Abdul Mu’ti Bakal Ganti Kurikulum Merdeka Jadi Deep Learning, Seberapa Efektif Tingkatkan Kemampuan Siswa Indonesia?


inNalar.com
– Mendikdasmen Abdul Mu’ti mewacanakan pergantian Kurikulum Merdeka dalam waktu dekat.

Kurikulum baru yang disodorkan adalah kurikulum dengan istilah deep learning.

Metode pembelajaran deep learning ini sebenarnya bukan hal baru karena sudah lama berkembang di negara maju.

Baca Juga: Boroskan Anggaran Rp2 Triliun, Makassar Punya Rumah Sakit Termegah di Indonesia

Dengan berbasis teknologi, kurikulum deep learning disebut-sebut memiliki pendekatan berbeda dalam meningkatkan kemampuan siswa.

Lantas seperti apakah cara pembelajaran deep learning tersebut, apakah relevan dengan kurikulum merdeka yang sudah berjalan selama ini? Berikut ulasannya.

Diketahui, kurikulum merdeka besutan Nadim Makarim ini memberikan kebebesan bagi siswa untuk mengeksplorasi minatnya melalui proyek mandiri.

Baca Juga: Bukan Dari Kawasan Arab atau Indonesia, Negara di Samudra Hindia Ini Hampir Semua Penduduknya Beragama Islam

Dengan begitu, para siswa diharapkan dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilan berkolaborasi.

Sementara, deep learning menggabungkan tiga elemen, yaitu Mindfull, Meaning Full dan Joyfull.

1. Mindfull

Pada pembelajaran mindfull, menyadari bahwa setiap murid tidaklah sama.

Mindfull mendorong siswa untuk ikut berpikir selama pembelajaran, bukan hanya komunkasi satu arah.

Dalam hal ini, anak didik terlibat langsung dalam proses belajar mengajar, sehingga mereka bisa memiliki kemampuan untuk bereksplorasi.

Contoh dalam pembelajaran mindfull, ketika guru menjelaskan tentang angin, maka guru bisa menjelaskan secara mendalam apa fungsi angin.

Harapannya, siswa bisa mempunyai kemampuan mengklasifikasi proses belajar di kelas.

2. Meaningfull

Selanjutnya, elemen meaningfull ini mendorong siswa untuk bisa memahami apa tujuan mereka belajar.

Ketika anak siswa memahami keilmuan yang dipelajari dan tahu manfaatnya, tentu ini akan menambah motivasi belajar anak.

Sehingga para guru bisa menjelaskan apa tujuan dan manfaat mempelajari materi yang sedang dibahas.

3. Joyfull

Kemudian, pembelajaran joyfull, siswa diharapkan bisa mempelajari suatu hal dengan suasana menyenangkan.

Pembelajaran ini sedikit berbeda dengan funnylearning, meskipun artinya sama.

Dalam konteks ini siswa bisa merasakan kegembiraan ketika belajar di kelas, karena mereka paham akan manfaat ilmu yang akan dipelajari.

Sehingga bukan hanya sekedar belajar dan bercanda, justru indikator kegembiraannya adalah antusiasme materi yang dipelajari.

Metode Penilaian

Pada kurikulum merdeka, penilaian siswa dilakukan melalui proyek mandiri dan kerja kelompok.

Metode tersebut mendukung pengembangan soft skill anak didik seperti komunikasi serta penyelesaian masalah.

Namun, deep learning mengedepankan basis data, yang memungkinan siswa menunjukkan pemahaman melalui proses analisa informasi secara mendalam.

Selain itu, kurikulum baru ini juga dirancang untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat pembelajaran utama.

Hal ini berarti sekolah harus siap dengan perangkat komputer, internet dan device pendukung.

Jelas metode tersebut berbeda dengan kurikulum merdeka yang menekankan pada fleksibilitas dan bisa diterapkan tanpa dukungan teknologi canggih.

Dengan perbedaan pendekatan dan fokus, baik Kurikulum Merdeka maupun Kurikulum Deep Learning memiliki keunggulan dan tantangannya masing-masing.

Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi diri, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan semangat kolaborasi.

Di sisi lain, Kurikulum Deep Learning menawarkan pembelajaran yang lebih terstruktur, mendalam, dan berbasis teknologi, yang dapat memberikan siswa keunggulan dalam hal analisis data dan keterampilan berpikir kritis.

Rekomendasi