

inNalar.com – Jejak ‘harta karun’ emas di Gorontalo rupanya sudah melegenda sejak zaman kolonial Belanda.
Sungguh kabar gembira ketika rupanya saat ini daerah pelosok Gorontalo ini masih terdeteksi menyimpan jejak potensi emas.
Menyibak data Badan Geologi Kementerian ESDM, daerah pelosok Gorontalo bernama Batudaa terdeteksi masih menyimpan 17,63 juta ton bijih emas.
Lebih rincinya, daerah tersebut pun masih memiliki potensi simpanan logam seberat 2,23 ton emas terukur.
Kekayaan potensial tersebut rupanya sudah masyhur sejak zaman kolonial Belanda.
Sebagai informasi, Gorontalo merupakan salah satu daerah penuh kekayaan alam yang sempat menjadi rebutan banyak negara.
Potensi komoditas logam mulia ini sudah menjadi sorotan pedagang Cina yang dahulu berlayar ke tanah Hulontalo.
Pada abad ke-16, pedagang Cina rutin berlayar ke daerah ini demi mengangkut ‘harta karun’ tersebut.
Kualitas emas yang diproduksi dari salah satu tanah Nusantara ini memiliki grade kualitas yang tinggi.
Sehingga nilai jual komoditas emas daerah Gorontalo selalu dipatok dengan harga tinggi.
Ada harga ada rupa, itulah gambaran kualitas emas Gorontalo yang tentunya tetap saja laku di pasar internasional.
Kemajuan pesat dari keuntungan perdagangan emas ini memikat perhatian Kolonial Belanda.
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) akhirnya tergerak untuk ikut menguasainya.
Sekitar tahun 1677, VOC mencari cara agar mereka bisa masuk untuk ikut mengeksplorasi ‘harta karun’ di daerah tersebut.
Jejak Belanda di tanah berharga Gorontalo ini Bermula dari seorang Gubernur Maluku berkebangsaan Belanda, yaitu Robertus Padtbrugge.
Usai dirinya menggelar pertemuan politisnya dengan para pihak kerajaan kala itu, para raja pun pada akhirnya mendapat tekanan.
Gegara perjanjian taktis yang diinisiasi kolonial Belanda, pihak kerajaan Gorontalo harus menyetorkan emas batangan sebanyak 2 kati.
Semakin puas dengan kualitas emasnya, kolonial Belanda langsung mode waspada dengan hadirnya kompetitor peminat emas dari pedagang Cina.
Baca Juga: Pria Bak Harta Karun! Ini Kabupaten dengan Populasi Janda Tertinggi di Jawa Tengah
Bahkan pihak penguasa kala itu ketar ketir dengan kedatangan Inggris yang dikhawatirkan akan ikut memonopoli perdagangan di sana.
Akhirnya pada tahun 1729, kolonial Belanda berupaya membatasi kehadiran pedagang Cina agar mereka sulit mengakses daerah potensial emas Gorontalo.
“Tindakan ini dilakukan untuk menutup akses orang Cina dan Pribumi untuk mendekati areal tambang,” dikutip dari Museum Provinsi Gorontalo.
Batudaa, wilayah temuan potensial emas terkini seakan mengingatkan kita akan jejak penguasaan kolonial pada kekayaan negeri kita.***