6 Fakta Unik & Sisi Gelap Hong Kong, Kota Terkaya di Asia

Hong Kong dikenal sebagai kota dengan jumlah gedung pencakar langit terbanyak di dunia. Wilayah ini memiliki lebih dari 7.000 gedung yang masing-masing lebih dari 14 lantai.

Jumlah tersebut jauh melampaui kota-kota besar lain di dunia. Menjadikan Hong Kong sebagai pusat arsitektur vertikal yang sangat padat.

Selain itu, Hong Kong juga merupakan rumah bagi para miliarder kaya di dunia. Banyak pengusaha sukses dan keluarga kaya memilih Hong Kong sebagai tempat tinggal dan pusat bisnis mereka, karena posisi strategisnya sebagai pusat keuangan global dan akses mudah ke pasar Asia, khususnya Tiongkok daratan.

Kota ini menawarkan lingkungan bisnis yang stabil, kebijakan pajak yang menguntungkan, serta infrastruktur kelas dunia yang mendukung kegiatan ekonomi. Namun di sisi lain, banyak masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah di Hong Kong yang menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait dengan tingginya biaya hidup dan harga properti yang sangat mahal di sini.

Banyak dari mereka harus tinggal di ruang sangat sempit, seperti apartemen subdividet yang dibagi menjadi beberapa kamar kecil dalam satu unit karena keterbatasan dana untuk menyewa atau membeli tempat tinggal yang lebih layak.

Kondisi tersebut seringkali membuat kualitas hidup mereka menjadi terbatas dan seringkali penuh dengan tekanan.

Dalam artikel ini kita akan melihat lebih dalam mengenai berbagai aspek kehidupan di Hong Kong, seperti letak geografi, sosial, budaya sejarah dan masih banyak yang lainnya.

Profil Hongkong Kong

Profil Hong Kong

Hongkong secara resmi merupakan daerah administratif khusus Hong Kong dari Republik Rakyat Tiongkok. Status ini dimulai sejak 1 Juli 1997, ketika Inggris secara resmi menyerahkan wilayah Hong Kong kepada Tiongkok setelah lebih dari 150 tahun menjadi koloni.

Penyerahan ini didasarkan pada deklarasi bersama Tiongkok-Inggris yang ditandatangani pada tahun 1984.

Sebagai daerah administratif khusus, Hong Kong berada di bawah kedaulatan Tiongkok tetapi tetap menjalankan sistem hukum ekonomi dan administratifnya sendiri yang berbeda dari daratan Tiongkok.

Sistem ini dijalankan berdasarkan prinsip satu negara dua sistem, yang menjamin bahwa Hong Kong akan mempertahankan otonomi tinggi termasuk kebebasan pers sistem peradilan mandiri dan ekonomi pasar bebas, setidaknya hingga tahun 2047.

Hong Kong terletak di pesisir selatan Tiongkok menghadap laut Tiongkok Selatan. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Provinsi Guangdong di utara dan mencakup sejumlah pulau, teluk serta perairan.

Lokasinya yang strategis membuat Hong Kong menjadi salah satu pelabuhan tersibuk dan pusat perdagangan internasional penting di Asia. Secara geografis Hong Kong terdiri dari 3 bagian utama, yakni Pulau Hongkong, Kowon dan New Territories, termasuk lebih dari 210 kecil di sekitarnya.

Pulau Hong Kong berada di sebelah selatan dan menjadi pusat keuangan serta komersial. Di seberangnya, Kowon terhubung melalui terowongan dan jembatan, sedangkan New Territories membentang ke Utara hingga perbatasan dengan Tiongkok daratan

Hong Kong memiliki luas wilayah sekitar 116 KM persegi, termasuk wilayah kecil jika dibandingkan dengan negara atau wilayah lain. Sebagian besar wilayah Hong Kong berupa pegunungan perbukitan, hutan dan taman alam yang dilindungi.

Karena kondisi geografis seperti itu, hanya sekitar 20% hingga 25% saja dari total wilayah yang dapat digunakan untuk pembangunan kota seperti perumahan, gedung, perkantoran, jalan raya dan fasilitas umum.

Jumlah populasi di Hong Kong saat ini diperkirakan mencapai sekitar 7,5 juta jiwa. Angka ini menjadikan Hongkong sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia.

Mayoritas penduduk Hongkong berasal dari etnis Tionghoa, khususnya sub etnis yang berasal dari provinsi Guangdong di Tiongkok Selatan. Mereka membentuk sekitar 90% lebih dari total populasi.

Selain etnis Tionghoa, terdapat juga kelompok minoritas etnis lainnya yang tinggal di Hong Kong. Kelompok-kelompok ini termasuk warga keturunan India, Pakistan, Nepal, Filipina, Indonesia dan komunitas ekspatriat dari berbagai negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.

Banyak dari mereka datang untuk bekerja di sektor rumah tangga, jasa, perdagangan atau sebagai karyawan perusahaan internasional. Hong Kong memiliki kebebasan beragama yang dijamin oleh hukum dan masyarakatnya menganut berbagai kepercayaan.

Tidak ada agama resmi yang ditetapkan oleh pemerintah. Mayoritas penduduk Hong Kong menganut ajaran tradisional Tionghoa yang merupakan campuran dari Buddhisme, Taoisme dan Konfusianisme. Ketiga ajaran ini sering dipraktikkan secara bersamaan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak selalu dipisahkan secara tegas oleh para penganutnya.

Selain agama tradisional Tionghoa, terdapat pula komunitas Kristen yang cukup besar, baik Katolik maupun Protestan. Kekristenan telah hadir sejak masa kolonial Inggris dan masih memiliki pengaruh kuat terutama di bidang pendidikan dan kesehatan, karena banyak sekolah dan rumah sakit yang didirikan oleh lembaga-lembaga Kristen.

Ada juga komunitas Muslim dan Hindu, meskipun jumlah penganutnya jauh lebih kecil.

Bahasa utama yang paling banyak digunakan di Hong Kong adalah bahasa Kanton, sebuah dialek dari bahasa Tionghoa yang berasal dari wilayah Guangdong. Bahasa ini dipakai dalam kehidupan sehari-hari, di media, sekolah serta komunikasi informal antar warga.

Selain bahasa Kanton, bahasa Inggris juga memiliki peranan penting di Hong Kong karena masa kolonial Inggris yang berlangsung selama lebih dari satu abad, bahasa Inggris menjadi bahasa resmi kedua yang digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, bisnis dan hukum.

Banyak dokumen resmi dan komunikasi formal dilakukan dalam bahasa Inggris, sehingga penduduk yang bekerja di sektor profesional umumnya fasih dalam bahasa ini.

Kehidupan orang-orang di Hong Kong sangat dinamis, cepat dan penuh tekanan. Sebagian besar warga bekerja dalam ritme yang padat dengan jam kerja panjang.

Lebih lanjut, gaya hidup yang terbentuk di kota ini sangat kompetitif, terutama dalam bidang pekerjaan dan pendidikan. Banyak orang dewasa bekerja dari pagi hingga malam, sementara anak-anak mengikuti sekolah dan les tambahan sejak usia dini demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Kontras antara orang kaya dan orang menengah ke bawah di Hong Kong sangat mencolok dan menjadi salah satu ciri paling menonjol dari kehidupan di kota ini. Di satu sisi Hong Kong adalah rumah bagi sejumlah besar miliarder dan pengusaha sukses. mereka tinggal di apartemen mewah bertingkat tinggi dengan pemandangan pelabuhan, memiliki mobil-mobil mewah seperti Rolls Royce atau Tesla.

Kehidupan mereka sangat nyaman dan penuh fasilitas, mulai dari layanan pribadi, klub golf dan pendidikan berkualitas tinggi. Namun di sisi lain, terdapat kelompok besar warga yang hidup dalam kondisi yang jauh dari layar.

Karena harga properti yang sangat tinggi dan keterbatasan ruang, banyak keluarga berpenghasilan rendah harus tinggal di unit-unit kecil dan harus berjuang lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Biaya hidup di Hong Kong termasuk salah satu yang paling tinggi di dunia. Hal ini sangat mempengaruhi kehidupan sebagian besar penduduknya, dari kebutuhan dasar seperti makanan, transportasi, tempat tinggal hingga pendidikan dan layanan kesehatan, semuanya berharga mahal jika dibandingkan dengan banyak kota besar lainnya, bahkan di Asia.

Salah satu beban terbesar datang dari sektor perumahan, banyak warga yang menghabiskan lebih dari separuh penghasilan mereka hanya untuk membayar sewa apartemen kecil.

Apartemen ukuran 20 atau 30 meter persegi bisa disewa dengan harga yang sangat tinggi, bahkan setara apartemen luas di negara lain.

Untuk memiliki properti sendiri hampir mustahil bagi warga berpenghasilan menengah karena harga apartemen bisa mencapai jutaan dolar Hong Kong bahkan untuk kulit kecil di daerah yang jauh dari pusat kota.

Berdasarkan tinjauan langsung inNalar.com apartemen kecil dan yang paling murah di Hong Kong dikenal sebagai permukiman kumuh di atapnya. Tempat-tempat tinggal ini bukan hanya kecil dan sempit, tapi juga sering kali tidak layak huni, dari segi sanitasi, pencahayaan dan keamanan.

Untuk harga sewa apartemen berukuran sekitar 1,5 hingga 2 meter persegi dibanderol dengan kisaran 3.000 hingga 4.000 dolar Hong Kong atau setara dengan 6 atau 8 juta per bulan.

Selain itu harga makanan di Hongkong juga tergolong mahal, terutama jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Asia. Tingginya harga dipengaruhi oleh keterbatasan lahan pertanian sehingga sebagian besar bahan makanan harus impor.

Biaya operasional restoran dan pasar juga tinggi karena harga sewa properti yang begitu mahal. Jika makan di restoran biasa atau pedagang jalanan di pusat kota, satu porsi makanan standar seperti nasi dengan lauk bisa menghabiskan sekitar 80 dolar Hong Kong atau setara dengan Rp 160.000.

Di restoran menengah atau internasional satu kali makan bisa mencapai 300 dolar Hong Kong atau sekitar Rp 600.000, tergantung jenis makanan dan lokasi.

Dalam menghadapi tingginya biaya hidup iniz banyak orang di Hong Kong hidup dalam tekanan dan stress tinggi. Mereka harus bekerja keras seringkali dengan jam kerja panjang dan sedikit waktu luang hanya untuk bisa bertahan hidup.

Tidak jarang satu keluarga harus tinggal dalam satu unit kecil bersama anggota keluarga lain atau menyewa ruang sub divisi. Apartemen yang dibagi menjadi kamar-kamar sangat kecil untuk menghemat biaya.

Dengan kondisi seperti ini, kehidupan di Hong Kong bisa sangat menantang bagi sebagian besar penduduk, terutama mereka yang bukan berasal dari kalangan kaya.

Meskipun kotanya modern, efisien dan terorganisasi dengan baik, tekanan ekonomi yang tinggi menjadikan kehidupan sehari-hari penuh dengan kompromi dan perjuangan.

Terlepas dari hal itu, perekonomian Hong Kong merupakan salah satu yang paling maju dan terbuka di dunia. Kota ini dikenal sebagai pusat keuangan internasional dengan pasar saham yang besar dan beragam, serta menjadi rumah bagi banyak bang global dan perusahaan multinasional.

Sistem ekonomi Hong Kong sangat mengandalkan perdagangan bebas, layanan keuangan dan sektor jasa lainnya. Hong Kong tidak memiliki tarif impor dan menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, sehingga menjadikannya pelabuhan dan pusat logistik yang sangat penting di Asia.

Selain itu, sektor pariwisata juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian, dengan banyak wisatawan yang datang untuk berbelanja berbisnis dan menikmati berbagai atraksi.

Hong Kong memiliki berbagai fasilitas publik yang modern dan terintegrasi untuk menunjang kebutuhan warganya. Sistem transportasi umum di kota ini sangat maju, dengan bus, train, kapal feri dan jaringan kereta bawah tanah cepat yang menjadi penghubung berbagai bagian kota dan pulau-pulau sekitarnya.

Selain itu Hong Kong merupakan salah satu kota dengan jaringan wi-fi publik terluas di dunia. Pemerintah kota ini telah mengembangkan infrastruktur teknologi informasi yang memungkinkan akses internet cepat dan mudah di berbagai tempat umum, seperti taman, pusat perbelanjaan, stasiun transportasi dan area publik lainnya.

Dengan jaringan wi-fi yang luas warga dan pengunjung dapat tetap terhubung secara online tanpa kesulitan, mendukung produktivitas serta kemudahan komunikasi sehari-hari

Sejarah Hongkong

Sejarah Hong Kong Lengkap

Sebelum kedatangan Inggris pada abad ke-19, wilayah yang kini dikenal sebagai Hong Kong merupakan bagian dari kekaisaran Tiongkok khususnya di bawah kekuasaan Dinasti Qing. Wilayah ini terdiri dari desa-desa kecil yang tersebar di Pulau Hong Kong, Semenanjung Kowon dan New Territories.

Masyarakat lokal mayoritas bekerja sebagai nelayan dan petani sederhana yang hidup dari hasil alam dan laut. meskipun letaknya strategis di pesisir selatan Tiongkok, Hong Kong tidak memiliki peran politik atau ekonomi yang signifikan dalam skala nasional saat itu.

Namun letaknya yang menghadap laut Tiongkok Selatan membuatnya menjadi tempat persinggahan yang penting bagi pelaut dan pedagang yang melintasi Asia Timur dan Asia Tenggara.

Meski demikian hingga awal abad ke-19, Hong Kong tetap merupakan daerah terpencil dan relatif tidak berkembang jika dibandingkan dengan pusat-pusat perdagangan besar seperti Guangzhou.

Keadaan ini berubah drastis ketika kepentingan kolonial Inggris mulai masuk dan merambah ke wilayah tersebut, akibat meningkatnya perdagangan dengan Tiongkok.

Masa kolonial Inggris di Hong Kong dimulai pada tahun 1842 setelah berakhirnya perang candu pertama antara Inggris dan dinasti Qing dari Tiongkok. Konflik ini dipicu oleh perselisihan perdagangan, khususnya terkait perdagangan opium oleh pedagang Inggris di Tiongkok.

Kekalahan Qing dalam perang ini memaksa mereka menandatangani perjanjian Nanking, yang menjadi salah satu perjanjian tidak adil atau unequal treaties.

Berdasarkan perjanjian ini, Pulau Hong Kong diserahkan kepada Inggris secara permanen menjadikannya wilayah koloni pertama di kawasan itu.

Pada tahun 1860, setelah perang candu kedua, Inggris memperluas kekuasaannya dengan memperoleh sebagian wilayah melalui perjanjian Beijing.

Kawasan ini berada di sebelah utara Pulau Hong Kong dan strategis untuk pengembangan kota serta pertahanan. Penambahan wilayah tersebut memperkuat posisi Inggris dalam mengelola koloni dan meningkatkan kapasitas perdagangan maupun militer di Asia Timur.

Pada masa perang dunia ke-2, Hong Kong mengalami periode kelam yang dimulai pada tanggal 8 Desember 1941, hanya sehari setelah serangan Jepang ke Pearl Harbor.

Pasukan kekaisaran Jepang menyerang koloni Inggris di Hong Kong dari arah utara, melewati perbatasan dengan wilayah dengan Tiongkok daratan. Meskipun pasukan Inggris, Kanada dan India berusaha mempertahankan wilayah tersebut, mereka kalah jumlah dan perlengkapan.

Setelah pertempuran sengit selama sekitar 18 hari, Hong Kong jatuh ke tangan Jepang pada 25 Desember 1941, hari yang kemudian dikenal sebagai Black Christmas bagi penduduk setempat.

Selama pendudukan Jepang, kehidupan di Hong Kong berubah drastis, pemerintahan militer Jepang menggantikan otoritas kolonial Inggris dan penduduk sipil mengalami penindasan, kelaparan serta kekerasan.

Banyak orang yang dipekerjakan secara paksa, sementara makanan dan sumber daya menjadi sangat langka. Penduduk Tionghoa di Hongkong khususnya menjadi sasaran represi dan berbagai pelanggaran HAM terjadi dalam skala besar.

Kondisi miris ini berakhir ketika Jepang menyerah kepada sekutu pada tahun 1945 menandai berakhirnya perang dunia ke-2, Pada tanggal 30 Agustus 1945, pasukan Inggris kembali ke Hong Kong dan secara resmi mengambil alih kembali pemerintahan.

Setelah perang dunia ke-2, Hong Kong mengalami transformasi besar dari pelabuhan kecil menjadi pusat industri dan keuangan global antara tahun 1950 hingga 1980. Gelombang pengungsi dari Tiongkok membawa modal dan keterampilan yang mendorong pertumbuhan sektor manufaktur seperti tekstil dan elektronik.

Kebijakan ekonomi pasar bebas yang diterapkan pemerintah kolonial Inggris menciptakan iklim usaha yang kondusif, sementara posisi geografis strategis menjadikan Hong Kong pusat perdagangan dan pelayaran penting.

Menjelang akhir tahun 1980, sektor jasa seperti perbankan dan pariwisata turut berkembang, mengukuhkan posisi Hong Kong sebagai salah satu ekonomi paling dinamis di Asia.

Jelang berakhirnya masa sewa New Territories pada tahun 1997, Inggris dan Tiongkok mulai membahas masa depan Hong Kong. Stelah serangkaian negosiasi diplomatik, kedua negara menandatangani deklarasi bersama Sinnob Britania pada 19 Desember 1984.

Dalam perjanjian ini, Inggris setuju untuk menyerahkan kembali seluruh wilayah Hong Kong, termasuk Pulau Hong Kong, Kowon dan New Territories kepada Republik Rakyat Tiongkok.

Sebagai bagian dari kesepakatan ini, Tiongkok menjanjikan bahwa Hong Kong akan menikmati tingkat otonomi yang tinggi di bawah prinsip satu negara dua sistem. Artinya meskipun Hong Kong menjadi bagian dari Tiongkok, ia tetap mempertahankan sistem hukum, ekonomi dan politiknya sendiri yang berbeda dari daratan Tiongkok selama 50 tahun ke depan yaitu hingga tahun 2047.

Deklarasi ini ditandatangani dan didaftarkan di PBB sebagai perjanjian internasional yang mengikat.

Pada satu Juli 1997, penyerahan resmi Hong Kong dari Inggris kepada Tiongkok dilaksanakan dalam sebuah upacara kenegaraan yang dihadiri oleh pemimpin kedua negara. Momentum ini menandai berakhirnya lebih dari 150 tahun kekuasaan kolonial Inggris dan dimulainya era baru di bawah kedaulatan Tiongkok.

Hongkong secara resmi menjadi daerah administratif khusus dari Republik rakyat Tiongkok.

Untuk mengenal lebih lanjut tentang Hongkong berikut ini adalah 6 fakta menarik tentang Hongkong.

6 Fakta Menarik Hong Kong

6 fakta menarik tentang Hong Kong

1. 80% Wilayah Tidak Layak Huni

Hong Kong memiliki luas wilayah 1100 km2, tetapi hanya sekitar 20% dari lahan tersebut yang benar-benar digunakan untuk perumahan, perkantoran, jalan dan bangunan lainnya. Sebagian besar wilayah Hong Kong terdiri dari pegunungan, hutan, taman nasional dan kawasan lindung banyak dari daerah ini tidak bisa atau tidak boleh dibangun karena alasan lingkungan atau karena kontur tanahnya yang terlalu curam.

Selain itu, ada juga kebijakan pemerintah yang menjaga area-area tertentu agar tetap alami dan hijau, karena lahan yang bisa dibangun sangat terbatas sebagian besar penduduk Hongkl Kong tinggal di gedung-gedung tinggi dan di area yang sangat padat.

2. Tradisi Unik Perayaan Ultah

Penduduk Hong Kong memiliki tradisi unik dalam merayakan ulang tahun (HUT), salah satunya adalah kebiasaan memakan mie panjang. Mereka percaya bahwa memakan mie melambangkan umur panjang dan keberuntungan.

Oleh karena itu, pada hari ulang tahun, makan mie bukan hanya sekadar hidangan tetapi juga sebuah simbol harapan agar hidup lebih panjang dan diberkahi.

3. Pendidikan Gratis

Sistem pemerintahan Hongkong menjamin pendidikan gratis bagi semua siswa hingga usia 12 tahun, yang mencakup tingkat sekolah dasar.

Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan setiap anak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan dasar tanpa hambatan biaya. Dengan menyediakan pendidikan gratis, pemerintah ingin mendorong pemerataan kesempatan belajar dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Pendidikan gratis ini mencakup biaya sekolah, buku pelajaran dan beberapa fasilitas pendukung lainnya sehingga keluarga tidak terbebani oleh pengeluaran untuk pendidikan dasar anak-anak mereka.

Selain itu, sistem pendidikan di Hongkong dikenal memiliki standar yang tinggi dan kurikulum yang komprehensif, yang turut membantu membangun pondasi akademis dan karakter siswa sejak usia dini.

4. Dimsum Jadi Hidangan Populer

Dimsum adalah hidangan kecil yang sangat populer dan dikenal luas di seluruh dunia yang berasal dari Hong Kong.

Asal usulnya sangat erat kaitannya dengan budaya kuliner Hong Kong. dimsum sebenarnya berasal dari tradisi makan ringan di wilayah Guangdong, yang telah mengembangkan dan mempopulerkannya secara internasional.

Dimsum biasanya disajikan dalam suasana restoran teh, di mana orang-orang berkumpul untuk menikmati berbagai jenis hidangan kecil seperti pangsit siomay, bakpao dan kue-kue kukus sambil minum teh.

5. Rentan Badai Tropis

Karena letaknya di wilayah pesisir Asia Timur, Hong Kong rentan terhadap musim badai tropis.

Kota ini sering dilanda topan terutama antara bulan Mei hingga November. Topan-topan ini membawa angin kencang dan hujan deras yang dapat menyebabkan banjir, kerusakan properti serta gangguan aktivitas sehari-hari.

Karena letaknya yang strategis di pesisir Laut Cina Selatan Hong Kong menjadi salah satu kota yang paling sering terkena dampak langsung dari badai tropis.

6. Kota Terkaya di Dunia

Hong Kong termasuk salah satu kota terkaya di dunia dengan tingkat kekayaan per kapita yang sangat tinggi.

Hal ini tercermin dari gaya hidup mewah yang dijalani oleh sebagian besar penduduknya, terutama kalangan elit dan pengusaha sukses.

Salah satu indikator kemewahan tersebut adalah banyaknya mobil mewah yang beredar di kota ini.

Fakta menarik tentang Hongkong adalah kota ini memiliki jumlah Rolls Royce per orang yang lebih banyak dibandingkan dengan wilayah lain di dunia.

Rekomendasi