

inNalar.com – Kota berjuluk Kota Seribu Sungai ini memiliki sejarah yang amat panjang di bidang perdagangan luar negeri.
Kerajaan Banjarmasin juga disebut sebagai kerajaan dagang ketika dengan banyaknya pedagang dari luar negeri singgah dan melakukan jual beli pada saat itu.
Komoditi yang diperdagangkan Kerajaan Banjarmasin di Kalimantan Selatan awalnya berfokus pada hasil hutan seperti rotan, damar, lilin, madu, dan kayu.
Namun seiring masuknya para pedagang dari Barat di abad ke-17, Kerajaan Banjarmasin beralih untuk memproduksi lada sebagai komoditi utama yang dijual.
Selain itu adanya sistem tanah lungguh membuat tidak hanya lada yang menjadi komoditi ekspor, melainkan juga hasil tambang seperti emas dan intan.
Dikutip inNalar.com dari Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah tahun 1977-1978 Kemendikbud RI tentang Sejarah Kalimantan Selatan didapati akibat dari banyaknya pertanian yang berfokus pada lada, hasil bumi seperti beras dan buah-buahan mulai berkurang.
Baca Juga: Makkah, Arab Saudi Diterpa Hujan Lebat Disertai Badai Petir, Berikut Kawasan yang Terkena Dampaknya!
Untuk menyiasati hal itu, Kerajaan Banjarmasin mulai mengimpor beras dan garam dari Jawa.
Akibat dari Sistem Tanah Lungguh juga, sebagian rakyat beralih untuk bekerja sebagai buruh di tanah milik orang bangsawan untuk menafkahi keluarga mereka.
Beberapa negara yang tercatat pernah melakukan kontak dagang dengan Kerajaan Banjarmasin di abad ke-17 antara lain Portugis, Belanda, Inggris, dan kerajaan-kerajaan di nusantara seperti Makassar, Demak, dan Mataram.
Hubungan perdagangan luar negeri dengan Portugis dimulai sejak tahun 1687-1893 dengan Portugis yang lebih membutuhkan merica dari Kerajaan Banjarmasin.
Baca Juga: Writers on Strike: Ribuan Penulis Hollywood Lakukan Mogok Kerja , Profesi Terancam AI?
Sedangkan hubungan dagang dengan Inggris dimulai sekitar tahun 1700 hingga 1707.
Perdagangan dengan Inggris berakhir ketika terjadi pertikaian politik dagang yang mendesak orang-orang Banjar. Sehingga dengan bantuan Suku Biaju, orang-orang Inggris dapat dimusnahkan baik orangnya maupun seluruh kapal mereka.
Perjalanan dagang Kerajaan Banjarmasin dengan Belanda berjalan dengan sistem yang lebih kompleks, terlebih setelah penandatanganan kontrak politik di tahun 1635.
Di sisi lain Belanda dapat melakukan monopoli dagang dengan Kerajaan Banjarmasin seperti memainkan harga, namun justru kontrak yang ditandatangani itu membuat Belanda lebih merugi.
Hal ini karena isi kontrak mengharuskan Belanda membantu Kerajaan Banjarmasin menaklukan kerajaan-kerajaan lain yang mengakibatkan keuangan mereka terkuras untuk biaya penjagaan dan penyerangan.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi