

inNalar.com – Sebuah teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dirancang oleh para astronom mulai dirancang khusus untuk mengungkap sebuah pertanyaan tak berujung, yaitu ‘apakah hanya ada manusia di alam semesta ini?’.
Dalam sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh Jim Cleaves dan Robert Hazen dari Carnegie Institution for Science mengungkap bahwa pencarian fakta kehidupan makhluk asing, yakni alien, bisa saja terungkap oleh teknologi AI yang tengah dirancang oleh mereka.
Bahkan dengan pendekatan pengambilan sampel abiotik modern dan kuno, capaian akurasi teknologi AI ini bisa mencapai 90 persen untuk mengungkap fakta kehidupan di luar bumi.
Sampel abiotik yang dimaksud adalah sampel penelitian yang diambil dari lingkungan non-hidup berupa batu, tanah, air, mineral, gas, dan benda mati lainnya yang tersebar di berbagai planet, termasuk bumi.
Dalam penelitian yang sejauh ini telah dilakukan secara masif, sampel dari planet Mars nantinya bisa dicocokkan dengan sampel bumi untuk mengungkap pula asal-usul keberadaan batuan purba di bumi.
Pasalnya, kesesuaian sampel abiotik yang dideteksi AI di bumi maupun planet Mars mampu membantu manusia untuk memahami apakah dahulu kehidupan di alam semesta ini berasal dari daratan yang sama atau kah berbeda.
Selain itu, menurut Jim Cleaves dari salah satu pemimpin penelitian mutakhir ini mengungkap pula bahwa AI juga mampu membantu manusia mencari kehidupan di luar bumi.
Sebagaimana dikutip inNalar.com dari laman Carnegie Science, “Pencarian kehidupan di luar bumi tetap menjadi salah satu upaya paling menggiurkan dalam sains modern,” ungkap Jim Cleaves dari Carnegie Institution for Science, Washington, DC.
Tak kalah pentingnya lagi, rancangan teknologi berbasis kecerdasan buatan ini bakal mampu menungkap fakta mengenai jejak batuan misterius di bumi.
Baca Juga: Keren! Megaproyek IKN Kalimantan Timur Bakal Jadi Kota Tanpa Kabel Bergelantungan, Kok Bisa?
Muara metode tes penelitian berbasis AI pada sampel abiotik, khususnya untuk planet Bumi dan Mars ini agar kita bisa mengetahui apakah dahulu Mars memiliki tanda-tanda kehidupan yang serupa dengan bumi.
Berkat pelatihan yang diberikan para peneliti pada sistem kecerdasan buatan ini, AI diproyeksikan bakal mampu mengidentifikasi sampel yang berasal dari mahluk hidup dan non-hidup.
Terkhusus jika para peneliti ingin mengungkap keberadaan kehidupan alien di bumi maupun planet lainnya, AI perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi biokimia alien.
Capaian mengejutkan dari penelitian beberapa planet dengan pendekatan AI adalah, teknologi kecerdasan buatan ini ternyata mampu mendeteksi sampel abiotik, biotik hidup, maupun biotik fosil.
Berbicara mengenai berburu tanda kehidupan makhluk selain manusia, yakni alien baik di bumi maupun di Mars tentu akan menjadi pembahasan yang sangat mengundang penasaran publik.
Terutama mulai akhir abad ke-19 dan ke-20, sejauh ini dugaan besar kehidupan alien mengarah pada planet Mars.
Berbagai penelitian melalui pemantauan gelombang radio radiasi elektromagnetik dan mengirimkan pesan dengan harapan suatu hari nanti akan ada respon telah dilakukan oleh para peneliti.
Simon Whistler dalam kanal YouTube Megaproject, ia mengungkap bahwa ini adalah masa yang tepat untuk meneliti tanda-tanda kehidupan di luar bumi di Mars.
Pasalnya, pada 21 dan 23 Agustus 1924 posisi planet merah tersebut berada di jarak terdekatnya dengan bumi dan akan bertahan selama seabad.
Jarak dekat dengan bumi tersebut tidak akan terjadi lagi setelah 80 tahun setelahnya, sehingga ini adalah momentum paling tepat untuk menelusuri jejak kehidupan alien atau mahluk asing lainnya di bumi maupun di planet lainnya, terutama Mars.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi