Ada Sejak Abad ke-18, Masjid di Jambi Ini Tak Bisa Diguncang Gempa Bumi hingga Dijuluki Keramat, Coba Tebak?


inNalar.com
– Terdapat masjid tua yang punya sejarah unik di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Danau Kerinci , Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Ada sejak abad ke-18 berdiri di Jambi, masjid ini dijuluki sebagai ‘Masjid Keramat’ dan menjadi saksi bisu kedatangan kolonial Belanda ke wilayah Kerinci pada tahun 1903.

Dikutip inNalar.com dari laman situs resmi Kemenag Jambi, masjid ini bernama Masjid Keramat Koto Tuo yang dikabarkan pernah diguncang gempa bumi dahsyat pada tahun 1942, dan kebakaran hebat di tahun 1903.

Baca Juga: Unik dan Menarik, Kampung di Sulawesi Selatan Ini Punya Nama Bak Film Horor, Merinding saat Mendengarnya

Gempa bumi yang terjadi di tahun 1942 tersebut tidak meruntuhkan masjid itu, meskipun rumah-rumah dan bangunan di sekitarnya rusak dan hancur menyisakan puing-puing saja.

Tak hanya itu, kisah unik saat lolos dari kebakaran hebat terjadi ketika kolonial Belanda melakukan perjanjian dengan penduduk setempat dan berjanji untuk mengambil tindakan gencatan senjata.

Namun enam bulan setelah perjanjian itu dibuat, kolonial Belanda justru berkhianat dan membumihanguskan Desa Pulau Tengah tempat Masjid Keramat Koto Tuo berada.

Baca Juga: Habis Dana Sebesar Rp 1,8 T, Apakah Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) 2023 di Jawa Barat Tepat Sasaran?

Ajaibnya Masjid ini bisa selamat tanpa lecet sedikitpun, meski saat itu api dengan ganasnya melahap seluruh isi desa tanpa terkecuali.

Hal serupa terjadi di tahun 1939, masjid ini bisa terhindar dari amukan api seakan tak pernah terjadi kebakaran sama sekali.

Selain itu, karena keunikannya Pemerintah Belanda sampai menerbitkan Undang-Undang Ordonantie stbl 238/1931 agar dapat melindungi masjid ini sebagai bagian dari peninggalan sejarah.

Baca Juga: Hanya di Jombang Jawa Timur, Sungai dengan Seribu Lubang Alami Ini Tawarkan Nuansa Eksotis Bak Negeri Dongeng

Pemerintah Belanda juga pernah melakukan pemugaran pada Masjid Koto Tuo dengan merenovasi masjid yang semula berbahan dasar kayu kemudian diganti dengan tembok yang lebih kuat dan permanen.

Belanda juga mendatangkan marmer yang langsung dikirim dari negaranya untuk digunakan sebagai lantai dan dinding.

Walaupun begitu, masjid tua ini memiliki bentuk dan arsitektur yang masih tetap dipertahankan hingga kini.

Terdapat juga lukisan kaligrafi Al-Qur’an yang indah dan menempel di dinding bagian atas.

Lukisan ini dibuat sejak puluhan tahun lalu oleh dua orang bernama Kyai Haji Usman dan Muhammad Surrah tanpa menggunakan cat modern.

Cat yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan yang masih alami pada waktu itu.***

Rekomendasi