium Empat (YPTE).

Yayasan ini dibuat Soeharto sebagai wadah berbagai bidang ekonomi dan keuangan dengan dibantu teman-temannya.

Pada awal berdirinya, yayasan mengandalkan dana dari pungutan atas kepemilikan barang dan jasa serta bantuan dari perusahaan besar.

Baca Juga: Libatkan Para Pelajar, Pameran Yogyakarta Komik Weeks Mengusung 7 Unsur Kebudayaan DIY dan Program Kukuruyug

Seperti pada pabrik rokok Kudus, di daerah Jawa Tengah yang memiliki dana sebesar 400 ribu rupiah.

Hanya dalam kurun waktu setahun, mereka sudah bisa menggemukkan kantung rupiah menjadi Rp 16 juta rupiah. Sebuah jumlah yang fantastis pada waktu itu.

YPTE kemudian mulai melakukan investasi ke beberapa perusahaan swasta untuk memperkuat jaringan.

Namun ternyata YPTE berkembang menjadi perusahaan ilegal. Banyak rakyat yang kekurangan akhirnya kekurangan makan karena panen gagal.

Soeharto pun langsung berinisiatif untuk melakukan barter gula dengan beras Thailand via Singapura.

Karena menurutnya, lebih baik rakyat tetap bisa makan dengan bubur, serta minum tanpa gula. Namun ternyata kasus barter ini merupakan kegiatan ilegal.

Ditambah dengan peraturan yang melarang anggota TNI mengambil bagian dalam mencari laba organisasi secara langsung maupun tidak langsung, membuat Soeharto terjerat korupsi.

Hingga akhirnya, disebutkan bahwa YPTE menyimpan dana sebesar Rp 42.174.300,00. Soeharto pun tak dapat menghindari situasi ini.

Soeharto lalu dicopot dari posisinya sebagai Panglima Diponegoro, dan diperintahkan untuk mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung.

Inilah cerita Soeharto yang pernah terjerat kasus korupsi, karena menyelamatkan rakyat dan memajukan YPTE.***

 

Rekomendasi